Adakah Basis Rasional Bagi Keyakinan Keagamaan di tengah Modernisme ? Telaah Malik Bennabi

Apakah ada basis rasional bagi keyakinan keagamaan di tengah derasnya arus sekularisasi dunia modern ini ? Di tengah serbuan pemikiran sekularisme dan skeptisisme yang memposisikan agama tak lebih sebagai fenomena sosial, atau lebih parah sebagai konstruksi manusia belaka; apakah keyakinan keagamaan memiliki basis rasional bagi eksistensinya ? Dalam skema skeptisme Cartesian sebagai mode pemikiran modern, yang menempatkan kejelasan dalam pikiran sebagai basis rasional setiap keyakinan; sebagaimana diktumnya yang terkenal “Cogito Ergo Sum” (aku berpikir maka aku ada) adakah tempat bagi agama dalam kehidupan modern ?

Di atas merupakan serangkaian pertanyaan yang berusaha dipecahkan oleh Malik Bennabi melalui karyanya Fenomena Quran (La Phenomenique Qur’anicum/ Zhahirah Qur’aniyah).

Menurut Malik fenomena keagamaan merupakan kenyataan antropologis dalam sejarah manusia. Manusia selalu bergulat dengan problem spiritual, metafisika dalam setiap periode sejarahnya. Dari suku sederhana di masa lampau dan modern, hingga peradaban-peradaban kuno dan modern, agama tetaplah merupakan fenomena dalam kehidupan mereka. Bennabi menegaskan bahwasanya manusia adalah hewan religius (homo religious). Pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan yang didengungkan di era modern ini pada dasarnya adalah artifisial. Pada dasarnya, menurut Bennabi, pertentangan itu adalah antara dua agama; antara penjelasan materialistik dan penjelasan teistik terhadap problem-problem metafisika yang ada.

Setelah melakukan afirmasi terhadap fenomena keagamaan, Bennabi melanjutkan analisisnya dengan melakukan analisis terhadap fenomena kenabian dan fenomena wahyu. Basis utama dasar analisisnya adalah fenomenologi dari kedua hal tersebut. Sebuah kejadian mendapatkan justifikasi kepentingannya dari perulangan yang terjadi. Kenabian dan Wahyu tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena kenabian dan wahyu tidak muncul hanya sekali sepanjang sejarah, tetapi ia terjadi berulang kali. Itulah sebabnya kenabian merupakan fenomena.

Untuk memahami fenomena keagamaan monoteistik ini (kenabian dan wahyu) dan untuk menetapkan kebenaran Islam (Wahyu dan Nabi-nya) Bennabi membuat perbandingan komparatif antara gerakan kenabian Jeremiah (yang sejarahnya diakui paling otentik dalam perjanjian lama) dengan gerakan kenabian Muhammad, juga perbandingan antara Perjanjian Lama dan Quran. Afirmasi kenabian seseorang bisa dilakukan dengan melakukan kritik psikologis dan historis terhadap mereka. Kritik historis terkait dengan sejarah biografis mereka (utamanya sisi moral kelayakan mereka dipercaya), sedang kritik psikologis terkait dengan persaksian mereka terhadap fenomena wahyu yang mereka terima (adanya kekuatan yang memaksa “aku” sang Nabi itu untuk melaksanakan perintah). Perbandingan yang dilakukan Bennabi menunjukkan paralelisme fenomena yang dialami Jeremiah dan Muhammad.

Untuk memahami lebih jauh fenomena wahyu Bennabi membangun perbandingan antara perjanjian lama dan Quran secara kritik historis maupun unit kuantitatif (ayat-ayat). Wahyu merupakan fenomena yang turun secara teratur; tidak sekaligus diturunkan. Ini merupakan aspek edukatif pertumbuhan awal agama. Sejarah historis al Quran sebagai wahyu; merupakan satu-satunya yang bebas dari kritik tekstual. Secara unit kuantitatif (ayat) Bennabi meneliti isu-isu yang relevan dari beberapa sampel ayat yang diambil, dan menyimpulkan salah satu sisi kemukjizatan Quran dari aspek kesatuan kuantitatif ayat-ayatnya. Bennabi melakukan perbandingan secara khusus kisah Yusuf dalam Perjanjian Lama dan Quran; untuk menemukan perbedaan dan persamaan relatif antara keduanya. Bagaimanapun juga Quran datang untuk membenarkan yang terdapat dalam kitab-kitab wahyu terdahulu dan melakukan kritik terhadap penyimpangan yang dilakukan umat terdahulu (Yahudi-Nasrani) terhadap wahyu yang diterima.

[Artikel ini sudah dimuat di www.ukhuwah.or.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s