Hadji Agus Salim, Tentang Agama dan Keberagamaan

Hasrat Manusia Terhadap Agama

Mereka yang terdidik dalam alam pikiran modern kadangkala mengalami masa di mana melalui pengaruh pendidikan yang didapatkannya Iman yang tertanam sejak masa kanak-kanaknya sedikit demi sedikit mengalamai pengikisan. Pengikisan yang menjadikan Iman-nya menjadi tidak terlalu dihargai. Keterdidikannya dalam alam pikiran modern juga membuatnya memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuan rasionalitasnya untuk memecahkan permasalahan hidupnya. Sampai kemudian kita diajarkan oleh kehidupan untuk menyadari atau mengakui ada begitu banyak soal kehidupan yang beredar di luar kendali rasionalitas kita untuk memahami atau memecahkannya. Banyak kejadian kemudian yang mengajarkan kepada kita untuk mengakui kelemahan diri kita di hadapan problematik 100tahunHSalimkehidupan. Biasanya pada usia-usia kematangan kita, 40-an tahun, ketika kita mulai menyadari tanggung jawab besar terhadap rumah tangga, anak-anak dan masyarakat. Kepastian kita berkurang terhadap rasionalitas (juga terhadap produknya, utamanya sains dan filsafat) untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan. Pada titik-titik seperti inilah kita memerlukan bimbingan, petunjuk yang berasal dari luar rasionalitas, bimbingan agama.

Tetapi untuk bertekun memahami bimbingan agama itu memiliki tantangan tersendiri. Rutinitas dan tuntutan keseharian bisa membuat kita tenggelam di dalamnya. Dalam rutinitas, dalam kenyamanan hidup yang memang diinginkan, muncul keengganan untuk menanyakan kembali makna hidup itu sendiri. Hingga ujung usia menghampiri kita. Pada masa-masa ini kita tidak lagi menguasai kehidupan, justru kita dikuasainya. Pusat perhatian kita adalah pemenuhan kebutuhan bendawi, pencarian kesenangan, kesantaian, kesenggangan dan ketentraman. Kecuali, jika kita enggan untuk tenggelam dan memiliki keberanian untuk bertanya. Menolak untuk memerosotkan nilai hidup kita.

Pengertian Konsep-Konsep Dasar Islam

Islam

Islam, menurut definisi berarti ketundukan dan kepatuhan kepada semua perintah yang diberikan oleh Allah melalui Rasul-Nya. Ada beberapa akar kata darimana kata Islam terbentuk. Salima, berarti keadaan selamat, sentosa, tidak cacat, tidak kekurangan atau tidak rusak. Aslama, memelihara, menyucikan, memelihara (diri – dan semua makhluk) dari cacat, cela dan bencana; ia juga berarti menyerahkan diri, tunduk, takluk sepenuhnya kepada Allah.

IMG01318-20140424-1830Dengan pengertian-pengertian di atas kita dapat memahami Islam sebagai ajaran, perintah, petunjuk bagi (upaya) penyelamatan diri (dunia dan manusia) dan memelihara, membela (dunia dan manusia) dari cacat, cela, celaka dan bencana; pada saat yang sama (melalui) penyerahan diri (ketundukan dan kepatuhan) kepada Allah.

 

Iman

Iman adalah pengakuan akan kebenaran (sesuatu) dengan hati. Dari akar katanya. Amana, berarti setia, patuh. Amina, berada dalam keadaan aman, tidak kuatir dari bahaya.

Iman dapat dipahami sebagai percaya dengan keyakinan teguh, disertai perasaaan tentram; dengan demikian ia patuh kepada yang dipercaya itu.

Islam memerlukan kesadaran, kehendak, maksud dan kesengajaan untuk melaksanakan sikap, laku dan perbuatan yang diminta. Ini terkait dengan aspek zhahir. Iman merupakan kerja batin, hati yang tidak seluruhnya dalam kuasa kehendak dan akal kita. Sehingga masalah iman, sebagiannya terkait dengan kemurahan, kasih-sayang Allah. Yang kita perlu lakukan terkait dengan iman ini adalah memohon kepada-Nya dan melakukan perintah-Nya.

Niat dan Ikhlas

Niat berarti kesengajaan. Bermula dari gerak hati dan lintasan pikiran, kemudian menguat menjadi kemauan (iradat), lalu lebih tegas menjadi tuntutan hati untuk berbuat (himmah), lalu menjadi kehendak kuat (azzam), kemudian menjadi maksud/tujuan (qashd) dan akhirnya menjadi menyengajakan langkah memulai (berbuat ) / niyat.

Niat ini dalam Islam (utamanya terkait dengan rukun-rukun-nya, misal sholat dan puasa) diharuskan menyertai perbuatan itu dari awal hingga akhir. Dalam sholat misalnya, niat adalah sungguh-sungguh sengaja menyempurnakan setiap gerakannya. Gerak yang tidak hanya karena kebiasaan atau seenaknya saja atau asal saja (dari pada tidak sama sekali). Sengaja berarti teliti dan rapi.

Niat disyaratkan ikhlas. Ikhlas berarti tidak mengharap pujian orang lain. Lawannya riya. Ikhlas berarti karena Allah. Berbuat karena Allah merupakan keutamaan dalam berbuat. Keutamaan ini berkebalikan dengan laku transaksional (jual beli) dalam beribadah.

Ibadah dan Takwa

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. Dari ayat ini nyatalah bahwa ibadah tidak terbatas pada rukun-rukun (tiang-tiang) Islam semata (Sholat, Puasa, Zakat, Haji). Tetapi mencakup semua aspek kehidupan kita. Dengan bersendi, berdasar pada rukun-rukun Islam ini, manusia dikehendaki untuk meniat-kan ibadah bagi setiap kata dan perilaku-nya. Ibadah adalah perbuatan hamba yang bertentangan dengan nafsunya karena memuliakan keaguangan Tuhannya.

IMG01319-20140424-1831Untuk mencapai nilai ibadah dalam konteks yang luas ini kita perlu memakai takwa. Takwa secara Bahasa berarti hati-hati, awas, ingat, menjaga diri; seolah-olah berlindung di balik pagar supaya terpelihara dari bahaya dan bencana. Dalam keterangan lain, takwa berarti ikhlas dalam ketaatan, pantang dari maksiat dan sikap awas, jangan terjerumus karena lengah, lalai atau lupa.

Seperti iman dan ikhlas, takwa juga merupakan suatu keadaan, sikap jiwa-batin; yang kita tidak dapat menguasainya, membentuknya semata-mata karena kehendak hati atau pendapat akal kita saja. Tetapi ia juga bergantung pada kemurahan Tuhan, rahmat-Nya. Yang perlu bagi kita adalah bersungguh-sungguh berdo’a kepada-Nya dan menggunakan ibadat yang di-fardu-kan oleh-Nya; dengan menyengajakan niat (ibadah) dalam amal kebajikan dan kerja kita.

Fardu secara logat tidak berarti tuntutan (mewajibkan) sebaliknya berarti peruntukan bagian. Pemberian bagian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya. Yang tidak melakukan, tidak mendapatkan bagian itu.

(Bagian awal tulisan ini merupaka parafrase dari sebagian ceramah H. Agus Salim pada saat pembentukan JIB – Jong Islamieten Bond. Dalam membahas konsep-konsep Iman, Islam H. Agus Salim banyak mengutip kitab At Ta’rifat karangan Al Jurjani. Yang menarik yang dilakukan H. Agus Salim di sini adalah pengaitan satu konsep dengan konsep yang lainnya.)

Polemik Sekularisasi di Dunia Islam, Min Huna Nabda’ dan Min Huna Na’lam

Perjumpaan dunia Islam dan dunia Barat memicu ide sekularisasi di dunai Islam sebagaimana dipraktekkan oleh peradaban Barat. Ide-ide sekularisasi ini tentu saja membuat polemik di dunia Islam. Salah satu polemic yang muncul adalah polemik antara Khalid Muhammad Khalid yang pada tahun 1950-an mengeluarkan buku Min Huna Nabda’ (Dari Sini Kita Mulai). Yang kemudian disambut oleh salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin ketika itu, Muhammad Al Ghazali dengan meluncurkan seri tanggapan terhadap buku Khalid M. Khalid yang kemudian dibukukan menjadi Min Huna Na’lam (Dari Sini Kita Tahu).

Sampai saat ini gema tema-tema polemik itu masih sering diungkapkan ketika diskusi mengenai peran Islam dan Negara atau Islam dan Perempuan atau Islam dan Modernitas. Tentu saja perlu dicatat bahwa posisi mereka yang berpolemik tidak selalu tetap, seiring dengan perjalanan waktu dan akumulasi pengalaman sebagian mengalami perubahan ide, sebagaimana Khalid M. Khalid merevisi idenya mengenai peran agama pada tahun 80-an. Demikian pula realitas Negara nasionalis yang ada di dunia Islam (dengan rakyat mayoritas Muslim) saat ini memberikan pengaruh pada ragam pilihan interaksi antara Islam dan Negara.

Berikut ini merupakan pokok-pokok pikiran dalam buku Min Huna Nabda’, Dari Sini Kita Mulai, karya Khalid Muhammad Khalid :

  1. Kebebasan merupakan prasyarat kemajuan. Kebebasan memerlukan tanggung jawab sosial. Pokok pembicaraan mengenai “perubahan sosial yang terjadi ” dan bagaimana mengarahkannya dengan tepat. Ke arah kebebasan (atau pembebasan) inilah usaha untuk meraih kemajuan perlu diarahkan. Hal-hal (agenda) yang perlu dilakukan dalam rangka rekonstruksi masyarakat menuju kemajuan.
  2. Pertama, memurnikan agama (Islam) dari kependetaan. Kependetaan (dalam Islam) direpreW2430_IMG_20131112_140337sentasikan dalam kelompok ulama kolot yang anti-perubahan. Kependetaan inilah yang menyatakan bahwa kemiskinan merupakan kehendak langit. Kependetaan merupakan penghalang kebebasan. Kependetaan memonopoli kebenaran. Kependetaan merupakan ideologi yang menjadi kedok bagi eksploitasi terhadap rakyat. Tetapi dasar utama ideologi ini adalah kebodohan dalam memahami hakikat agama, terperangkap terhadap masa lalu dan enggan melakukan perubahan. Orientasi kepada kehidupan, bukan penolakan hidup. Keperluan terhadap penguasaan kehidupan (material). Tidak ada spiritualitas yang genuine yang berdiri di atas kemelaratan ekonomi. Spiritualitas hanya dapat dibangun di atas kecukupan kehidupan material masyarakat. Masyarakat  miskin tidak bisa diharapkan untuk memperhatikan kebersihan spiritual mereka. Terhadap kebebasan pemikiran, kependetaan merupakan musuh utama. Ideologi kependetaan bukan saja bermaksud memelaratkan fisik, tetapi juga memelaratkan pikiran melalui kontrol dan pembatasan terhadapnya. Perbedaan antara agama (genuine) dengan kependetaan; agama pada fitrahnya adalah humanis dan altruis, sedangkan kependataan egoistik, agama pada fitrahnya demokratis sedangkan kependetaan totalitarian, agama menaruh kepercayaan pada akal sedangkan kependetaan menolak memercayai akal, agama memercayai dan mencintai kehidupan sedangkan kependetaan memusuhi dan membenci kehidupan.
  3. Kedua, menegakkan konsep sosialisme dalam kehidupan masyarakat. Basis perdamaian adalah roti (ekonomi). Tali pusar dari kejahatan adalah kelaparan. Problem sosial yang menghalangi kemajuan (1) disparitas sosial, jurang sosial antar klas (yang mendapatkan fasilitas dan yang tertindas), besarnya perbedaan antara si kaya dan si miskin (2) Penguasan dan pengerjaan atas tanah yang tidak berkeadilan (3) Upah kerja yang rendah. Kebutuhan kita adalah Sosialisme moderat,sebagaimana terwujud dalam konsep yang sekarang kita kenali sebagai welfare-state.Tidak cukup menyelesaikan masalah ekonomi ini hanya dengan meluaskan sedekah. Yang dibutuhkan masyarakat bukan individu yang menjadikan sedekah/atau zakat sebagai penunjang penghidupan mereka. Ide utama dari sosialisme moderat ini adalah keadilan sosial. Keadilan sosial yang mewujud dalam pendeknya jarak antara kaya dan miskin, penghidupan yang layak bagi setiap orang. Perlu dijalankan langkah-langkah praktis untuk merealisasikan keadilan sosial ini (dalam konteks Mesir ketika itu); mendekatkan jarak antar klas (menyamakan fasilitas atas rakyat, tidak ada pilih kasih), menaikkan upah pekerja, skema pemberian tanah bagi para petani, nasionalisasi perusahaan dan pembatasan kelahiran.
  4. Ketiga, memisahkan agama dari negara. Menjauhkan keinginan untuk memiliki pemerintahan religius. Pemerintahan religius merupakan anti-tesis kemajuan.Ajaran utama Islam adalah monoteisme. Monotoisme ini pada hakikatnya adalah sarana untuk pembebasan manusia; Tuhan satu, semua manusia sama, manusia bersaudara, manusia bebas. Dasar utama agama adalah kenabian bukan imperium. Mereka yang mengidamkan negara-agama mendasarkan argumentasi mereka pada (1) keperluan untuk mengeilminasi keburukan (2) menegakkan aturan agama (3) rekonstruksi masyarakat. Bagi Khalid, ketiga argumen ini lemah. (1) Tugas agama adalah mengingatkan moral, tidak efektif menggunakan kekuatan atau kekerasan untuk mengelminasi keburukan atau menegakkna moral masyarakat. (2) Dalam agama, larangan yang terkait dengan hukum pidana bersifat mencegah dan mendidik, bukan menghukum (punitive) karena hukuman atas larangan itu (zina, pencurian misalnya) dipersulit dalam praktek pelaksanaannya. Pemerintahan religius menginap insting yang sebati (built-in) untuk mematikan kebebasan. Insting mematikan itu adalah (1)dasar otoritas yang kabur (bayangan Allah di muka bumi, konstitusi kami adalah Quran dan Hadist); yang mudah diplintir oleh tirani (2)Tidak memercayai kapasitas intelektual manusiawi dan meremahkan penemuan akal (3) mengagungkan otoritas dirinya dengan melabeli penentangnya yang kritis sebagai musuh Tuhan atau agama (4)Kebanggaan palsu atas otoritasnya (melabeli pemecah belah persatuan bagi kritikusnya) (5)monarki absolut (6) stagnasi dan oposisi terhadap kehidupan (7) mudah untuk melakukan tindak kekerasan untuk menyelesaikan masalah. Peran pemimpin religius adalah sebagai penunjuk moral bagi masyrakat, sedangkan negarawan adalah menyelesaikan permasalahan sipil rakyat.
  5. Keempat, kebebasan politik perempuan. Setelah pendidikan atas perempuan diterima secara umum, perlu ditingkatkan kepada pembebasan partisipasi politik perempuan (untuk menjadi anggota parlemen misalnya).

Pokok-pokok pikiran dalam Min Huna Na’lam, Dari Sini Kita Paham, karya Muhammad Al Ghazali, yang merupkan responsi terhadap pemikiran Khalid M. Khalid dalam Min Huna Nabda’:

  1. Di bawah judul Pemerintahan Islami, bukan pemerintahan nasionalis; Muhammad Al Ghazali menolak klaim Khalid M. Khalid untuk melikuidasi peran agama dari negara. Problem sejarah Islam terkait dengan ini adalah problem tiadanya konstitusi yang membatasi, problem tirani (yang bisa saja dilakukan orang dengan memanfaatkan legitimasi religius). Kesalahan yang dilakukan orang atau kelompok tertentu dalam sejarah Islam, tidak seharusnya dipahami merupakan kesalahan Islam. Menyalahkan agama karena alasan praktek pemimpin-pemimpin Islam masa silam yang tidak ideal merupakan kesalahan/sesat nalar. Apalagi, menuntut penghapusan peran agama dalam negara. Sebagaimana kita tidak meminta penerapan kembali pemerintahan otoritarian, karena kita melihat praktek demokrasi tidak paralel dengan pertumbuhan ekonomi, misalnya.
  2. Islam adalah doktrin sekaligus sistem, risalah dan daulah, pesan dan praktek sekaligus. Memeras Islam hanya sebagai ajaran agama (moralitas) tidak memiliki dasar yang tegas dalam teks-teks agama maupun sejarah. Menafsirkan bahwa Islam hanya risalah keagamaan (dalam pengertian kepercayaan dan moralitas semata), dan menafsirkan realisasi Islam dalam pentas negara hanya sebagai kebutuhan lingkungan yang lepas dari substansi risalah; juga tidak memiliki kekokohan referensial  (dari teks dan sejarah).
  3. Realisasi kebenaran (agama, moral) tidak cukup hanya mengandalkan persuasi. Ia memerlukan kekuatan untuk W2430_IMG_20131112_140321merealisasikannya. Sebagaiman ide kebebasan, persaudaraan dan persamaan memerlukan negara untuk merealisasikannya.
  4. Perlu dibedakan antara babakan sejarah yang dialami umat Islam dengan apa yang dialami oleh Kristianitas. Menyamakan kedua sejarah merupakan ketidakarifan. Tidak pula tepat membandingkan peran ulama di dunia Islam dengan sistem kependetaan yang ada di dunia Kristen. Karena memiliki peran yang memang berbeda. Kalaupun didapati adanya ulama-ulama yang menghalangi perkembangan ilmu atau melegitimasi penguasa yang korup; itu adalah efek kebodohan dan nafsu; bukan bersumber dari doktrin. Perlu juga jeli melihat sejarah Barat, agar tidak melihatnya dari satu dimensi (dimensi kemajuan semata); tetapi juga perlu dipahami bagaiman kerugian kemanusiaan yang muncul (baik dalam peradaban mereka maupun yang diderita dunia Timur) atas doktrin maupun praktek yang mereka lakukan.
  5. Nasionalisme yang ditolak adalah yang chauvinistik, sebagaimana direpresentasikan dunia Barat dalam watak imperial-nya, yang tampak jelas dalam kegaduhan dunia dalam awal abad dua puluh dan sebelumnya.
  6. Sedekah (pemberian) merupakan ajaran dasar Islam. Sedekah memang bukan satu-satunya cara untuk menghilangkan kemiskinan, sebagaimana dipromosikan oleh sebagian orang. Tetapi bukan berarti memberikan sedekah merupakan kesalahan, karena ia merupakan dasar keberagamaan seseorang. Solusi sistemik untuk mengentaskan orang dari kemiskinan tetap dibutuhkan.
  7. Program sosialisme (dalam arti sosialisme moderat), sesuai dengan Islam asal mengedepankan aspek religiusitas dalam prakteknya (tidak melikuidasinya).
  8. Persoalan Islam dan wanita, Muhammad Al Ghazali lebih mengacu pada teks-teks; yang menyatakan persamaan moral antara pria dan wanita; maupun mengenai kedudukan kepemimpinan lelaki atas wanita. Mengenai pendidikan bagi kaum perempuan, hal yang perlu didukung, Mengenai partisipasi politik perempuan dalam parlemen (atau politik umumnya) yang diperlu dipertimbangan adalah ekses keluarga dan sosialnya.
  9. Mengenai pembatansa kelahiran, Al Ghazali menolak jika dijadikan sebagai program nasional. Walaupu kontrol kelahiran tidak-lah terlarang, apalagi dalam kasus-kasus khusus.

Refleksi :

  1. Ada faktor yang menjadi titik persamaan terkait dengan relasi agama dan politik dalam polemik kedua tokoh di atas. Yaitu mengenai perlawanannya terhadap tirani politik. Sehingga common problem yang dihadapi adalah terkait dengan tirani politik. Tirani politik bisa termanifestasi dalam segala bentuk rezim, rezim kerajaan maupun rezim sosialis yang muncul di dunia Islam pada tahun 50-an dan 60-an abad lalu.
  2. Nasionalisme di dunia Islam saat ini sudah menjadi fakta sosial. Hampir semua negara di dunia Islam ditubuhkan berdasarkan nasionalisme. Nasionalisme di sini tentu saja (secara ideal) tidak memaksudkannya sebagai nasionalisme model imperealis (seperti nasionalisme Eropa pada abad-abad lalu). Fakta sosial juga, mayoritas rakyat tetap memeluk Islam. Bagaimana relasi yang harus dibangun antara agama dan negara dalam konteks ini ?
  3. Problem kemiskinan dan problem kaum perempuan juga tetap menjadi problem dunia kita. Fakta sosialnya negeri-negeri muslim adalah negeri miskin (sehingga program negara kesejahteraan, tetap menjadi relevan).
  4. Pembebasan Perempuan (jika istilah ini bisa mewakili fenomena yang ada sekarang) telah terjadi di seluruh dunia Islam; entah sesuai dengan jalur yang tepat atau mengacu begitu saja pada dasar liberalisme peradaban Barat. Islam dan peran perempuan tetap akan menjadi wacana yang terus akan dibicarakan.
  5. Faktor globalisasi, informasi maupun ekonomi, menjadi faktor yang menyeragamkan problem yang dihadapi dunia Islam. Globalisasi ini tentu saja disadari dipiju oleh peradaban Barat. Relasi antara Islam dan Barat (secara pemikiran maupun peradaban) juga akan menjadi wacana dominan.
  6. Nada dan argumentasi yang digunakan oleh Khalid M. Khalid mirip yang digunakan oleh Sutan Takdir Alisjahbana dalam polemik kebudayaan yang muncul di Indonesia tahun 1930-an, terutama terkait dengan sikap kita terhadap peradaban Barat.

Ilmu dan Budaya Ilmu

IMG01188-20131031-1841Franz Rosenthal, seorang orientalis terkenal, menulis bahwa sebuah peradaban memiliki kecenderungan dengan berpusat pada satu konsep tertentu, lebih dari konsep-konsep lainnya, yang kemudian memberikan karakter khas bagi peradaban itu. Dalam peradaban Islam, konsep  itu adalah konsep ‘ilmu. Konsep ilmu inilah yang mendominasi dan mencirikan peradaban Islam (dalam manifestasi klasiknya) [KT, 1-2].

Konsep Ilmu

Dengan merujuk kepada Al Qur’an sebagai sumber Islam kita memahami betapa pentingnya konsep ilmu dan peranannya dalam Islam. Salah satu indikasi dari penekanan konsep ilmu ini dalam Islam adalah perulangan penggunaan konsep-konsep itu dalam beragam variasi semantiknya. Ilmu merupakan kata ketiga yang menempati tabulasi frekuensi terbesar dalam Al Qur’an setelah kata Allah dan Rabb. Konsep-konsep penting lain dalam pandangan dunia Islam, semisal keadilan (‘adl), juga memiliki frekuensi penggunaan yang besar (melalui beragam variasi kata maupun sinonim dan antonimnya). Besarnya frekuensi ini merupakan salah satu indikasi, bukan satu-satunya indikasi pentingnya konsep ini dalam pandangan dunia Islam, karena kita juga dapat menemukan satu konsep yang hanya digunakan dua kali, kata syura (musyawarah), yang memiliki arti besar dalam politik Islam [KP, 34-35]

‘Ilm berakar pada kata ‘alamah yang berarti tanda, simbol atau lambang, yang dengannya seseorang atau sesuatu dikenal. Sumber pengetahuan dalam konsep Islam adalah Tuhan, karena Dia-lah yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Ilmu terkait dengan kebenaran (al haq) dan kepastian (al yaqin), sebagai anti-tesis dari kesalahan (al bathil), keraguan (al syakk) dan dugaan (al zhann). Ilmu dalam Islam juga memiliki sifat yang holistik, yang merupakan refleksi dari konsep tauhid yang mendasar. Ayat wahyu menegaskan kecocokannya dengan ayat-ayat Tuhan yang lain dalam alam, sejarah maupun psikologi manusia itu sendiri. [KP 66, 67,70].

Secara logis pengetahuan harus diikuti okeh perbuatan yang baik. Pengetahuan juga memiliki signifikansi bagi perkembangan spiritual pribadi Islam yang benar. Mereka yang memiliki pengetahuan yang mampu menjaganya dari perbuatan yang salah dan mendorongnya melakukan tindakan yang benar disebut sebagai mereka yang memiliki hikmah. [KP 71, 78]

IMG01189-20131031-1841Pengetahuan memiliki sifat yang tak terbatas. Al Quran menggambarkan bahwa di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui (12:76). Oleh karenanya kita diperintahkan untuk mencari pengetahuan lebih banyak, sebagaimana Musa mencari pengetahuan dari seorang hamba Allah yang darinya ia menggali banyak hikmah. Nabi Muhammad juga diperintahkan untuk berdoa agar ditambahkan ilmu (20:114). [KP :114]

Konsep pengetahuan, akan lebih jelas dengan melihat pula kebalikannya maupun memahami sinonimnya. Medan semantik pengetahuan (dalam Al Qur’an) juga memasukkan dalam konsep-konsep sinonimnya; proses dan hasil perenungan (tafakkur dan tadabbur), pemahaman (fiqh), petunjuk spiritual (huda) dan cahaya (nur), kebenaran (haq), keyakinan (yaqin), dan iman dan taqwa. Antitesi pengetahuan adalah tidak mengetahui (la ya’alamun), tanpa pengetahuan (bighairi ‘ilm), subhah (skeptis), syakk (ragu), raib (ragu, curiga), zhann(dugaan), hawa (keinginan),bathil (salah), zhulman (kegelapan) dan jahl (kebodohan). Para ulama klasik memahami jahl sebagai lawan langsung dari ‘ilm. (Sementara beberapa orientalis, berdasarkan analisis semantik, memahami jahl sebagai lawan kata hilm (kesantunan)). [KP:79,82]

Budaya Ilmu

Budaya Ilmu ialah wujudnya keadaan dimana setiap lapisan masyarakat melibatkan diri, baik langsung atau tidak, dalam kegiatan keilmuan dalam setiap kesempatan [BI 29]. Ia juga merujuk pada wujudnya satu keadaan dimana setiap tindakan manusia, baik pada skala individu maupun masyarakat diputuskan dan dilaksanakan berdasarkan ilmu. Dalam budaya ini, ilmu merupakan keutamaan tertinggi dalam nilai peribadi maupun masyarakat; individu dan masyarakat terlibat dalam memberi bantuan, kemudahan dan pengakuan yang tingggi terhadap individu maupun lembaga yang melibatkan dalam pencarian dan penyebaran pengetahuan. Masyarakat berbudaya ilmu juga menilai negatif terhadap sifat jahil, bebal dan anti-ilmu. [BI 29]

Pentingnya budaya ilmu ini bagi sebuah peradaban adalah karena ia merupakan syarat bagi kejayaan dan kekuatannya. Bangsa yang kuat (secara fisik-material) tanpa ditunjang budaya ilmu yang baik akan terserap oleh peradaban lain yang lebih baik budaya ilmunya. Dari sejarah kita memahami bagaimana suku Jerman yang menaklukan imperium Romawi di abad ke-4, justru terserap ke dalam budaya Romawi, demikian pula pasukan Mongol yang terserap ke dalam peradaban Islam maupun Cina yang lebih kuat budaya ilmu-nya. [BI 11-12]

 

Imam Ghazali dan Budaya Ilmu

Imam Ghazali dalam upayanya membangkitkan ilmu-ilmu agama (ihya ‘ulumu-ddiin) memulai-nya dengan menulis buku pertama dengan buku mengenai ilmu (Kitabul ‘Ilm). Dari buku ini kita bisa memahami bagaimana konsep dan budaya ilmu direpresentasikan dalam peradaban Islam klasik.IMG01190-20131031-1842

Kitab Ilmu ini dimulai dengan bab mengenai Keutamaan Ilmu serta Keutamaan Belajar dan Mengajar. Melalui kutipan-kutipan dari Al Qur’an, Hadist maupun ucapan-ucapan penuh hikmah dari tokoh-tokoh pendahulu Imam Ghazali mengungkapkan keutamaan tiga aspek mendasar ilmu di atas; ilmu itu sendiri, belajar dan mengajarkannya. Demikian pula beliau mengutarakan argumentasi rasional atas keutamaan ilmu. Menurut beliau keutamaan sesuatu muncul jika ada bandingannya dengan yang lain seperti keutamaan kuda atas keledai, karena faktor kecepatannya walaupun memiliki kesamaan dalam kemampuannya memikul beban. Ilmu merupakan keutamaan pada dirinya, secara mutlak, tanpa kaitan (bandingan) dengan yang lain. Beliau juga mengungkapkan, sesuatu itu berharga dan diminati terbagi dalam tiga kategori (1) diminati sebagai sarana memperolah yang lain (2) diminati karena dirinya sendiri (3) diminati karena dirinya sendiri sekaligus sebagai sarana memperoleh yang lain. Ilmu diminati karena dirinya sendiri sekaligus sarana untuk memperoleh yang lain.

Selanjutnya beliau menerangkan mengenai klasifikasi ilmu yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Mengenai ilmu yang terpuji dan tercela, serta keutamaan ilmu-ilmu akhirat (ilmu mu’amalah-dalam arti etis).

Setelah membahas mengenai kerancuan makna yang muncul di zamannya terkait dengan ilmu-ilmu yang dibutuhkan oleh setiap orang, serta pembahasannya mengenai ilmu debat; beliau membahas mengenai adab belajar dan mengajar. Selanjutnya membahas berbagai penyakit terkait ilmu dan tanda-tanda ulama akhirat dan ulama busuk. Ini merupakan pembahasan mengenai tanggung jawab ilmiah bagi seseorang maupun etika ilmiah.

Pada akhirnya buku ini diakhiri dengan pembahasan mengenai akal, hakikat dan pengertiannya serta perbedaan tingkat manusia sesuai dengan akalnya.

 

[KT] Knowledge Triumpant, Franz Rosenthal. Brill, 2007

[KP] Konsep Pengetahuan Dalam Islam, Wan Mohd. Nor Wan Daud. Pustaka, 1997

[BI] Budaya Ilmu, Satu Penjelasan, Wan Mohd. Nor Wan Daud. Pustaka Nasional Singapura, 2003

[IPT] Ilmu dalam Perspekif Tasawuf, Al Ghazali, Karisma 1996 (Terjemahan Kitab Al ‘Ilm dari Ihya ‘Ulumuddin)

 

Menegaskan Diri dan Kekakuan untuk Koreksi Diri

Pernahkan, saat belanja di Indomaret atau Alfamart, uang kembalian kita yang cuma 100 atau 200 rupiah itu apakah mau disumbangkan ? Apa yang kita lakukan ? Kadang-kadang saya menjawab, “Tidak”. Pernah sampai raut muka kasirnya kaget, karena suara jawaban yang rada keras. Apa sih susahnya menyumbangkan 100 atau 200 atau 300 rupiah saja ? Kadang-kadang saya merasa perlu belajar menyatakan “Tidak”, untuk menegaskan hak kita (asertif) atau memberi pemahaman agar orang lain menghormati hak kita atau merebut kembali hak (kita) yang dicederai orang lain (misalnya tanpa konfirmasi uang kembalian kita ternyata kurang 50 rupiah).

Menegaskan diri kadang memang sulit. Rasa tidak enak, sungkan sering menghalangi kita untuk menghalangi kata “Tidak” yang muncul dalam hati kita untuk kita ucapkan. Alih-alih, justru kita mengatakan “Ya”, walaupun dalam hati sebenarnya “Tidak”.

Anak-anak, jika dalam atmosfir yang tidak kondusif di rumah (bisa karena kita terlalu galak, menakutkan bagi mereka), biasanya lebih susah untuk menegaskan diri mereka. Mereka mungkin akan lebih banyak diam dibandingkan suka bertanya atau menolak klaim kita atas kebenaran. Misal, jawaban ulangan yang benar tapi disalahkan, jika anak tidak asertif biasanya ini adalah nasib yang diterima begitu saja, tanpa ada upaya untuk menyatakan atau merebut haknya yang dicederai. Tapi kalau anak sendiri sering dicederai haknya di rumah (sering merasakan ketidakadilan di rumah), apa bisa dia berkata “Tidak” jika dizalimi di luar sana.

Hal lain terkait sikap asertif adalah kerendah-hatian kita untuk menerima kebenaran dari orang lain. Kadang-kadang memang kita dalam posisi yang salah. Jadi bukan aib untuk mengoreksi tindakan kita. Tantangannya adalah tidak mudah untuk mengoreksi diri. Ada semacam rigiditas (kekakuan) untuk koreksi diri, karena melihat kebenaran dari orang lain semacam ancaman bagi otoritas diri kita atau senioritas kita atas orang lain.

Spirit Idhul Adha

Pekan lalu sholat jumat di musholla Departemen Keuangan, Puputan Renon, Denpasar. Khatib saat itu membahas mengenai hikmah atau nilai spiritual ‘Idhul Adha. Berikut ringkasannya, sejauh yang teringat.

1. Pertama, spirit mendekatkan diri kepada Allah. Bahwa tujuan ber-qurban adalah pendekatan diri kepada Allah. Sebagaimana arti kata qurban itu sendiri. Penerimaan Allah terhadap qurban yang kita berikan bergantung dari basis keimanan yang melatari pengorbanan kita. Basis inilah yang menjadi nilai. Kisah pengorbanan Habil dan Qabil menjadi hikmah buat kita, bahwa hanya korban yang diberikan karena landasan taqwa saja yang diterima oleh Allah. Daging dan darah tidak dapat mengantarkan kita pada keridhaan-Nya, hanya taqwa yang dapat mengantarkan kita pada keridhaan-Nya. Kisah Habil juga memberi pelajaran pada kita, selain keikhlasan dan ketaqwaan yang menjadi basis pengorbanan, pemberian atau korban yang kita berikan juga adalah korban yang terbaik yang dapat kita berikan, bukan korban yang sekedarnya saja.

2. Kedua, spirit berkorban adalah spirit untuk berbagi. Spirit untuk memberi. Syariat mengajarkan, daging korban yang kita korbankan tidak kita konsumsi sendiri, ia dibagikan juga kepada mereka yang meminta maupun yang tidak meminta karena menjaga kehormatan diri-nya.

3. Ketiga, spirit cinta kepada Allah. Kisah Ibrahim dan keluarganya memberikan hikmah kepada kita tentang cinta dan tertib-tertibnya. Refleksi cinta kepada-Nya terletak pada kecepatan respon kita terhadap perintah-perintah-Nya, istilahnya syur’atul istijabah. Begitulah Ibrahim merespon perintah mengorbankan anaknya dengan cepat, begitu pula Ismail cepat merespon perintah itu dengan tanpa jeda mengatakan ‘Ayah, Lakukanlah apa yang telah diperintahkan (Allah). Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.’ Perhatikan kata-kata terakhirnya, betapa rendah hatinya Ismail mengatakan ‘Insya Allah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar’, bukan dia sendiri yang bisa bersabar, karena telah banyak orang diuji sebelumnya dan mampu bersabar. Menarik pula, betapa demokratisnya Ibrahim mendiskusikan perintah itu dengan anaknya, melalui tutur kata yang santun.

Ke Arah Memahami Al Qur’an, Nasehat Al Maududi

Jika orang belum pernah melakukan studi Al Qur’an sebelumnya, tetapi dengan latar belakang pembacaan terhadap buku-buku dengan beragam topik yang dibaca sebelumnya, akan terkejut ketika mendapatkan sistematika susunan Al Qur’an. Al Qur’an adalah buku yang unik dalam sistematika penyusunannya, berbeda dengan buku-buku pemikiran atau agama yang ditulis oleh manusia. Mendekati Al Qur’an dengan menganggapnya seperti buku biasa pada umumnya akan membuat kita gagal menemukan mutiaranya. Jika buku-buku pada umumnya berkisar pada pokok tema dan disusun secara sistematis ke dalam bab-bab yang spesifik membahas detail-detail tema itu, tidak demikian dengan Al Qur’an. Sepintas justru akan didapati topik-topik beragam yang tertebar di sana-sini, perpindahan dari satu topik ke topik yang lain secara cepat, perubahan modus pembicaraan yang juga berubah-ubah. Hal ini, jika kita tidak memahami kekhasan Al Qur’an, akan membuat kita justru menduga tidak adanya koherensi antara satu bagian dengan bagian lain dalam Al Qur’an. Demikan pula dengan gaya yang digunakan; pembicaraan mengenai substansi keyakinan keagamaan tidak megunakan model penalaran skolastik atau penalaran logika formal yang kering, aspek legalnya juga tidak disusun seperti sebuah kitab Undang-Undang, pembicaraannya mengenai pengetahuan alam tidak menggunakan model pembicaraan buku-buku Ilmu Pengetahuan. Dengan demikian perlulah dipahami bahwa Al Qur’an bukanlah buku-buku pemikiran ataupun doktrin keagamaan pada umumnya, ia memiliki keunikan dalam gaya maupun sistematikanya. Menganggapnya seperti buku-buku biasa justru akan menghalangi pemahaman mendasar kita atasnya.

Lalu bagaimanakah kita memahami subjek dan tema utamanya ? Bagaimana kita memahami sistematikanya ? Apa sasaran utamanya ? Aspek mendasar yang perlu dipahami sebelum menjawab pertanyaan itu adalah pertanyaan Siapa yang membuatnya ? Al Qur’an adalah wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-Nya (Muhammad SAW). Kenyataan Al Qur’an yang bersumber Ilahiah inilah yang perlu ditegaskan sebelum kita memahami tema, subjek maupun sistematikanya. Posisi antara Tuhan, Rasul dan Wahyu-Nya dapat kita rekonstruksi melalui point-point berikut :

  1. Tuhan telah menciptakan alam semesta, dan menciptakan manusia di bumi. Dia memberikan kepada manusia kapasitas untuk memahami (merenung dan berpikir), dengan kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk, dan dengan kebebasan untuk memilih.
  2. Walaupun menikmati status demikian tinggi manusia harus memahami bahwa hanya Allah-lah Pencipta dan Penguasanya. Manusia hanya memiliki kekuasaan yang relative di hadapan Tuhan yang absolut. Kepada Allah manusia harus memberikan kepatuhan, ketaatan dan ibadahnya. Dalam konteks ini manusia diberikan kehidupan sementara di dunia, untuk kemudian mesti memberikan pertanggungjawaban kepada-Nya di akhirat.
  3. Untuk melaksanakan misinya di dunia ini, Tuhan membekalinya dengan petunjuk, sehingga manusia memulai kehidupannya tidak dengan kebodohan dan kegelapan. Jalan petunjuk itu disebut sebagai Islam.
  4. Melalui manusia pilihan (Rasul) Allah menurunkan petunjuk-Nya kepada manusia. Rasul-rasul telah diutus kepada manusia dalam setiap periode dan tanah yang berbeda-beda. Hingga pada akhirnya Allah mengutus Rasul-Nya yang terakhir (Muhammad) kepada seluruh umat manusia.

Melalui kenyataan ini kita bisa memahami bahwasanya subjek utama yang dituju oleh Al Qur’an adalah MANUSIA, yang kepadanya Qur’an berbicara mengenai yang mebuatnya sukses atau gagal dalam kehidupan ini. Tema utama kitab ini adalah memberikan petunjuk mengenai konsep-konsep mendasar dalam kehidupan manusia, bahwa konsep-konsep terkait Tuhan, Alam Semesta dan Manusia yang dikonsepsikan oleh pikiran manusiawi mereka pada hakikatnya bertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya; dan Al Qur’an memberikan konsep-konsep itu dalam terang realitas (hakikat) sesungguhnya. Sasaran utama dari kitab ini adalah mengajak manusia untuk menempuh jalan lurus, meneranginya dengan petunjuk dari-Nya.  Jika kita memahami ketiga aspek dasar ini, pahamlah kita bahwa Al Qur’an tidaklah akan menyimpang dari subjek, tema utama dan sasaran mendasar ini. Apa yang kita temukan di dalamnya pembicaraan mengenai doktrin, filosofi, kepercayaan, moralitas, ilmu pengetahuan, kisah, hukum legal, sejarah tidak semata-mata untuk membicarakan itu saja tetapi untuk memberikan petunjuk, merubah salah konsepsi dan menerangkan hakikat medasar dari realitas.

Continue reading

Bersama Kesulitan Ada Kemudahan

Fa-inna ma’al usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran (Alam Nasyrah : 5-6)

Ayat di atas umumnya sudah kita hafal. Dalam terjemahan Depag, maknanya “Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.”

‘Usr bermakna semua bentuk kesulitan. Yusr, bermakna semua yang positif. Kata ma’a dimaknai setelah (sesudah),  sesuai dengan ayat Allah yang lain di surat At Thalaq : 7 (Sayaj’aluLlahu ba’da ‘usrin yusran). “Kelak Allah akan memberi kemudahan sesudah kesulitan.” Kata ma’a digunakan untuk makna bahwa tidak lama setelah kesulitan ada kemudahan. Saking dekatnya, seolah-olah tidak ada jarak waktu antara kesulitan dan kemudahan itu. Maknanya, selalu ada kemudahan saat kita menghadapi kesulitan, asal sabar menghadapi kesulitan itu. ‘Usr (kesulitan) dalam dua ayat di atas berbentuk definite, sedangkan yusr (kemudahan) berbentuk indefinite. Kaidahnya mengatakan, jika dua kata diulang dua kali berbentuk definite, maknanya sama; jika dua kata diulang dua kali berbentuk indefinte, maknanya berbeda. Berdasarkan kaidah ini, satu kesulitan selalu disertai dengan dua kemudahan. (Quraish Shihab).

Kesulitan tidaklah absolut, karena kemudahan selalu bersamanya. Setiap kali beban memberatkan, Allah melapangkan dada dan membantu meringankan beban itu. (Sayyid Qutb)

Besama kesulitan ada kemudahan, bukan setelahnya. Maksudnya kemudahan itu ada dalam waktu yang dekat. (Abul A’la Al Maududi)

Pengulangan dalam dua ayat ini menekankan bahwa kesulitan dan kemudahan selalu ada bersama (co-exist), saling mengikuti satu setelah yang lainnya. Setelah menempuh puncak (kesulitan), kehidupan akan memasuki medan ketenangan. Kesuksesan selalu harus ditempuh melalui rangkaian kesulitan-kesulitan. Setiap penempuh jalan kehidupan harus berani mengarungi badai untuk mencapai tujuannya. Ini adalah kaidah utama kehidupan, termasuk bagi mereka yang mengarungi jalan kebenaran. (Amin Ahsan Islahi)

Ath-Thalaq ayat 7, sayaj’aluLlahu ba’da ‘usrin yusran, lebih khusus memberi harapan kepada suami-istri yang dalam kesempitan tekanan-tekanan ekonomi dalam rumah tangga; sesudah susah nanti akan mudah. Tetapi, Alam Nasyrah : 5-6, konteksnya adalah untuk memimpin perjuangan sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah. Maknanya dalam perjuangan, bersama kesulitan selalu ada kemudahan. (Hamka)

Islam antara Misi dan Metodologi, Pemikiran Ja’far Syeikh Idris

Islam bukan semata-mata sebagai risalah atau misi yang diserahkan kepada kebebasan manusiawi untuk menentukan metode perealisasiannya. Islam juga memberikan panduan metodologis (manhaj) untuk merealisasikan risalahnya dalam kehidupan ini. Untuk memahami aspek metodologis ini, sirah memberikan bimbingannya kepada kita. Dalam sirah kita menemukan perealisasikan Islam dalam berbagai scope kehidupan.

Setidaknya ada dua kutub ekstrim memahami interaksi risalah dan metode ini. Kutub pertama menolak adanya fase-fase dakwah Rasul untuk diterapkan pada situasi kontemporer dengan beralasan sudah sempurnanya Risalah yang dibawanya dan ia harus diterapkan dalam totalitasnya, tanpa penangguhan apapun. Kutub kedua menyatakan, karena situasi kontemporer telah kembali kepada alam jahiliyah maka berlaku kaidah dakwah seperti pada fase awal dakwah Rasul yang berkonsentrasi pada aspek-aspek tertentu dari Risalah (Islam), missal masalah aqidah dan ibadah semata tanpa memberikan jawaban atas masalah hokum atau permasalah sosial masyarakat kontemporer.

Kedua pendekatan ini tidak dapat dipertahankan. Pendekatan pertama, melalaikan fakta penting bahwa Islam adalah risalah sekaligus metode. Cara bagaimana pesan risalah diterapkan adalah bagian dari pesan risalah tersebut. Posisi kedua gagal dalam memahami fakta, bahwa tidak mungkin memindahkan situasi sejarah keseluruhannya dari satu periode kepada masa setelahnya. Setidaknya ini dapat dipahami dari fakta, bahwa pada masa Rasulullah  mereka adalah satu-satunya komunitas Islam di zaman itu, tidak ada yang lain.

Pendekatan yang tepat adalah memahami persamaan maupun perbedaan fase dakwah Rasulullah dengan situasi kontemporer. Jika kondisi kontemporer memang menghendaki, perlulah adanya kelompok terorganisasi sebagaimana kelompok awal didikan Rasulullah. Karena memang Rasulullah tidak membiarkan individu muslim ketika itu lepas-bebas tanpa organisasi.  Tetapi perlulah dipahami perbedaan karakteristik organisasi (jama’ah) kontemporer ini dengan jama’ah di zaman Rasul yang merupakan satu-satunya jama’ah muslimin ketika itu. Perlu juga dipahami bahwa Rasul pun tidak membatasi pesannya, dalam dakwahnya, pada pesan-pesan keimanan semata. Tetapi juga menerangkan akibat-akibat sosial dan moral dari keimanan itu. Dalam memanggil manusia kepada agama ini, Rasul pun menggunakan cara yang rasional dan tidak dogmatis. Sehingga menjadi picik pandangan kita jika membatasi pesan dakwah kita hanya pada ajaran Islam periode makkah saja, apalagi orang sekarang sudah terbiasa dengan perincian-perincian dari ajaran Islam.

Teori Perubahan Sosial dalam Islam, Pemikiran Ja’far Syeikh Idris

Pemikiran mengenai perubahan sosial sangat dipengaruhi oleh world-view (pandangan dunia) yang diterima. Pandangan dunia materialistik tidak akan memberi ruang bagi peran Tuhan maupun efektifitas ibadah atau doa atau nilai-nilai moral dalam proses perubahan sosial yang dilakukan. Bagaimana konsep perubahan sosial, sesuai pandangan hidup Islam ?

“Sesungguhnya Allah  tidak akan mengubah apa yang ada pada sebuah bangsa, hingga mereka mengubah diri sendiri.” (Ar Ra’d :11). Ayat ini memberikan inspirasi kepada kita konsep dasar tentang perubahan sosial dalam pandangan Islam.  Nuktah-nuktah penting dapat diturunkan dari memahami ayat di atas :

  1. Allah, Tuhan yang Esa memiliki kebebasan bertindak secara mutlak. Ini berlawanan dengan konsepsi materialistik yang hanya memercayai sebab-sebab material (natural) saja dalam kehidupan.
  2. Umat manusia memiliki kebebasan bertindak terbatas. Hal ini berarti menentang konsepsi deterministik terhadap tindakan manusia, baik determinasi rasial maupun determinasi sosial-ekonomi. Manusia memiliki kebebasan. Bidang utama kebebasan itu adalah kebebasan pada sisi (dalam) diri mereka.
  3. Perubahan digerakkan dari dalam diri manusia sendiri
  4. Perubahan keadaan manusia dilakukan Tuhan sebagai hasil perubahan diri manusia itu sendiri.

Pada umumnya orang memahami perubahan dalam konteks ayat di atas adalah perubahan dari situasi buruk kepada situasi yang lebih baik. Tetapi, para ulama klasik justru sebaliknya memahami konteks perubahan pad ayat di atas adalah dari situasi baik kepada situasi yang lebih buruk. Berdasarkan analisis mereka (ulama klasik) atas ayat-ayat yang lain, situasi yang berubah itu terkait dengan nikmat Allah. Nikmat pada dasarnya dalah anugrah (rahmat) dari Allah yang diberikan secara cuma-cuma dan tidak menunggu manusia mengambil inisiatif melakukan hal-hal yang baik baru kemudian diberikan nikmat. Nikmat, dalam bentuk material maupun spiritual, adalah bentuk murni dari rahmat (kasih-sayang) Tuhan kepada umat manusia. Jika manusia bersyukur, nikmat akan dipelihara dan ditingkatkan. Jika manusia ingkar, Tuhan akan menghukum mereka dengan menarik kembali sebagian nikmat-Nya, kalau tidak keseluruhan, dari mereka. Jika mereka kemudian bertaubat, nikmat itu akan kembali. Sehingga meningkatnya kualitas hidup sebuah bangsa atau kemunduran dan keruntuhan sebuah masyarakat diatur oleh hukum moral kesyukuran ini. Cf (34:17, 16:112).

Tetapi kehancuran atau keruntuhan sebuah masyarakat hanya muncul sesuai dengan prinsip-prinsip berikut:

  1. Kehancuran atau hukuman tidak ditimpakan kepada sebuah bangsa sebelum bangsa itu mendapat peringatan secukupnya atau diberitahu melalui mekanisme yang menyadarkan mereka bahwa mereka memang berbuat salah. Cf (28:59,26:209, 6:131)
  2. Kehancuran tidak terjadi secara langsung, instan begitu kesalahan dilakukan. Ini juga merupakan sebentuk rahmat Tuhan. 22:48, 18:8-59
  3. Keruntuhan sebuah bangsa memiliki waktunya sendiri. 15:4-5
  4. Sebelum sebuah bangsa dihancurkan, mungkin bangsa itu ditimpa kesusahan yang ebrat yang membuat mereka bertaubat dan kembali ke jalan benar (30:41)
  5. Hukuman tidak dilakukan untuk menghapus seluruh dosa di dunia ini. Jika ditujukan untuk menghapus dosa niscaya semua bangsa akan dihancurkan (6:61)

Jika ketidaksyukuran adalah sebab kehancuran, sebaliknya kesyukuran juga adalah sebab kebangunan dan kemakmuran material dan spiritual sebuah masyarakat. Syukur ini pertama-tama berwujud pengakuan atas kehambaan kita kepada Allah.  Ini adalah sumber kebahagiaan kita. Kebahagiaan ini dapat berwujud nikmat materi (7:96, 5:66), kebahagiaan spiritual (16:97), atau berupa kemenangan atas musuh-musuh (3:68, 22:38, 40:51)

Berdasarkan konsepsi di atas apakah tugas yang diemban oleh kita (umat Islam) ? Tugas kita adalah tidak menunggu keruntuhan masyarakat. Tetapi memberikan peringatan dan memandu mereka ke jalan yang benar. Proses memperingatkan masyarakat itu juga harus berlandaskan situasi internal (jiwa) yang dekat dengan Tuhan (dalam bentuk keikhlasan kepada-Nya dan membersihkan jiwa mereka dari penyakit hati yang menghalangi nikmat-Nya).

Tugas Persaksian, Filosofi Dakwah Al Maududi

Konsep kesaksian merupakan salah satu konsep fundamental dalam Islam. Islam dibangun di atas dasar konsep persaksian ini. Kalimat syahadat merupakan kesaksian terhadap kebenaran mendasar dalam kehidupan. Bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya. Mereka yang mati dalam mempertahankan kebenaran mendasar ini disebut sebagai syahid (saksi).Menjadi saksi dengan demikian merupakan hal elementer dalam kehidupan keberagamaan kita. Tuhan sendiri menjadi saksi bagi kebenaran, demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, bahwa tiada tuhan selain Dia. Tugas rasul adalah juga menjadi saksi bagi kebenaran ini. Beliau menjelaskan hingga terang kebenaran ini melalui kata dan perilakunya.

Tugas persaksian atas kebenaran, setelah terputusnya kenabian, dibebankan kepada ummat. Dengan demikian setiap individu dalam ummat ini memikul beban persaksian. Setidaknya harus ada korps khusus untuk melaksanakan tugas persaksian ini. Tugas persaksian inilah yang menjadi raison d’etre umat islam dimunculkan Allah sebagai umat pertengahan. Kelalaian terhadap tugas persaksian ini juga menjadi sebab buruknya nasib yang menimpa umat, sebagaimana nasib yang menimpa kaum Yahudi yang melalaikan tugas persaksian ini di masa lalu.

Menjadi saksi bagi kebenaran adalah menjelaskan kebenaran itu secara terang, nyata dan tak terbantahkan. Tugas persaksian itu dijalankan melalaui dua langkah, persaksian melalui kata dan persaksian melalui tindakan. Persaksian melalui kata, menjelaskan kebenaran yang kita terima dari Tuhan melalui lisan dan tulisan, dengan menggunakan semua sumber daya ilmu yang dimiliki. Persaksian melalui tindakan, menjelaskan kebenaran melalui upaya membentuk kehidupan pribadi dan sosial-politik kita sesuai dengan nilai-nilai kebenaran itu, dalam semua aspek kehidupan.

Pergulatan Iman dan Materialisme

Hadist menyatakan mereka yang membaca surah al kahfi di hari jumat akan terhindar dari fitnah dajjal. Tentu ada hikmah di sini, mengapa membaca (tentu dalam arti sebenarnya) akan menghindarkan kita dari fitnah dajjal. Apa hikmah membaca surat al kahfi pada hari jumat ? Abul Hasan An-Nadwi menegaskan mengenai tema pokok surat al Kahfi ini adalah pergulatan antara Iman dan Materialisme.

 

Siapa dajjal ? Dajjal adalah siapapun yang menyesatkan pandangan hidup kita. Dajjal bisa berbentuk sebuah ideologi, sistem maupun sebuah peradaban. Sistem yang menyesatkan manusia dari jalan kebenaran merupakan sistem dajjal.

 

Tema pokok al kahfi adalah pertentangan antara iman dan materialisme. Materialisme termanifestasi dalam keyakinan maupun sikap hidup. Keyakinan yang mengingkari eksistensi Tuhan maupun hari akhir serta faktor-faktor kekuasaan Tuhan di dunia ini. Materialisme dalam keyakinan semata-mata meyakini sebab-sebab material dalam fenomena alam dan kehidupan. Tidak ada tempat bagi kemahakuasaan Tuhan dalam fenomena alam atau tiada relevansi hukum moral dalam kehidupan, merupakan pokok utama keyakinan ini. Keyakinan akan kehidupan akhirat ditolak secara tegas oleh keyakinan materialisme. Materialisme dalam tindakan dan sikap termanifestasi dalam tindakan dan sikap mengutamakan kehidupan dunia. Pencapaian kekayaan dan kekuasaan adalah nilai utama. Sikap hidup maupun tindakan materialistik tidak selalu berakar pada keyakinan hidup materialistik pula. Dia dapat muncul dari mereka yang memiliki keyakinan religius, namun nilai-nilai religiusitas itu tenggelam dan dianggap tidak relevan dengan kehidupan yang riel dan nyata.

 

Kisah-kisah yang dimaktubkan dalam surat al kahfi menegaskan sempitnya perspektif materialistik dalam memandang dan menyikapi fenomena kehidupan ini.

 

Kisah Ash-habul Kahfi, kisah mengenai upaya para pemuda yang beriman kepada Allah beberapa kurun setelah wafatnya nabi ‘Isa (Jesus) menyelamatkan iman mereka dengan berlindung ke dalam sebuah gua. Hijrahnya mereka ke dalam sebuah gua untuk menghindari penindasan penguasa zalim. Penguasa zalim yang tidak memahami iman dan tidak menyukai keimanan tumbuh subur di teritorialnya. Allah menidurkan mereka selama 300 dan 9 tahun. Sebuah kuasa Allah. Dalam kekuasaan-Nya sebab-sebab material (alamiah) menjadi hal yang relatif. Ini merupakan kritik terhadap keyakinan materialistik yang memandang bahwa sebab-sebab alamiah akan mengarahkan dunia ini sebagaimana seharusnya, dengan melupakan faktor kuasa Tuhan.

 

Kisah dua orang pemilik kebun, kisah mengenai keangkuhan seorang pemilik kebun yang diberikan kekayaan (pertanian) besar tapi tidak mengakui faktor kekuasaan Allah yang menumbuh-kembangkan semua yang dimilikinya. Kisah mengenai seorang pemilik kebun yang merasa kehebatan (ilmu dan produktifitas-nya) saja yang menjadi faktor utama kesuksesannya. Sikap hidupnya yang penuh kemewahan (berbangga dengan jumlah harta dan anak), dan merasa semuanya akan kekal dan tidak akan dimintai tanggung jawab apapun di akhirat kelak. Petani yang beriman memahami faktor “maasya Allah, la quwwata illa billah” dalam kehidupannya, dalam kesuksesan profesinya dan produktifitas pertaniannya. Kesadaran akan relatifnya nilai kekayaan, harta dan banyaknya anak. Ini merupakan kisah yang halus, kisah betapa seorang yang beriman (beragama) pun dapat terjatuh pada sikap materialistik dalam hidupnya.

 

Kisah Musa dan Khidhir merupakan kisah populer. Sebuah kisah mengenai terbatasnya sudut pandang yang sering kali kita gunakan dalam memahami atau menilai fenomena kehidupan. Apa yang kita ketahui, kadang hanya merupakan zahir-nya saja dari kehidupan dunia ini. Kisah ini menegaskan perlunya kita memiliki kerendahan hati untuk mengakui keterbatasan pandangan empiris kita terhadap kehidupan. Ilmu empiris hanya bergulat dengan alam syahadah (empiris). Sedang yang gaib, tiada kita ketahui kecuali yang diajarkan oleh Allah.

 

Kisah Zulqarnain, kisah mengenai seorang yang diberikan kekuasaan besar tetapi menggunakannya secara bijak dan adil. Kisah mengenai pentingnya memadukan sebab-sebab alamiah (material) dengan visi moral yang bersumber dari keimanan. Sehingga kekuasaannya tidak berubah menjadi dajjal yang menyesatkan dan menzalami banyak orang.

 

(Refleksi atas buku Pergulatan Iman dan Materialisme, Hikmah Surat Al Kahfi. Beberapa waktu lalu (April 2013) saya mendapatkan buku ini di sebuah toko buku loak, setelah sekitar 12 tahun berusaha mencarinya. Pertama kali membaca buku ini di perpustakaan Mesjid UI. Temanya dan pembahasannya yang inspiratif memberi ketertarikan tersendiri).

Kepuasan Ruhani

Bila hidup kita hanya untuk diri sendiri, terasa hidup ini sempit dan dangkal. Jika kita hidup untuk orang lain, untuk sebuah cita, terasa hidup ini luas dan dalam. Usia (hidup) kita tidak diukur dengan bilangan tahun, tetapi dengan bilangan perasaan. Kita melipatgandakan hidup kita jika hidup untuk orang lain, sesuai kadar perasaan yang kita berikan kepadanya.

 

Kepuasan ruhani yang murni terletak pada ketika  kita bisa memberikan hiburan, kepuasan, kepercayaan, harapan atau kegembiraan kepada orang lain. Ada kalanya sulit membedakan antara menerima dan memberi, setiap kali kita memberi-setiap kali itu pula kita menerima. Bukan karena adanya pemberian balik dari orang lain, tetapi karena munculnya kegembiraan dan kepuasan dalam memberi sebagaimana munculnya kegembiraan dan kepuasan yang diterima orang lain karena aktivitas memberi kita.

 

(Diparafrasekan kembali dari ungkapan-ungkapan Sayyid Qutb)

 

 

Memimpin adalah Menderita

Leiden is lijden. Memimpin itu menderita. Sebuah ungkapan yang diucapkan oleh seorang pemimpin Masjumi dahulu, Mr. Kasman Singodimejo. Mr. Roem membuat karangan dengan judul “Memimpin adalah Menderita” untuk mengenang kepemimpinan H. Agus Salim dengan memulainya dengan kutipan ungkapan Mr. Kasman itu.

 

Sejarah kehidupan H. Agus Salim di masa pergerakan dan perjuangan kemerdekaan merupakan refleksi dari ungkapan itu. Salah seorang diplomat luar negeri mengungkapkan H. Agus Salim merupakan manusia yang hebat, kelemahannya cuma satu, ia miskin seumur hidupnya.

 

Tetapi ukuran menderita bagi seorang pemimpin tidak semata-mata pada deraan kemiskinan. Tetapi juga terletak pada hilangnya waktu yang dia habiskan bersama dengan keluarga dan orang dekatnya. Memimpin berarti menyerahkan sebagian besar waktunya untuk kepentingan orang lain (orang banyak). Karena memimpin terkait dengan visi, ini berarti waktunya akan habis untuk merealisasikan visi itu.

 

Tidak selalu sebuah visi dengan mudah direalisasikan. Ada saja hambatan yang mungkin dialami. Atau parahnya kadang ada salah sangka dari banyak orang terkait pilihan-pilihan yang diambil oleh seorang pemimpin. Disalahpahami orang lain merupakan derita sendiri bagi seorang pemimpin.

 

Memimpin berarti memutuskan. Banyak masalah dihadapi tapi bukan dalam modus biner, di mana hanya ada dua pilihan yang harus dipilih salah satu saja. Solusi yang dihadapi kadang terkait dengan mengompromikan dua pilihan. Atau memecahkan sebuah dilema, sebuah pilihan yang mungkin tidak didukung opini banyak orang tetapi mesti dipilih karena prinsip-prinsip yang diyakini dan diperjuangkan oleh pemimpin itu. Kesendirian dalam memikul resiko seperti ini merupakan derita pula.

Kebermaknaan Dakwah dan Tarbiyah

Pertama kali kita terlibat dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah biasanya diikuti oleh antusiasme yang besar. Setiap kegiatan yang terkait dengan dakwah dan tarbiyah, biasanya kita ikuti dengan keterlibatan penuh. Keterlibatan hati, keterlibatan pikiran maupun tenaga untuk menyukseskan aktivitas-aktivitas itu. Mengikuti aktivitas dakwah dan tarbiyah (dimanapun kita dibesarkan bersamanya) merupakan sesuatu yang bermakna bagi diri kita. Sesuatu yang memberikan arti bagi keberadaaan diri kita. Sehingga kadang sulit dipisahkan antara kita dan dakwah, atau kita dan tarbiyah, karena dia sudah menjadi bagian dari diri kita, ia sudah menjadi identitas kita.

Bagaimana kita menjelaskan kebermaknaan tarbiyah dan dakwah itu ? Ini mungkin hal yang berbeda-beda bagi setiap orang. Sebagian menemukan makna karena merasa mendapatkan tambahan ilmu dalam aktivitas tarbiyah mereka. Sebagian mendapatkan makna karena menemukan keeratan relasi, kesetiakawanan dalam aktivitas tarbiyah dan dakwah mereka. Sebagian menemukan maknanya karena adanya ketenangan bersama dengan teman-teman satu group dakwah dan tarbiyah. Atau sebagian menemukan makna, karena menemukan jodohnya di sana. Yang jelas,  ada banyak penjelasan yang mungkin dikemukakan oleh banyak orang yang telah menemukan maknanya dalam dakwah dan tarbiyah.

Seiring dengan berlalunya waktu. Seiring dengan berubahnya kehidupan kita. Seturut pertumbuhan dan perkembangan jamaah dakwah yang kita ikuti. Kebermaknaan tarbiyah dan dakwah ini kadang terkikis. Setelah sebagian aktivis berumah tangga. Setelah jamaah dakwah ini tumbuh dan berkembang menjadi entitas politik yang membesar. Seturut banyaknya ujian, cobaan atau godaan yang menimpa jamaah dakwah ini. Makna-makna yang kita terobsesi dengannya dahulu menjadi terkikis. Semangat yang hadir dahulu menjadi surut. Keterlibatan yang antusias berubah menjadi keterlibatan setengah hati. Atau mungkin, kemudian kita menarik diri dari aktivitas-aktivitas itu, enggan terlibat kembali. Atau mungkin kita menjadi suka berdiri di luar, menjadi pengamat diam-diam dan tidak lagi menjadi partisipan. Apalagi ketika cobaan besar menerpa jamaah dakwah ini. Saat di mana para kadernya di-bully di mana-mana. Saat masyarakat banyak bertanya-tanya mengenai kelayakan kita untuk dipercaya.

Saat-saat seperti ini, ada baiknya kita secara pribadi menanyakan kembali sebuah pertanyaan, “Untuk apa kita tarbiyah ? Untuk apa kita terlibat dalam dakwah ?”. Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan makna bagi keberadaan kita dalam dakwah dan tarbiyah. Jawaban yang kita berikan bukanlah jawaban normatif, yang bisa kita dapatkan dari buku teks dakwah dan tarbiyah. Tetapi jawaban yang berasal dari pemahaman subjektif kita atas dakwah dan tarbiyah, apa maknanya bagi hidup kita, bagaimana kita memberikan makna terhadapnya, dan bagaimana pula ia merubah diri kita.

Jawaban-jawaban terdahulu, yang pada awalnya menstimulasi keterlibatan kita dalam dakwah dan tarbiyah, barangkali tidak mencukupi lagi. Karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi terkait dengan status diri maupun status jamaah dakwah ini. Mencari ilmu mungkin bukan alasan yang tepat untuk kelangsungan makna tarbiyah kita, karena mayoritas guru kita bukan mereka yang memiliki kapasitas penguasaan ilmu-ilmu keagamaan yang mumpuni. Walaupun percikan ilmu tetap akan kita dapatkan dalam aktivitas itu. Rasa kebersamaan (ukhuwah), perhatian saudara yang sangat besar terhadap kita, yang dulu kita dapatkan juga bukan jawaban yang tepat saat ini, karena berubahnya status kita. Banyak kader yang disibukkan oleh masalah-masalah domestik (kerumahtanggaan) mereka, sehingga meminta mereka memberikan perhatian ekstra besar kepada diri kita bukanlah hal yang mudah.

Makna adalah sesuatu yang melampaui diri kita. Makna dakwah dan tarbiyah bagi kita harus kita temukan pada sisi-sisi yang melampaui narsisme atau egoisme pribadi kita. Bahwa hadirnya kita dalam tarbiyah ini bukan semata-mata karena tarbiyah saja, tetapi kita hadir bersama dalam sebuah jamaah yang memiliki cita-cita yang melampaui diri kita. Cita-cita yang menggerakkan kita untuk berkontribusi di dalamnya.

Transmisi Pemikiran Sayyid Qutb di Indonesia Melalui Terjemahan Buku

Pemikiran Sayyid Qutb sesungguhnya jauh-jauh hari, mungkin bahkan sejak era 50-an dan 60-an, sudah dikenal di Indonesia. Jika pada tahun 2000-an ini kita menyaksikan booming penerjemahan magnum opus beliau, Fi Zhilalil Qur’an secara lengkap, sesungguhnya usaha menerjemahkan zhilal sudah dimulai sejak era 80-an. Menjelang Sayyid Qutb digantung, bahkan pernah terdengar permintaan dari ulama Indonesia untuk mengirim Sayyid Qutb ke Indonesia untuk menjadi juru dakwah. Buya Hamka dalam pendahuluan tafsirnya, Al Azhar juz I, menyebutkan salah satu tafsir yang memberikan pengaruh dalam tafsirnya itu adalah tafsir zhilalil qur’an-nya Sayyid Qutb.

Buku Sayyid Qutb awal yang bisa kita temukan (tentu saja ini masih tentatif) adalah terjemahan buku beliau Al Mustaqbal Li Hadza Dien yang diterjemahkan oleh A. Rahman Zaenuddin, MA dengan judul Islam dan Masa Depan, yang diterbitkan Media Dakwah 1972.  Buku ini juga diterjemahkan dan diterbitkan oleh berbagai penerbit setelahnya. Al Ma’arif menerbitkan terjemahan buku ini melalui versi bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Masa Depan di tangan Islam, 1986. Shalahudin Press, Yogya juga menerjemahkan buku ini pada tahun 1987 dengan judul Islam Menyongsong Masa Depan.

Inilah Islam, terjemahan dari Hadza ad-Dien, sebuah buku yang membahas mengenai karakteristik metodologi perjuangan Islam (yang harus melalui tangan manusia, tanpa menunggu mukjizat) diterbitkan oleh Bina Ilmu (terj, Jamaludin Kafie) pada tahun 1986. Sebelumnya Jamaludin Kafie dengan juga menerjemahkan beberapa karangan Sayyid Qutb (termasuk pengantar Fi Zhialil Qur’an, dan Afrahur-ruh) dan diterbitkan juga oleh Bina Ilmu dengan judul Hari Esok Untuk Islam pada tahun 1982. Media Dakwah juga menerjemahkan buku Hadza ad-Dien ini dengan judul Inilah Dienul Islam pada tahun 1987.Terjemahan awal Ma’alim Fi Thariq, karya mengenai metode pergerakan Islam diterjemahkan oleh A. Rahman Zainuddin 1980, Media Dakwah dengan judul Petunjuk Jalan.

Usaha awal menerjemahkan Fi Zhilalil Quran dilakukan oleh Bey Arifin dan Jamaludian Kafie yang (sejauh yang saya ketahui) menerjemahkan dua juz pertama fi zhilalil qur’an dengan judul Tafsir Di Bawah Naungan Al Qur’an juz kesatu dan kedua. Tafsir ini diterbitkan oleh Bina Ilmu Surabaya pada tahun 1985. Pesantren al Hidayah Sumatra Barat (binaan Buya Malik Ahmad) pada awal tahun 90-an juga menerbitkan juz pertama tafsir Zhilal ini. Pada awalnya sebagai buletin jumat. Setelah lengkap satu juz baru diterbitkan dengan judul Tafsir Al Qur’an, fi zhilalil qur’an juz 1 pada tahun 1992.

Buku lain yang juga diterjemahkan adalah buku Khashaisut Tasawwuril Islam, yang setidaknya diterbitkan oleh dua penerbit Al Ma’arif Bandung, dengan judul Ciri Khusu Citra Islam dan Landasan Dasarnya. Penerjemahan dilakukan oleh Abu Laila dan Muhammad Thohir, pada tahun 1988. Tahun 1990 Pustaka (Salman) Bandung, menerbitkan juga terjemahan buku ini dengan judul Karakteristik Konsepsi Islam (judul yang lebih representatif).