Konsep Kebudayaan

Dari statistik blog ini, posting Antara Peradaban dan Kebudayaan merupakan posting yang paling banyak dikunjungi (mungkin juga : dibaca). Secara konseptual apa yang dibahas dalam postingan itu belumlah memuaskan. Beberapa posting berikut mencoba menajamkan kembali muatan konseptual masing-masing terminologi agar pemahaman kita dapat lebih jernih. Posting ini (dan beberapa posting selanjutnya) belum terstruktur secara baik, karena kendala waktu.

Konsep Budaya
Ketika para sosiolog berbicara tentang kebudayaan, maka yang diacu oleh konsep itu adalah norma, nilai, kepercayaan atau simbol-simbol ekspresif. Norma adalah cara manusia berperilaku dalam masyarakat, nilai adalah apa yang mereka pegang dengan kuat, kepercayaan adalah bagaimana mereka berpikir tentang bagaimana semesta berjalan, ekspresif simbol adalah representasi dari norma, nilai dan kepercayaan itu. Saat ini pengertian kebudayaan ini ditambahkan juga dengan praktek. Budaya, saat ini, digunakan untuk mendeskripsikan pola-pola perilaku, yang tidak selalu harus terkoneksi dengan nilai atau kepercayaan tertentu.

Budaya dan masyarakat tidak eksis di luar sana, hanya orang bekerja, membesarkan anak, mencintai, bertengkar dsb. Memahami budaya sebagai sesuatu (thing) dan masyarakat sebagai sesuatu yang lain, hanyalah pembedaan analitik antara dua aspek berbeda dari eksistensi manusiawi. Budaya menampilkan aspek ekspresif  dari eksistensi manusia, sedangkan masyarakat (society) menampilkan aspek relasional.

(1) Dalam pengertian sehari-hari (umum) mengacu pada produk seni atau sastra. Pada abad 19, banyak intelektual eropa membedakan antara budaya dan masyarakat atau dalam terminologi mereka antara budaya dan peradaban. Peradaban (tata sosial) mengacu pada kemajuan teknologi dan industri (sebagaimana termanifestasikan dalam revolusi industri). Mengkontraskan kebudayaan dengan peradaban dengan demikian merupakan protes terhadap pemikiran pencerahan, terhadap kepercayaan atas kemajuan, terhadap aspek-aspek buruk industrialisasi atau protes atas “cash nexus” dari kapitalisme dimana semua orang dan semua hal dinilai dari berdasar nilai ekonomi. Peradaban dengan demikian merusak kemanusiaan. Jalan pemecahan dari kerusakan itu adalah budaya. Mattew Arnold, menyatakan budaya sebagai sebuah studi atas kesempurnaan. Budaya membuat peradaban lebih manusiawi dengan mengembalikan “sweetness and light.”, keindahan dan kebijaksanaan; yang didapatkan dari (1) kesadaran dan sensitivitas terhadap hal-hal terbaik yang pernah dipikirkan dan diketahui orang dalam seni, sastra, sejarah dan filsafat; (2) pikiran yang tepat (right reason) — pikiran terbuka, kecerdasan untuk menoleransi. Arnold, memahami budaya dari sudut potensi pendidikannya. Budaya adalah alat untuk mencapai tujuan, harmoni kehidupan (mencegah materialisme kehidupan dan filistinisme) melalui mengajarkan manusia untuk hidup dan menyebarkan nilai-nilai moral. Posisi Arnold ini, sama dengan posisi Weber dalam Science as Vocation. Posisi Humanities. –> Hasil terbaik pemikiran dan pengetahuan manusia

(2) Kebudayaan sebagai way of life. E.B. Taylor. Kebudayaan atau peradaban adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-kebiasaan, dan kapabilitas dan kebiasaan yang dicapai manusia sebagai anggota sebuah masyarakat. Pengertian ini saat ini sangat dominan di kalangan sosilog kontemporer.  Definisi ini menghindari etnosentrisme dan elitisme. Definisi ini juga memahami adanya harmoni antara budaya dan masyarakat (bahkan dalam pendekatan fungsionalisme dan marxisme). Peter Berger memahami pembentukan budaya melalu tiga momen, eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi.  Cliford Geertz, kebudayaan adalah pola-pola makna yang muncul dalam bentuk simbol yang tertransmisikan secara historis; sistem konsepsi yang diwariskan terekspresikan dalam bentuk simbolik yang dengannya manusia berkomunikasi, mengabadikan, dan mengembangkan pengetahuan tentang dan  bagaiman ber-sikap terhadap kehidupan. Budaya adalah aktifitas, bukan sesuatu yang perlu dibekukan di museaum. Posisi Social Saintis.  Makna    –> produk material dan non-material kemanusiaan


Hubungan antara Budaya dan Masyarakat

Kita dapat berbicara mengenai komunitas manusia dari dua sudut pandang, budaya atau struktur sosial -nya. Struktur sosial komunitas memegaruhi budaya-nya, demikian pula sebaliknya. Objek Budaya –> tanda yang terdistribusi dalam bentuk; ekspresi sosial  yang bermakna yang terdengar, terlihat atau teraba atau terartikulasi. Objek Budaya memberi cerita.

Rujukan : Griswold, Wendy. 2004. Cultures and Societies in a Changing World. Thousand Oaks, CA: Pine Forge Press. bab 1 (Culture and The Cultural Diamond)

Kebudayaan secara definisi deskriptif –> lebih mudah untuk dipahami

Budaya sering dikontraskan dengan sesuatu yang alamiah, sesuatu yang kita bersifat perolehan. Budaya mengacu pada bahasa, kepercayaan, norma, nilai, perilaku dan objek material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jadi secara umum produk budaya ada yang material (bangunan, mesin dll) dan non-material (cara berpikir — norma, nilai, asumsi tentang dunia– dan cara bertindak –pola perilaku –).

(1) Produk non-material adalah (1) produk simbolis; bahasa yang memungkinkan kita untuk bergerak melampaui pengalaman sendiri, membentuk masa lalu dan masa depan kita (melampaui masa kini kita), mengakumulasi pengalaman dan memberi tujuan atas kegiatan kita. (2) Nilai, norma, adat.

(2) Produt material, inti budaya material adalah teknologi. Teknologi menetapkan suatu kerangka bagi kebudayaan non-material suatu komunitas. Perubahan di sisi material dapat merubah cara berpikir, cara berhubungan. Internet merubah sisi non-material kebudayaan.

Ogburn –> konsep cultural lag (ketertinggalan budaya) –> tidak semua bagian dari kebudayaan berubah dengan kecepatan yang sama.
Kebudayaan material biasanya berubah dulu sedangkan budaya non-material tertinggal di belakang.

Teknologi –> pendataran budaya, penyerupaan budaya (cultural leveling).

Rujukan : James M. Henslin. Sosilogi : dengan pendekatan membumi, Erlangga, Jakarta. 2007

Ilmu sosial –> budaya –> total dari pikiran, karya dan hasil karya manusia yang tidak berakar pada nalurinya dan yang bisa dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar.

Kebudayaan –> keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Wujud kebudyaan
1. Kompleks ide, gagasan, nilai dan norman (sistem nilai atau budaya)
2. Kompleks aktivitas pola kelakuan manusia dalam masyarakat (sistem sosial)
3. Benda-benda (sistem alat dan teknologi)

Unsur kebudayaan yang universal
1. Sistem religi dan upacara keagamaan
2. Sistem dan organisasi kemasyarakatan
3. Sistem pengetahuan
4. Bahasa
5. Kesenian
6. Sistem mata pencaharian
7. Sistem teknologi dan peralatan

Rujukan : Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Gramedia, Jakarta, 1979. Cet.6
Koentjaranigrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, Jakarta,1990. Cet.8

4 thoughts on “Konsep Kebudayaan

    • Terima kasih sudah berkunjung …. Alhamdulillah jika tulisan-tulisan di blog ini bisa membantu ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s