Mengapa Umat Islam Mundur ?

Satu waktu dipermulaan abad dua puluh seorang ulama dari Borneo, Muhammad Basyuni ‘Imran [dalam edisi Inggris, Muhammad Bisyooni 'Umran] berkirim surat kepada Rasyid Ridha yang memintanya untuk meneruskan dua buah pertanyaan agar dijawab oleh sang pangeran kefasihan (prince of eloquence) Amir Syakib Arsalan. Pertanyaan pertama, mengapa kaum muslimin mengalami kelemahan dan kemunduran yang merata di seluruh dunia, baik dalam urusan agama maupun dunia. Pertanyaan kedua, apakah yang menyebabkan kemajuan bangsa Eropa, Amerika dan Jepang ? Apakah dimungkinkan bagi kita, kaum muslimin, untuk juga maju dan pada saat yang sama tetap komitmen dengan agama mereka ?

Maka lahirlah, kemudian, buku Limadza Ta-akhharal Muslimuna Wa Taqaddama Ghairuhum ?, Mengapa Kaum Muslim Mundur dan Yang Lainnya Maju ?. Buku ini kemudian menjadi sangat terkenal di dunia islam. Mengapa begitu terkenal ? Karena kompetensi dan terkenalnya sang penulis [Amir Syakib Arsalan], juga karena pertanyaan [tema] yang coba dijawabnya, dan jaringan majalah Al Manar yang dikelola oleh Rasyid Ridha. Dalam bahasa Indonesia terjemahan buku ini diterbitkan tahun 1954 oleh K.H. Munawwar Chalil, dengan beberapa tema [bab] tambahan yang disisipkannya.

Fenomena Dunia Islam
Kemunduran umat Islam adalah gejala yang merata di seluruh dunia Islam. Perbedaannya hanya pada derajat saja. Mengapa umat islam mundur ? Untuk menjawab pertanyaan ini perlulah diketahui terlebih dahulu apa yang menyebabkan majunya umat Islam di kurun awal. Syakib Arsalan menyatakan faktor keagamaan, Islam, menjadi faktor pendorong utama kemajuan bangsa arab dahulu. Bagaimana faktor Islam ini dioperasionalkan, kata kuncinya terletak pada iman [keyakinan] dan amal [aksi], yang tidak terpisahkan dalam islam. Hal ini menuntut pada umat untuk memenuhi kualifikasi yang menuntutnya ke gelanggang perjuangan, jihad. Karakter yang tidak mencukupkan identitas keislaman pada atribusi atau sekadar pada nama atau aktifitas kesalehan pribadi semata-mata.

Kontras terhadap karakter pejuang, jihad pendahulunya umat islam saat ini [awal abad kedua puluh] kehilangan gairah, semangat dan kesetiaan terhadap keimanannya. Hal ini digambarkan oleh Syakib Arsalan dalam beberapa fenomena berikut :

  1. Rendahnya semangat untuk memberi dan berkorban. Syakib Arsalan menggambarkan betapa pengorbanan yang diberikan oleh orang-orang Barat untuk membela negeri mereka, sebagaimana terjadi dalam perang dunia I. Jutaan orang tewas. Demikian pula dengan pengorbanan harta, jutaan dolar hilang untuk membela kepentingan bangsa mereka. Syakib Arsalan mengkontraskan itu semua dengan pengorbanan yang diberikan oleh umat Islam untuk membela negeri mereka, saudara mereka.
  2. Pengkhianatan para elite. Perjuangan umat islam dalam menghadapi bangsa penjajah seringkali mentah atau gagal atau terintangi karena pengkhianatan elite mereka dalam perjuangan, baik elite kepemimpinan maupun elite intelektual, ulama.

Mengapa Umat Islam Mundur ?
Berdasarkan fenomena-fenomena di atas Syakib Arsalan mencatat beberapa penyebab kemunduran umat Islam.

  1. Kebodohan. Bukan cuma kebodohan yang sesungguhnya, tetapi juga pengetahuan setengah-setengah yang dimiliki oleh beberapa kalangan umat. Bahkan pengetahuan setengah-setengah lebih berbahaya dari kebodohan.
  2. Karakter [akhlaq], moralitas yang rendah. Kemajuan memiliki akhlaq atau karakter yang mendukungnya semisal, keberanian, keteguhan, kesabaran [determinasi diri], mengembangkan kapasitas intelektual.
  3. Degradasi yang menginfeksi para elite, penguasa. Sikap despotik, menganggap rakyat sebagai makhluk yang diciptakan bagi mereka, sewenang-wenang.
  4. Rasa takut, pengecut dan rendah diri, perasaan tidak berdaya, sekedar menjadi objek tertuduh [victims].


Responsi Umat Islam Terhadap Kemajuan Barat

Syakib Arsalan kemudian memetakan dua responsi ekstrem yang diberikan oleh sebagian kalangan umat Islam dalam menyikapi kemajuan Barat. Profil pertama adalah mereka yang ultra-modern, zaahid [ingkar-pembantah], yang mengingkari sejarah dan identitas kultural mereka, yang ingin mengesampingkan agama dari kehidupan sosial dan kemajuan, yang ingin melikuidasi agama dari kehidupan sosial politik, yang ingin membangun wilayah itu menjadi wilayah netral agama. Profil kedua adalah  mereka yang menganut konservatisme ekstrem [jamid, enggan berubah], yang menolak ilmu pengetahuan semata-mata karena ia adalah produk orang kafir, yang bersikap fatalistik, yang menutup diri dan mencukupkan dengan warisan tradisi semata-mata.

Kedua profil diatas membawa sikap yang tidak tepat. Syakib Arsalan membantah sikap pertama dengan mengajak mereka untuk memikirkan lebih dalam fenomena sejarah bangsa-bangsa yang maju adakah mereka melepaskan identitas religius [keagamaan] dan kultural mereka. Eropa [dengan negara-bangsa yang beraneka], Jepang justru menegaskan dan memelihara identitas keagamaan dan kultural mereka. Untuk membantah sikap kedua, Syakib Arsalan mengutip ayat-ayat yang mengajak untuk optimis, bekerja, dan menghilangkan sikap fatalistik dalam kehidupan. Ia juga mengingatkan sikap konservatisme ekstrem akan memuluskan para penjajah untuk menduduki negeri mereka.

Apakah Mungkin Umat Islam Maju Sekaligus Bertahan Dalam Islam ?
Syakib Arsalan mengafirmasi secara positif kemungkinan ini. Jepang bisa menjadi pelajaran. Islam sendiri mampu memberikan dorongan dan motivasi internal untuk meraih kemajuan, sebagaimana dulu ia pernah meraih kejayaan. Bagaimana memulainya ? Atau darimana memulai langkah menuju kemajuan itu ? Syakib Arsalan menjawab terletak pada semangat untuk memberi dan berkorban. Ini adalah akar awal untuk memulai, yang mungkin agak mengejutkan; mengapa bukan dimulai dari meraih ilmu pengetahuan modern terlebih dahulu.

Rujukan
Mengapa Kaum Muslim Mundur. Al Amir Syakib Arsalan. Penerbit Bulan Bintang, 1992 [cet 1. 1954].
Our Decline, Its Causes and Remidies. Amir Shakib Arsalan. Islamic Book Trust, Kuala Lumpur. 2005.

Psikologi Perubahan [Pribadi dan Sosial], Pemikiran Malik Badri [2]

Faktor Motivasi/Dorongan Keagamaan Dalam Perubahan Sosial

Malik Badri melakukan studi kasus mengenai prestasi pemantangan terhadap alkohol pada masa Nabi. Ketika itu diriwayatkan khamr mengalir di Madinah. Prestasi ini adalah prestasi besar yang efeknya terasa sampai sekarang. Khamr secara syar’i adalah haram, tetapi lebih dari itu efek sosial dari keharamannya tetap berpengaruh hingga saat ini, di mana dunia Islam saat ini memiliki problem alkoholisme dalam masyarakatnya.

Berhasilnya pemantangan alkohol di Madinah merupakan sebuah contoh proses perubahan sosial. Adalah penting untuk mencari penyebab dari perubahan itu. Ilmu sosial modern barangkali bisa memberikan banyak sekalai analisis, karena menurutnya tidak ada sebab tunggal dari sebuah perubahan sosial. Tetapi kita bisa menyatakan bahwa sebab utama dari perubahan sosial itu adalah islam. Dorongan kegamaan atau motivasi keagamaan menjadi faktor penting untuk perubahan sosial itu. Mengatakan islam sebagai penyebab perubahan tidak berarti kita mengatakannya sebagai sebab tunggal, tetapi karena islam sendiri serba mencakup sisi-sisinya dalam transformasi masyarakat ketika itu.

Untuk memahami proses transformasi sosial itu perlu dipahami karakteristik masyarakat arab jahiliyah. Masyarakat jahiliyah ketika itu adalah masyarakat kesukuan, dengan fanatisme kesukuan yang sangat besar. Moralitas dasar yang mengatur ketika itu adalah pengejaran terhadap rasa bangga kesukuan. Isyarat remeh yang merendahkan individu atau kebanggaan suku bisa membuat pertikaian yang berpuluhan tahun. Sesuatu yang positif, menguatkan kebanggaan suku, akan dijunjung tinggi bahkan berlebihan. Kehidupan kesukuan yang saling mengejar kebanggaan ketika itu membuat rasa tidak aman sosial menjadi tinggi. Kesiapan berperang dipentingkan. Anak laki-laki menjadi andalan, besar dengan kedinginan ayah dan obsesi untuk lekas besar. Anak perempuan jadi tidak berharga bahkan banyak yang dibunuh. Nasib anak laki-laki dan perempuan ini menyisakan trauma psikologis bagi kaum ibu. Struktur keluarga goyah. Pergaulan bebas dan prostitusi hal yang umum ditemui. Masyarakat arab jahiliyah juga memiliki sisi romantisme yang tampak pada syair-syair yang mereka hasilkan. Kemampuan syair adalah kebanggaan. Syair juga bisa menjadi alat untuk menjatuhkan prestise lawan. Syair bisa sangat mematikan bagi individu dan menjadi aib yang melekat bagi sebuah suku. Situasi sosial seperti ini menjadi kondisi optimal bagi tumbuhnya pecandu alkohol. Dan sejarah juga mencatat betapa lekatnya alkohol dalam kehidupan masyarakat jahiliyah ketika itu.

Berdasarkan deskripsi di atas bisa kita memahami bahwa transformasi yang dilakukan islam terhadap masyarakat arab jahiliyah menjadi masyarakat muslim kemudian bukanlah transformasi yang satu sisi, tetapi transformasi menyeluruh. Malik Badri memberikan beberapa analisis terkait dengan peranan islam dalam transformasi masyarakat di atas.

  1. Proses pelarangan secara gradual dan Hambatan Timbal-Balik Kultural (Cultural Reciprocal Inhibition).
    • Proses pelarangan khamr tidak dilakukan secara tiba-tiba. Ada tahapan-tahapan tertentu, proses gradual. Pada awalnya sekedar melakukan sentuhan lembut terhadap masalah khamr di Makkah, kemudian masuk ke tahap afirmasi adanya dosa dan manfaat pada khamr tetapi dosanya lebih banyak ketimbang manfaatnya. Setelah itu masuk tahap pelarangan meminum khamr ketika hendak sholat. Pada puncaknya pelarangan terhadap khamr sebagaimana tercatat dalam surat 5 : 9-10. Proses gradual ini melalui waktu bertahun-tahun, seiring turunnya wahyu.
    • Malik Badri mengembangkan konsep Cultural Reciprocal Inhibition (Hambatan Timbal Balik Kultural), pengembangan lanjut dari teknik terapi reciprocal inhibition, untuk memahami hikmah gradualitas pelarangan khamr. Jika dalam terapi individual terapi reciprocal inhibition dilakukan dengan [pada kasus kecanduan alkohol misalnya] menyuntikkan zat atau sengatan listrik yang menimbulkan mual, sakit kepala saat timbul keinginannya untuk mengonsumsi alkohol. Maka dalam cultural reciprocal inhibition kita bisa membangun analogi serupa untuk transformasi sosial. Analogi yang diberikan oleh Malik Badri adalah sebuah masyarakat (yang terbelakang) mungkin saja menolak nilai-nilai budaya dari peradaban lain, tetapi tidak menolak sisi teknologinya. Seiring dengan penggunaan teknologi itu terciptalah santai semacam terhipnotis secara sosial tanpa perlawanan frontal; tetapi lama kelamaan dosis nilai atau sikap kultural yang dibawa oleh teknologi itu semakin meningkat sehingga terjadilah perubahan kultural dalam masyarakat itu. Demikian pula yang terjadi dengan tahapan-tahapan proses pelarangan khamr, melalui tahapan-tahapan itu resistensi sosial atau ketegangan individu-individu diadaptasikan secara perlahan, sisi-sisi sosial ekonomi diberikan waktu untuk adaptasi dan perubahan, hambatan-hambatan sosial dimunculkan tanpa membuat shock bagi pecandu khamr baru kemudian memuncak pada pelarangannya.
  2. Faktor motivasi intrinsik berupa motivasi keagamaan (yaitu Islam) menjadi faktor utama. Islam pada awalnya tidak menyentuh sisi pelarangan khamr, tetapi pada basis kepercayaan dan nilai masyarakat pagan arab. Penerimaan terhadap Islam membentuk transformasi sosial terhadap masyarakat. Nilai, keyakinan baru merubah internal individ, struktur keluarga dan masyarakatnya.
  3. Persuasi sosial sebuah larangan juga terait erat dengan kohesi masyarakat baru yang terbentuk. Faktor kepemimpinan Rasulullah sangat penting dalam kohesi sosial baru itu. Proses penjagaan terhadap sebuh keputusan (larangan) juga dilembagakan; termasuk dalam hal ini peran yang dimainkan oleh ibadah-ibadah yang disyari’atkan Islam.

Psikologi Perubahan [Pribadi dan Sosial], Pemikiran Malik Badri

Malik Badri dikenal sebagai psikolog yang mempelopori islamisasi psikologi. Bukunya Dilema Psikolog Muslim barangkali sudah menjadi klasik, rujukan awal untuk islamisasi psikologi. Terkait dengan konsep perubahan sosial kita dapat menenukan pemikirannya dalam beberap bukunya. Level perubahan yang akan dibahas berikut adalah perubahan pada level individu dan perubahan pada level sosial. Perubahan pada level individu ini mengacu pada bukunya Tafakur [Fiqh Tafakur] sedangkan perubahan pada level sosial mengacu pada bukunya Islam dan Alkoholisme.

Basis Kognitif Untuk Perubahan Pada Level Individu
Perilaku manusia dipengaruhi secara kuat oleh elemen kognitif dirinya. Elemen kognitif utama adalah berpikir. Sehingga perubahan perilaku individu mesti bermula dari perubahan elemen kognitifnya, yaitu cara berpikirnya. Sebenarnya jauh sebelum para psikolog kognitif modern menemukan relasi ini, para ulama islam dahulu sudah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap relasi antara unsur kognitif dengan perilaku [sebagaimana dipaparkan oleh Ibnul Qayyim]. Demikian pula jauh sebelum psikoterapis menerapkan relasi unsur kognitif dengan perilaku dalam praktek terapi mereka, seperti dalam teknik reciprocal inhibition [terapi dengan menerapkan lawan dari yang diderita oleh klien secara bertahap], para ulama Islam dulu juga memberi perhatian untuk teknik yang setara sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ghazali.

Tentu saja kita tidak sekedar membangun apologi, bahwa Islam atau umat Islam sudah mengatakan isu-isu modern sebelum pakar modern membicarakannya, tetapi ini bisa memberikan kita basis perspektif yang lebih reflektif terhadap isu-isu ini. Malik Badri mengutip paparan Ibnul Qayyim untuk mendeskripsikan relasi unsur kognitif dengan perilaku. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa dasar dari setiap perilaku sadar adalah berbagai pikiran dan niat yang melintas. Urutan prosesnya dapat digambarkan dalam skema berikut : dorongan/lintasan niat [khawathir] — dorongan/lintasan pikiran [fikrah] — syahwat/keinginan — azimah/kemauan kuat — perbuatan ['amal]– kebiasaan['adah].

Dari penjelasan di atas dapatlah kita pahami hikmah dari banyaknya ajakan Qur’an untuk mengajak manusia menggunakan akal, mendayakan pikiran dan merenungkan ayat-ayat Allah yang ditebarkan pada semesta raya, dalam diri manusia sendiri atau yang tertulis dalam Al Qur’an. Apalagi berpikir secara tepat dalam pandangan islam bernilai ibadah. Berpikir yang merupakan ibadah ini kita kenal dengan sebutan tafakur.

Untuk mengoperasionalkan proses berpikir agar memberikan hasil yang tepat, sesuai dengan nilai ibadah yang dikandungnya dalam kerangka Islam, Malik Badri mengelaborasi lebih jauh konsep tafakur (kontemplasi) ini. Ia menekankan proses tafakur ini bermula dari musyahadah hingga mencapai syuhud. Selanjutnya tahapan-tahapan itu dapat kita petakan sebagai berikut :

  1. Tahap musyahadah, mendayagunakan persepsi empiris secara langsung [idrak hissi mubasyir] untuk memikirkan alam
  2. Tahap  tadzwuq[rasa kagum, inbihar] terhadap kerapian, keteraturan dan keindahan alam
  3. Tahap  muraqabah, menghubungkan keindahan, kerapian semesta ini kepada Allah pencipta-Nya
  4. Tahap syuhud, tafakur yang berkelanjutan sehingga objek-objek yang tampak remeh pun memicu tafakur mendalam yang menunjukkan keagungan Allah

Mungkinkah Kartini Berjilbab : Refleksi Kartini Tentang Islam

Waktu SMA dulu pernah terbaca dalam sebuah buku atau brosur bahwa pada fase-fase akhir kehidupannya Kartini mulai akrab dengan Al Quran lewat pengajian yang diberikan oleh seorang kiai, Kiai Soleh Darat, yang menerjemahkan Al Quran ke dalam bahasa Jawa. Sampai kemudian ia mendengarkan ungkapan dalam surat An Nur, yang memuat ungkapan minazhulumati ilan nur; yang barangkali mengilhami ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang. Barangkali kalau ia melanjutkan pengajiannya itu ia akan sampai pada ayat mengenai jilbab, bukan mustahil dia akan berjilbab.

Tentu saja ini hanya spekulasi saja. Keterangan mengenai pengajiannya dengan Kiai Soleh Darat barangkali perlu diteliti lebih lanjut [Adakah keterangan tambahan mengenai ini ?]. Dan ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang dalam suratnya bukanlah diinspirasikan oleh ungkapan minazhulumati ilan nur, tetapi puisi yang didengarnya dari “seorang tua”, yang mengajarinya untuk hidup asketik dengan berkekurangan, menderita dan tafakur sehingga tercapailah nur cahaya; tidak ada cahaya yang tidak didahului oleh gelap. “Habis malam terbitlah cahaya, Habis topan datanglah reda, Habis juang datanglah mulia, Habis duka datanglah suka.”

Bagaimana pandangan Kartini terhadap Islam ? Pandangan Kartini terhadap Islam tidak terlepas dari pengalaman keagamaannya di masa itu dan juga pengaruh pendidikan baratnya. Praktek keagamaan yang penuh takhayul, formalitas dan menindas mempengaruhi antipatinya terhadap praktek-praktek keagamaan Islam ketika itu. Interaksinya dengan pemikiran Barat melalui bacaan dan korespodensinya dengan sahabat penanya yang umumnya beragama Kristen [bahkan sebagiannya adalah zending atau misionaris] mempengaruhi faham metafisik dan etis atas agama.

Kartini menyadari bahwa keislamannya adalah warisan. Kritisme pemikirannya kemudian membuatnya mempertanyakan banyak aspek praktek keberagamaan Islam yang sebagiannya dirasa menindas. Larangan untuk menerjemahkan Al Quran yang menjadikan banyak aspek praktek Islam menjadi tidak terpahami dan praktek poligami yang dirujukkan kepada syariat sering diungkap Kartini secara kritis. “Aku tidak mau” katanya kepada poligami. Bagaimana mencintai agama jika tidak mengenalnya; Qur’an tidak boleh diterjemahkan; ungkapannya yang lain.

Pada tahap terntu kehidupannya ia bahkan menolak untuk melaksanakan lagi puasa atau mengaji yang tak dapat dipahaminya. Apakah ia juga menolak untuk melakukan sholat ? [Belum ditemui ungkapan yang mengisyaratkan ini, walaupun bagi kaum priayi atau bangsawan Jawa ketika itu ini seringkali ditemui].

Pendidikan dan interaksinya [melalui korespodensi maupun melalui pertemuan langsung] membawanya pada perspektif tertentu tentang agama. Baginya kemudian agama pada dasarnya menuju pada kebaikan. Ide mengenai cinta kepada sesama, yang dipengaruhi oleh Kristianitas sering diungkapkannya. Demikian juga atribusi Bapak kepada Allah (seperti dalam Trinitas) sering muncul dalam tulisan-tulisannya. Perjumpaannya dengan Tuhan dialaminya melalui diri sendiri, melalui “tugas manusia adalah menjadi manusia”. Jalan kepada Allah dan jalan kepada kebebasan adalah sama. Tiada Tuhan kecuali Allah ! Kata kami umat Islam dan bersama kami semua yang beriman menerima Allah itu Tuhan, Pencipta alam semesta. Inti semua agama adalah kebaikan. Demikianlah sebagian ungkapannya, pada masa ini.

Sebagian orang menyebut posisinya ini sebagai posisi humanis dalam kehidupan beragama. Apakah kemudian Kartini jatuh kepada pluralisme agama yang memandang semua agama adalah sama. Pada bagian-bagian tertentu beberapa tendensi seperti itu bisa dibaca dalam surat-suratnya, tetapi ia pun memiliki aspek keyakinan kepada agamanya [Islam].

Barangkali ada upaya dari sebagian teman korespondensinya untuk mengajaknya memeluk Kristen. Tetapi ia menegaskan, “Yakinlah nyonya, bahwa kami selalu memeluk agama kami yang sekarang.”[Islam]. Ia juga sering mengkritik kegiatan zending dan misionaris yang membawa misi mengubah keyakinan agama seseorang dalam praktek-praktek kemanusiaan yang sering dilakukan di Jawa ketika itu.

Tahap-tahap akhir kehidupannya memberinya perspektif baru kepada agama. Ini barangkali terkait dengan takdir yang harus dialaminya. Kandasnya cita-citanya sekolah kembali ke negeri Belanda, penerimaanya terhadap lamaran Bupati Rembang [penerimaanya terhadap praktek poligami yang selama ini ditentangnya], mempengaruhi kesadaran keagaamaanya. Pada puncaknya ia minta diijinkan untuk menggunakan gelar tertinggi yaitu sebagai “Hamba Allah.”

Hidup Yang Tak Diperiksa Tak Layak Dijalani

“The unexamined life is not worth living”. [Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani].

Itu adalah ungkapan Socrates. Ungkapan itu diucapkannya dalam pidato pembelaanya di pengadilan [Apologi]. Dalam pidatonya itu dia menjawab jika diandaikan ia diberikan kebebasan tetapi dengan catatan tidak boleh melakukan lagi kebiasaannya yang selalu bertanya-tanya kepada setiap orang tetang keutamaan. Hidup yang tak diperiksa tak layak dijalani, ungkapnya.

Untuk apa memeriksa hidup ? Ini terkait dengan beda mengira tahu dengan tahu. Klaim bahwa kita mengetahui mengenai banyak hal padahal sesungguhnya kita tidak mengetahuinya atau dangkal saja pengetahuan kita. Socrates mengatakan bahwa mereka yang arif adalah mereka yang tahu bahwa mereka [pada hakekatnya] tidak [terlalu] tahu.

Bagaimana memeriksa hidup ? Bertanya. Alat utama memeriksa hidup adalah dengan bertanya. Bertanya memberi kesempatan kepada kita untuk berefleksi. Bertanya berarti berdialog dengan orang lain atau dengan diri sendiri. Socrates mengibaratkan perannya sebagai seorang penanya seperti seekor serangga yang menyengat seekor kuda yang lambat jalannya; dengan demikian menjadi dinamislah kuda itu.

Apakah selalu ada jawaban [pasti] untuk setiap pertanyaan ? Tidak selalu. Kadangkala yang kita butuhkan memang sekadar bertanya dengan demikian memeriksa. Dengan bertanya kita membuka wawasan. Sehingga kita memahami konteks apa yang kita kerjakan (laku hidup kita). Kadangkala yang kita butuhkan bukanlah jawaban yang tepat tetapi adalah pertanyaan yang tepat, setidaknya demikian menurut Drucker.

Riak-Riak Pikiran

Setiap kita tentu punya harapan. Apa yang kini kita jalani, apa yang saat ini kita nikmati dengan tenang, menggembirakan dan membahagiakan kita berharap tetap berjalan sebagaimana sekarang pada esok hari, pekan depan, bulan depan, tahun depan…di masa-masa mendatang. Harapan kita, semua berjalan normal, artinya tidak ada gangguan yang menggoyahkan hidup kita…tidak ada kejadian yang membuat kita penuh nestapa…tidak ada peristiwa yang melarutkan kita dalam kesedihan. Demikianlah harapan akan ‘normalitas kejadian’ (tentu saja subjektif bagi perasaan kita) membingkai pikiran-pikiran kita.

Tetapi… inilah kehidupan. Pikiran kita selalu berputar. Yang masuk ke dalam ‘mesin’ pikiran kita bukan hanya pikiran-pikiran besar, tetapi juga pikiran-pikiran kecil yang kadangkala masih berwujud dugaan yang belum terbukti validitasnya. Informasi yang membombandir akal kita bukan hanya informasi yang menggembirakan tetapi kadangkala juga yang menyedihkan. Bukan cuma sesuatu yang penting tetapi juga yang remeh. Kejadian dan peristiwa kadangkala menggoyang ‘normalitas kejadian’ yang jadi harapan kita. Sampai kemudian dugaan-dugaan yang belum valid, informasi-informasi yang sepintas menyedihkan menggoyahkan pribadi kita. Dan tiba-tiba, pikiran kita jadi kalut, wajah jadi cemberut, senyum susah untuk muncul, gairah untuk bekerja jadi luntur, kegembiraan pun berubah menjadi kesedihan. Riak-riak kecil arus kejadian bisa menggoyahkan kapal besar hidup pribadi kita.

Ambillah kejadian berita gaji kita yang tidak naik, lamaran kerja yang ditolak, informasi negatif mengenai seseorang yang kita kasihi, kekecewaan yang ditimbulkan oleh sahabat yang mengingkari janji, kata-kata negatif yang mampir di dalam hati kita dari lisan mereka yang suka mengkritik (entah penampilan kita, pikiran kita atau emosi kita). Dan banyak lagi…

Ya… benarlah Ibn Qayyim yang mengungkapkan….”Pikiran kita ibarat mesin penggilingan …gandum atau kerikil yang dimasukkan ia tetap akan digiling…tentu saja dengan hasil yang berbeda.” Setiap prilaku, sikap yang memberikan efek bahagia tidaknya pada pribadi kita amat bergantung pada lintasan pikiran yang kita pupuk dalam hati/akal kita.

Apakah lintasan-lintasan pikiran, informasi, dugaan, kejadian dan peristiwa itu mampu menggoyahkan kekukuhan pribadi kita, menggoyang orientasi dan visi hidup kita, atau merubah citra diri kita… mungkin sangat bergantung dengan cara bagaimana kita mengolah lintasan pikiran itu dalam wadah hati dan akal kita. Itulah barangkali kita perlu selalu husnuzhon, selalu bersyukur dengan nikmat-nikmat kecil yang kita rasakan, berpikir positif dan selalu terbuka untuk kebenaran yang mungkin dirasa pahit.

— Tuhan, ilhamkan kelurusan dalam jiwaku dan hindarkan aku dari keburukan jiwaku —

[Posting ulang dari tulisan januari 2005]

Memancing Lintasan Pikiran

Masalah yang sering diingatkan oleh mentor saya di Rohis waktu SMA dulu, sebuah nasehat yang sering juga terdengar disampaikan dalam khutbah-khutbah jum’at, adalah nasehat untuk istiqamah. Istiqamah dalam keimanan, juga istiqamah dalam dakwah. Istiqamah identik dengan bersikap sabar. Dalam arti menahan diri. Menurut satu buku yang pernah saya baca, akar kata sabar memang berarti menahan. Dalam makna ini akar kata sabar digunakan untuk menggambarkan seekor kuda yang ditarik tali kekangnya untuk menghentikan atau menahannya dari berlari.

Dalam kata istiqamah atau sabar di atas, tersirat juga makna perjuangan. Maksudnya untuk bisa istiqamah atau sabar dibutuhkan usaha. Karena ia tidak hadir dengan sendirinya. Ada kesadaran, ada pengetahuan, ada pilihan dan ada usaha. Padanya ada tingkat kesulitan tertentu. Maksudnya bersabar atau mempertahankan keistiqamahan tidaklah mudah untuk dikerjakan. Barangkali itulah sebabnya perintah bersabar dan istiqamah banyak kita dapati dalam nasehat-nasehat.

Kenyataan ini bertemu dengan kondisi psikologis kita (manusia) yang memiliki hati yang mudah berbolak-balik. Pada jiwa manusia diberikan ilham untuk mengerjakan ketaqwaan atau kedurhakaan. Jiwa manusia pada dasarnya suka sekali kepada yang serba cepat, instan, serba tergesa-gesa. Oleh karenanya nasehat untuk istiqamah pada konteks ini juga menemukan relevansinya.

Bagaimana ketergelinciran dari jalan istiqamah bermula ? Nasehat Ibnul Qayyim Al Jauziah dalam beberapa bukunya berikut rasanya penting untuk kita refleksikan. Menurut Ibnul Qayyim kita bisa menelusuri alur munculnya sebuah kemaksiatan dari urut-urutan berikut. Bermula dari lintasan pikiran atau lintasan hati; jika tidak kita kendalikan atau jika lintasan-lintasan pikiran yang buruk kita biarkan atau justru kita pupuk maka ia akan menguat menjadi keinginan, keinginan buruk yang kita tidak patahkan bisa menguat menjadi azam (tekad, kemauan kuat); tekad yang terus terpupuk akan memunculkan perbuatan; dan pada puncaknya perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan. Ibnul Qayyim menyatakan merubah kebiasaan lebih sulit daripada merubah perbuatan awal, perbuatan lebih sulit dirubah dibanding kemauan. Sehingga titik awal perubahan adalah pada pengendalian lintasan pikiran. Beginilah basis psikologis sebuah kemaksiatan muncul. Tetapi skema ini juga bisa diberlakukan pada konteks memupuk kebiasaan baik atau merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik.

Jadi semua bermula dari lintasan pikiran. Lintasan pikiran ada kalanya baik, ada kalanya buruk. Seorang ulama, Ibnul Jauzi (ini orang yang berbeda dengan Ibnul Qayyim Al Jauziah), mengarang satu buku yang diberi judul Shoidul Khatir. Arti judul itu (menurut ustadz Warsito) adalah Memancing Lintasan Pikiran. Jadi kita juga bisa secara kreatif memancing lintasan pikiran untuk mendapatkan pikiran-pikiran yang baik untuk kita kembangkan.