[Studi Quran] Interaksi Dengan Al Qur’an Bagi Orang Awam (2)

Melanjutkan posting sebelumnya.

Bentuk interaksi selanjutnya yang perlu kita bangun terhadap Al Qur’an adalah dengan melakukan studi dan pemahaman.

(Studi dan Pemahaman)

Apakah penting bagi kita untuk memahami ?  Khurram Murad menjelaskan keberkahan dan kekayaan Quran semakin utuh didapatkan jika kita memahaminya. Quran datang sebagai petunjuk, pengingat dan obat. Ia bukan sakramen atau benda magis. Ia datang untuk merubah kita dan memimpin pada sebuah kehidupan baru. Mengerti bukan jaminan pasti untuk menemukan kehidupan baru, tetapi tanpanya tugas pemenuhan tujuan nyata dari Quran dan pengajakan manusia kepadanya menjadi sulit.

Apakah dengan status keawaman kita dari penguasaan ilmu-ilmu Al Qur’an kita memiliki hak untuk memahami, mengerti Al Qur’an ? Khurram Murad menjelaskan, pemahaman/pengertian (sebagaimana diungkapkan dalam Al Qur’an) memiliki dua kategori: tadzakkur dan tadabbur. Tadzakkur, berarti penerimaan peringatan, nasehat, menghafal, memperhatikan dan memasukkan ke dalam hati. Ia adalah proses   dimana kita mencoba menangkap pesan-pesan umum dan pengajaran yang dibawa Quran, untuk mendapatkan apa yang dimaksudkannya pada kita, apa yang diminta dari kita, mengambilnya ke dalam hati, memberikan respon hati, pikiran dan sikap, mendorong kemauan untuk bertindak dan menyebarkan pesan pada manusia lain. Dalam pengertian tadzakkur inilah Qur’an menyatakan ia dimudahkan untuk dimengerti. Sedangkan Tadabbur, merupakan proses penggalian yang lebih dalam dan penuh terhadap makna-makna ayat dan surat Al Qur’an. Menggali dan menganalisa kerumitan-kerumitan di dalamnya. Kategori pemahaman ini mensyaratkan penguasaan terhadap ilmu-ilmu Al Qur’an.

Apa sasarannya ? Bagi kita yang awam, tadzakkur adalah sasasaran utamanya, walaupun tidak menutup kemungkinan dengan melengkapi penguasaan ilmu-ilmu Al Qur’an.

Untuk memahami Al Qur’an diperlukan keperluan dasar. Beliau menyebutkan beberapa keperluan dasar itu :

  1. Bahasa Arab. Sulitkah menguasainya ? Beliau mengatakan menemukan buku dan guru yang tepat akan membantu kita dengan cepat untuk memahami bahasa Arab.
  2. Membaca seluruh Al Qur’an
  3. Membaca karya Tafsir Al Qur’an
  4. Membaca karya Tematis tentang Al Qur’an
  5. Membaca secara berulang-ulang
  6. Pikiran yang selalu bertanya

Beberapa prinsip berikut perlu diperhatikan untuk memahami Al Qur’an

  1. Mengerti sebagai kenyataan hidup. Setiap makna memiliki relevansi pada hari ini.
  2. Mengerti sebagai sebuah pesan untuk kita
  3. Mengerti sebagai bagian dari keseluruha
  4. Mengerti sebagai kesatuan teks yang konsisten
  5. Mengerti dengan partisipasi keseluruhan kepribadian kita, melibatkan keseluruhan pikiran, perasaan, hati dan akal.
  6. Mengerti apa Quran yang katakan pada kita, tidak mencari dukungan bagi opini pribadi kita.
  7. Tetap dalam konsesus umat
  8. Mengerti Quran dengan Quran
  9. Mengerti Quran dengan Hadist
  10. Mengerti Quran dari aspek bahasa
  11. Pengetahuan umum kadangkala membantu kita untuk memahami makna-makna ayat Al Qur’an

Studi terhadap Al Qur’an ini dapat dijalankan sebagai proses personal maupun kolektif (melalui kuliah, mendengarkan kajian dsb).

(Menghidupkan Al Qur’an)

Langkah interaksi selanjutnya adalah menghidupkan nilai-nilai Al Qur’an. Membaca Quran hanya akan memberi keuntungan sedikit bagi kita, kecuali bila kita mulai berubah dan merekonstruksi kehidupan kita dalam penyerahan tulus kepada Allah yang memberi kita Qur’an. Pada setiap halamannya Quran adalah undangan untuk menyerah, menerima, berubah dan bertindak. Pembacanya dikonfrontasikan untuk memutuskan dan bertanggungjawab terhadap dirinya.

Menghidupkan Al Qur’an berarti merekonstruksi kehidupan kita dengan nilai-nilai Al Qur’an. Makna selanjutnya adalah mendakwahkan Al Qur’an. Al Qur’an adalah kitab dakwah, sejak awal turunnya. Dengan memperjuangkan nilai-nilai Al Qur’an kita dapat memahami lebih jauh dan menjumpai kisah, karakter manusia, kebahagiaan yang disebutkan dalam Al Qur’an.

[Studi Quran] Interaksi Dengan Al Qur’an Bagi Orang Awam (1)

Apakah Al Qur’an masih relevan bagi kita ? Peradaban modern telah melakukan lompatan raksasa dalam semua bidang kehidupan, masihkah Al Quran yang diturunkan ribuan tahun lalu relevan dengan kehidupan kita saat ini ? Dalam pernyataanya sendiri, Al Quran merupakan kata-kata Allah yang abadi. Sehingga ia tetap memiliki relevansi abadi pula bagi manusia. Sebagaimana ia telah membukakan kekayaannya kepada generasi pertama yang menerimanya. Di sisi lain Al Qur’an tidak tersusun secara kronologis, ini juga memberikan hikmah besar kepada kita akan relevansinya bagi setiap zaman dan tempat.

Jika ia sama relevannya dengan ketika pertama kali diturunkan, bagaimana kita melakukan interaksi yang tepat kepadanya ? Atau, sebagai orang awam, yang tidak memiliki latar belakang ilmu-ilmu syar’i, dapatkah kita mengambil manfaat Al Qur’an untuk kehidupan kita ?  Secara aksiomatis (berdasar keimanan kita), karena Al Qur’an adalah kitab petunjuk bagi manusia, pertanyaan itu harus dijawab dengan ya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita mengoperasionalkan proses interaksi itu dalam batas-batas keawaman kita ?

Read more »

Isra Mikraj dan Ilmu Pengetahuan Modern

Peristiwa isra’ dan mi’raj merupakan peristiwa yang menggemparkan pada saat itu. Pengakuan Muhammad (S.A.W) menjadi bahan pembicaraan masyarakat Quraisy. Tuduhan gila atas beliau mungkin semakin intensif dan masif. Ada juga yang ragu mendengar berita beliau ini.

Karena peristiwa ini merupakan peristiwa yang di luar batas nalar, banyak orang (bahkan sebagian ulama) yang mencoba menafsirkan peristiwa ini agar dapat di-nalar. A. Hasan menyebutkan ada beberapa pendapat mengenai peristiwa ini, tentang apakah Rasulullah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan badan (wadag) atau tidak.

  1. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan dengan badan halus
  2. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan hanya ruh-nya saja
  3. Rasulullah di-isra-kan dan di-mikraj-kan melalui penglihatan (vision) saja
  4. Peristiwa isra’ dan mi’raj hanyalah mimpi semata
  5. Rasul Isra dengan badan dan ruh-nya sedangkan mikraj hanya ruh-nya saja
  6. Rasulullah di-isra’-kan dan di-mi’raj-kan dengan badan dan ruh-nya (sekaligus, manusia lengkap)

Melalui analisis terhadap ayat-ayat Al Quran dan hadist-hadist terkait dengan peristiwa ini A.Hasan menyimpulkan bahwa pendapat ke -6 (bahwa Isra dan mikraj Rasulullah adalah peristiwa aktual, nyata dengan badan dan ruh sekaligus) adalah pendapat yang sahih, valid.

Kemudian, dapatkah Ilmu Pengetahuan Modern (Sains) mengafirmasi hal ini ? Read more »

Komunikasi Anak Berbasis Kemarahan

Dunia anak adalah dunia permainan. Bermain bagi anak adalah mengasyikkan. Tak kenal waktu untuk bermain. Kapan mau main, main. Bangun tidur, menjelang tidur, siang maupun malam, di rumah maupun di perjalanan, di lapangan maupun di kamar; tak ada halangan untuk bermain. Semuanya serba mengasyikkan.

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia penuh keseriusan. Hampir semua dipandang secara serius. Dunia orang dewasa adalah dunia penuh kerja. Ada kerja, ada imbalan. Ada usaha, ada balasan.

Dunia anak adalah dunia kreatif, dunia imajinatif. Rumah bisa berubah menjadi galeri seni. Tembok penuh coretan aneka warna. Pintu kamar bisa berubah menjadi tempat menempel kertas-kertas lukisan warna-warni atau orang dengan kepala besar dan kaki mungil. Bantal dan guling bisa berubah menjadi kuda tunggangan. Kain sarung bisa berubah menjadi tenda untuk berteduh.

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia linier, penuh keteraturan. Keinginannya adalah rapi disemua sisi. Dunia keteraturan di mana-mana. Kamar harus rapi dan resik. Ruang tamu harus bersih dan rapi. Pokoknya semua harus berada dalam posisinya.

Dunia anak adalah dunia dialogis, dunia penuh keingin-tahu-an. Semua bisa dijadikan bahan pertanyaan. Kenapa ? Mengapa ? Kenapa tidak ? Kok begini ?

Dunia orang tua (manusia dewasa pada umumnya) adalah dunia perintah, dunia ketaatan, dunia command. Kamu harus menurut. Kamu harus begini. Kamu harus.. kamu harus… Dunia penuh dengan tuntutan. Dunia reward and punishment.

Begitulah. Dua dunia ini bertemu dalam keluarga, bertemu dalam latar rumah kita. Pertembungan dua dunia ini acap kali berjalan tidak seimbang. Kita (orang tua, orang dewasa) cenderung untuk memaksakan dunia kita pada anak. ‘Abi ini kok sukanya maksa sih !’ Jika anak tidak patuh pada dunia kita, dan kita kehabisan energi untuk berlaku sabar, jadilah kita meminjam kemarahan untuk menaklukkan mereka. Melalui bentakan, melalui ancaman, melalui hukuman psikologis kita berusaha menegakkan keteraturan, tata, order. (Atau sekedar menegakkan kegagahan kita sebagai orang tua). ‘Kamu ini sudah besar kok gak ngerti-ngerti juga sih !’.

Anak harus mengenal keteraturan ! Tentu saja. Anak harus berdisiplin ! Tentu saja. Anak harus mengerti ! Tentu saja. Tapi, pola pendekatan penuh kemarahan, barangkali justru bisa menyiutkan nyali, menyiutkan dunia, menyiutkan kreatifitas-imajinasi mereka. Alih-alih menegakkan keteraturan, justru sebenarnya kita gagal untuk mengimbangi dunia dialogis mereka.

Kemarahan. Jujur saja, tidak mudah untuk kita kendalikan. Pada tingkat tertentu ia bisa dinetralisasi oleh pengetahuan maupun nilai-nilai yang kita yakini. Pendidikan kita, pengetahuan [ terkait dengan tumbuh kembang anak ], aspek kognitif, kita dapat menetralisasi pada tingkat tertentu kemarahan kita. Keterlibatan kita dalam pendidikan informal, tarbiyah, tertanamnya nilai-nilai dalam diri kita juga pada tingkat tertentu dapat menahan kemarahan kita. Tetapi ketika kita dilamun oleh kelelahan. Lelah kerja. Lelah karena aktivitas rumah tangga. Lelah fisik maupun psikologis. Tak mudah kita mengendalikan kemarahan, walaupun kita seorang sarjana ataupun aktivis tarbiyah yang sudah lama melalang buana.

Lalu bagaimana ? Barangkali ini sinyal bagi kita untuk lebih bisa mendidik diri kita sendiri. Bersama anak kita mendidik diri sendiri. Allahumma alhimni rushdi wa a’ izni min sharri nafsi. Ya Allah inspirasikan padaku kecerdasan (petunjuk untuk menjalankan kebenaran) dan jauhkan aku dari keburukan nafsu-ku.

Cermin Cinta Yang Retak

Ini adalah kisah nyata. Seorang perempuan paruh baya mengidap sakit. Riwayat keluarga menunjukkan ia mengidap diabetes. Sakitnya kemudian berkembang menjadi komplikasi. Ketika ia terus sakit-sakitan, dirasakannya kasih-sayang sang suami tidak seperti dulu lagi. Alih-alih dukungan agar cepat sembuh, justru makian yang sering ia terima. Puncaknya terjadi beberapa hari lalu. Sakitnya makin gawat, ia kukuh tidak mau dibawa ke Rumah Sakit. “Jika harus meninggal, biarlah saya meninggal di rumah saja.” Keluarganya kemudian memaksanya membawa ke rumah sakit. Tetapi tidak lama kemudian ia meninggal. Menjelang ia meninggal ia sempat berkata pada suaminya, “Kamu senangkan saya mati !”.

Jika cinta dimaknai sebatas perasaan yang membuncah karena pesona kecantikan, maka satu waktu pesona kecantikan itu akan memudar. Jika cinta dimaknai sebatas daya tarik seksual, seturut waktu daya tarik seksual itu akan perlahan menurun. Saat-saat sakit, saat-saat ketidakberdayaan menghampiri orang yang kita cintai adalah saat-saat ujian cinta kita.

Cinta tidak sekedar perasaan. Ia juga sebentuk tindakan. Tindakan mensyaratkan pilihan. Pilihan membawa pertanggung-jawaban. Kemampuan dan kemauan untuk merespon kebutuhan orang yang kita cintai. Cinta sebagai tindakan membawa asah, asih dan asuh bersama orang yang kita cintai. Cinta sebagai tindakan membawa harapan. Harapan memberi energi bagi orang yang kita cintai.

Cinta perlu waktu untuk matang. Benih perasaan perlu ditumbuh-kembangkan. Cermin cinta yang retak, bisa menjadi cermin kita untuk belajar lebih untuk mematangkan cinta.

Berikut ini kisah cermin cinta yang jernih. Ini juga adalah kisah nyata. Sepasang anak muda (usia dua puluhan) melangsungkan pernikahan. Selang beberapa bulan sang istri hamil. Menjelang kelahiran sempat terlontar kata-kata dari sang istri, “Mas, jika nanti aku meninggal, mas tolong nikah kembali ya !”. Saat kelahiran tiba. Sang suami menemani sang istri. Sang anak lahir normal. Sempat menyusui sebentar, sang bunda kemudian tertidur untuk selama-lamanya.

Kenapa Kita Takut ke Dokter ?

Sepulang dari acara silaturahim alumni Rohis 68 angkatan 1997 kemarin saya langsung diajak oleh adik saya untuk menjenguk paman saya yang tengah dirawat di Rumah Sakit Husada. Beliau mengidap tumor yang perlu dioperasi di sekitar leher. Ketika dokter menanyakan sudah berapa lama tumor itu diidap, paman saya menjawab sudah 10 tahun. Kenapa tidak ke dokter dari dulu-dulu ? tanya dokter itu.

Ya, kenapa tidak ke dokter, jika sakit ? Ini pertanyaan yang tampaknya mudah untuk menjawabnya. Tapi, ternyata ini adalah fenomena yang agak rumit dan menarik.

Ketika anak kita tiba-tiba mengeluh pusing, demam mencapai 39 derajat, setiap mulai makan justru muntah-muntah. Sebagai orang tua apa yang akan kita lakukan ? Di tengah kepanikan, solusi kita biasanya adalah segera membawa ke dokter atau ke rumah sakit. Tetapi jika kita sendiri yang mengalami keluhan itu, apa yang kita lakukan ? Jika ada yang menganjurkan ke dokter, umumnya kita bisa saja menjawab “nanti juga sembuh sendiri”. Sebisa mungkin, biasanya,  kita menghindari dokter. Jadi jika orang dekat kita (anak, istri, orangtua, saudara) sakit, kita berusaha agar mereka segera sembuh dengan membawa mereka ke dokter (atau mengajurkan dengan sangat) sesegera mungkin untuk mendapatkan pertolongan. Tetapi jika kita sendiri yang mengalami gejala-gejala sakit tertentu, kita cenderung untuk menghidari dokter.

Bukan cuma kita saja yang berperilaku demikian. Orang tua kita juga biasanya demikian. Jika mereka sakit, kemudian kita mengajak mereka untuk ke dokter, biasanya mereka akan menghindar. Alasannya, nanti juga sembuh. Cuma masuk angin biasa saja. Minum ramuan ini,  minum jamu ini nanti juga sembuh. Dan banyak alasan lain yang muncul.

Apakah ini fenomena umum kita jumpai ? Mungkin saja.

Apa motivasi kita untuk menghindari dokter ? Bisa biaya. Bisa juga tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi motivasi ini, bisa jadi hanya masalah sekunder.

Ketika kita menjumpai dokter sesungguhnya kita membongkar asumsi-asumsi kita terhadap diri kita. Asumsi bahwa sebenarnya kita sehat-sehat saja. Asumsi kita tidak memiliki penyakit. Asumsi-asumsi yang sebenarnya tidak memiliki dasar yang kokoh. Karena memang kita tidak memiliki basis pengetahuan yang cukup mengenai penyakit dan cara bagaiman tubuh kita bekerja. Menjumpai dokter, mengonsultasikan kondisi tubuh kita kepadanya tampak sebagai proses untuk menampakkan realitas sesungguhnya kondisi tubuh kita kepada kita sendiri. Dan ini yang, mungkin, tampak menakutkan bagi kita. Kita takut untuk mengakui kenyataan, takut untuk berjumpa dengan realitas yang sesungguhnya, takut untuk menerima keadaan tubuh kita.

Alih-alih mengonsultasikan tubuh kita kepada dokter, kita memilih untuk menghidarinya. Agar pengetahuan itu tidak mengharu biru perasaan kita. Agar pengetahuan itu tidak menelanjangi kesalahan asumsi kita. Agar realitas tenggelam dalam lautan “ketidaktahuan” kita. Akar kita tetap merasa aman dan tenang, seolah tidak ada yang salah dan bermasalah.

Hingga, kemudian sampailah realitas itu menampakkan secara paksa kepada kita, karena kita sudah tidak berdaya untuk memanipulasinya.

Benarkah seperti ini motivasi dasarnya ? Perlulah kita refleksikan masing-masing. Wallahu a’lam.

Membumikan Imajinasi Romantis Kita Atas Cinta

Imajinasi kita tentang cinta dibangun secara romantis melalui banyak saluran. Melalui kisah, bacaan, maupun tontonan. Ada kisah Romeo dan Juliet, ada Laila dan Majnun. Banyak film, juga sinetron yang melambungkan imajinasi romantis kita tentang cinta. Novel, hampir semua, kalau tidak menjadikan cinta sebagai tema utamanya, bisa dipastikan ada sisipan cerita cinta dalam alurnya. Cinta adalah sumber air yang tidak akan habis untuk dibahas, diceritakan, diperbincangkan, difilmkan, disinetronkan.

Jauh sebelum kita memasuki gerbang pernikahan, imajinasi romantis tentang cinta ini (melalui tokoh-tokoh archetipalnya — Romeo, Juliet misalnya) sudah terbentuk dalam diri kita. Orang kemudian berharap, melalui persatuan dua insan (lelaki dan perempuan) dalam pernikahan, romantisme cinta itu dapat semakin intensif, semakin melambungkan perasaan.

Kebalikan dari itu semua, sesungguhnya bersatunya dua lawan jenis dalam pernikahan adalah awal pembumian imajinasi kita tentang cinta. Imajinasi romantis kita dibumikan untuk bertemu dengan kenyataan-kenyataan hidup. Pada awalnya mungkin sisi romantis itu tetap besar (dunia serasa milik berdua). Tetapi seturut perjalanan waktu, waktu membantu menyingkap sisi-sisi diri kita yang tidak sempurna. Jika imajinasi romantis kita adalah imajinasi mengenai kesempurnaan, pada titik ini cinta kita mulai menghadapi ujian.

Pembumian kedua terjadi ketika kita mulai memiliki anak. Ada kerepotan, ada kesibukan, ada kelelahan dalam mengurus anak. Apakah kemudian kita mampu berbagi secara ikhlas sisi-sisi kerepotan, kesibukan dan kelelahan mengasuh, mengurus dan mendidik anak bersama dengan pasangan kita, menjadi batu ujian selanjutnya untuk cinta kita.

Seturut pertambahan usia, seturut perubahan ekonomi keluarga, seturut perubahan tanggung jawab sosial kita; imajinasi cinta kita akan mengalami pembumian. Apakah kemudian romantisme cinta akan hilang dari kehidupan kita ? Kitalah yang perlu memaknainya kembali.

Jika cerita cinta dalam film-film romantis berhenti ketika mereka sudah menikah (yang kemudian bahagia selamanya) atau atau terputus di tengah jalan (seperti Romeo-Juliet), kisah cinta kita sesungguhnya dimulai pada saat kita mengucapkan akad nikah. Di sini pengembaraan bermula (mengutip judul film Upin dan Ipin).

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.