Kelayakan Untuk Kalah dan Misteri Masa Kelam Islam

Apa yang muncul pertama kali dalam ingatan kita ketika kata proklamasi kemerdekaan Indonesia disebut ? Barangkali mayoritas akan mengatakan Soekarno-Hatta. Kenapa dua tokoh ini begitu identik dengan proklamasi kemerdekaan ? Karena dari sejarah kita diajarkan bahwa kedua tokoh inilah yang berperan penting. Apakah kemudian kemerdekaan Indonesia semata-mata hanya sejarah terkait dengan tokoh-tokoh politik ini ? Penulisan sejarah kita atau minimal sejarah yang kita dapatkan biasanya memang berputar disekitar tokoh-tokoh politik.

Apa yang muncul pertama kali ketika perang salib disebutkan ? Barangkai mayoritas akan mengatakan Shalahudin Al Ayyubi. Kepahlawanannya begitu legendaris. Tahukah kita bahwa sebelum Shalahudin Al Ayyubi muncul dan merebut kembali al Quds, Al Quds telah diduduki tentara salib selama kurang lebih lima puluh tahun. Apakah kembalinya al Quds harus menunggu munculnya seorang Shalahudin. Apa yang terjadi selama lima puluh tahun ? Sebagaimana kita juga dapat bertanya apa yang terjadi selama empat puluh lima tahun sebelum Indonesia mencapai kemerdekaannya ?

Penulisan sejarah yang memusat pada tokoh, kadang, memberikan efek figuritas pada cara pandang kita terhadap permasalahan sosial. Menunggu kedatangan atau menyerahkan solusi kepada tokoh-tokoh. Shalahudin hanyalah puncak dari gerakan selama lima puluh tahun. Shalahudin dan jenius-jenius Islam yang lain tidak muncul dari ruang hampa, tetapi melalui proses dan mekanisme sosial yang terencana. Demikianlah DR. Majid Irsan Al Kilani, menyimpulkan dari penyelidikannya yang dituangkan dalam bukunya Hakadza Zhahara Jil Shalahidin wa hakadza ‘adat al quds [Beginilah munculnya generasi Shalahudin dan beginilah kembalinya al Quds], yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sangat panjang, “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib, Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina”. Selama lima puluh tahun para ulama telah mulai melakukan proses reformasi, melalui pendidikan yang bermula dari gerakan Al Ghazali dan Abdul Qadir Jailani, yang menerapkan konsep al-insihab wal-audah [mengasingkan diri untuk kemudian kembali ke tengah masyarakat]. Kemudian dilanjutkan oleh institusi-institusi pendidikan setelah mereka, hingga memunculkan generasi baru yang siap merebut al Quds dan mendirikan negara baru yang berhasil mengkonsolidasikan dan merangkul semua potensi yang ada [daulah al mahjar] dengan tokoh-tokoh utama mereka Nurudin Zanki, Shalahudin al Ayyubi, Ibn Naja dan lainnya.

Pesan utama dari hal ini adalah adanya kontinuitas kerja sejarah. Mengapa reformasi dilakukan melalui pendidikan, tidak melalui politik misalnya ? Ini terkait dengan problem utama yang diderita ummat. Jatuhnya Al Quds ke genggaman tentara Salib hanyalah efek lanjutan yang diderita oleh ummat. Problematika eksternal adalah bagian minor dari permasalahan yang ada. Problem mayor-nya terletak pada kondisi internal yang layak untuk kalah [al qabiliyyah lil hazimah], layak untuk terbelakang [al qabiliyyah li at takhalluf], layak untuk dijajah [al qabiliyyah lil isti’mar]. Analisis ini muncul dari filosofi dasar perubahan berikut, bahwa perubahan masyarakat [ke arah positif atau negatif] selalu bermula dari perubahan diri [anfusihim]. Muatan diri diantaranya adalah pemikiran, nilai dan budaya. Perubahan-perubahan pada pemikiran, nilai dan budaya akan berimbas pada perubahan sosial, ekonomi dan politik. Pemikiran, nilai dan budaya merusak pada akhirnya akan merusak jaringan sosial ummat. Sampai pada akhirnya sebuah masyarakat dapat mengalami bunuh diri sosial.

Membaca sejarah Islam kita biasanya diberikan periodisasi terkait dengan periodisasi politik. Misalnya kita kita mengenal pembabakan sejarah berdasarkan masa dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyah, dinasti Ustmaniyah. Pusat pembabakan ini adalah di sekitar raja-raja dan politik. Sementara sejarah sosial, sejarah ekonomi, sejarah pendidikan menjadi terabaikan. Membaca buku DR. Majid Irsan Al Kailani ini, kita mendapatkan perspektif baru untuk memahami kaidah-kaidah sosial perubahan. Beberapa ide dasar buku ini merupakan pengembangan lebih lanjut beberapa konsep yang dipopulerkan olen Malik Bennabi, walaupun nama Bennabi hanya disinggung cuma sekali dalam buku ini ketika mengutip koefisien keterjajahan [al qabiliyyah lil isti’mar] dan tidak muncul dalam daftar pustaka, setidaknya sebagaimana yang ada pada terjemahan bahasa Indonesia buku ini. Wallahu a’lam.

[Artikel ini sudah dimuat di www.ukhuwah.or.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s