Antara Pencari Ilmu dan Aktivis [Kritik Al Ghazali dan Ibnul Jauzi]

Membandingkan dua risalah, Ayyuhal Walad [Kepada Anakku Dekati Tuhanmu (terbitan GIP)] karya Al Ghazali dan Laftatul Kabad fi Nasihatil Walad [Pesan Untuk si Buah Hati (terbitan AkBar)] karangan Ibnul Jauzi, ada hal-hal yang menarik. Dua-duanya adalah risalah ringkas.

Dari judul risalahnya ada kesamaan tujuan, memberikan nasihat kepada sang Anak. Dalam konteks Al Ghazali anak yang dimaksud adalah anak didiknya; sedang dalam konteks Ibnul Jauzi anak yang dimaksud adalah anak kandungnya. Murid Al Ghazali meminta sang guru untuk memberikan nasihat ringkas untuknya; sedangkan Ibnul Jauzi menulis risalah untuk anaknya yang malas dalam mencari ilmu.

Pokok pikiran utamanya, Al Ghazali memulai dengan mengingatkan pentingnya pengamalan ilmu. Bahwa ilmu tanpa amal tidaklah menghasilkan kebahagiaan. Ilmu wajib diamalkan. Beramal adalah kewajiban.

Ibnul Jauzi menegaskan keutamaan mencari ilmu. Dalam rangka memberikan semangat kepada sang Anak, Ibnul Jauzi menceritakan sejarah pribadinya dalam semangat mencari ilmu. Amal tanpa ilmu adalah kesia-sia-an.

Gagasan yang menarik selanjutnya adalah untuk Al Ghazali menenkankan aktivitas bangun di waktu malam untuk beribadah, menahan lapar, tidak mementingkan dunia, menjauhi penguasa, tidak berlebihan berbicara dan yang semisalnya [dapat kita sebut sebagai aktivitas zuhud] untuk mencapai pribadi ideal yang dicitakannya. Penekanan aktivitas zuhud diarahkan untuk mencapai kondisi spiritual yang mencerahkan. Dalam terminologi lain kita bisa menyebutnya sebagai asketisme[zuhud] spiritual.

Aktivitas zuhud juga ditekankan oleh Ibnul Jauzi. Cuma penekanannya adalah mengarahkannya untuk mencapai kondisi intelektual yang mencerahkan. Mengkontraskan dengan terminologi sebelumnya kita bisa menyebut ini sebagai asketisme[zuhud] intelektual. {Istilah ini juga dipopulerkan oleh sejarwan Indonesia, Sartono Kartodirdjo yang mengambil inspirasi dari sastra jawa [mesu budi]}.

Tentu saja kontras di atas tidak berarti satu sisi lebih dipentingkan dibanding yang lain. Tidak berarti Ibnul Jauzi lebih mementingkan ilmu sedang Al Ghazali lebih mementingkan ‘amal. Dalam masing-masing risalah dua sisi ini dibahas sesuai konteksnya masing-masing.

Tipologi karakter “anak” pada dua risalah ini bisa kita manfaatkan juga untuk pemahaman sosial mengenai tipologi penggiat dakwah atau juga tipologi gerakan dakwah.??

[Artikel ini sudah dimuat di www.ukhuwah.or.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s