Problem Peradaban : Percikan Pemikiran Malik Bennabi

Malik Bennabi merupakan salah satu pemikir sosial yang dimiliki dunia Islam di abad modern ini. Pemikirannya menyambung pemikiran Ibn Khaldun beberapa abad lampau.

Buku-buku yang ditulisnya kemudian diberi tajuk Problem Peradaban (Musykilat al Hadharah). Problem peradaban inilah yang menjadi inti pemikiran sosialnya.

Malik bin Nabi mendefinisikan peradaban sebagai objektifikasi dari kehendak dan kuasa masyarakat manusia dalam konteks ruang dan waktu . Secara model matematis Bennabi memformulasikan peradaban = manusia + tanah + waktu. Ketiga faktor ini merupakan modal awal setiap masyarakat untuk memasuki proses peradaban, tetapi ini baru syarat cukup. Untuk munculnya peradaban, ketiga modal dasar tadi harus terintegrasi sedemikian rupa sehingga memuncul gerak. Faktor pengintegrasi atau katalisator bagi proses peradaban itu adalah pemikiran keagamaan. Ini adalah syarat perlu.

Dari definisi peradaban di atas, pemahaman peradaban sangat terkait dengan pemahaman kita mengenai masyarakat. Peradaban merupakan pencapaian dari masyarakat. Pada sisi lain untuk memahami peradaban juga penting untuk memiliki kesadaran terhadap faktor waktu. Peradaban merupakan fenomena sejarah. Oleh sebab itu Bennabi memberikan perhatian yang besar pada upaya untuk memahami masyarakat dan kaidah yang mengatur kesejarahannya.

Secara leksikal masyarakat mengacu pada sekumpulan manusia yang memiliki kebiasaaan dan adat yang sama, hidup di bawah sistem legal yang sama dan berbagi interest yang sama. Bennabi menambahkan pentingnya acuan faktor waktu dalam memahami masyarakat, karena masyarakat merupakan entitas yang bisa berubah. Inilah pentingnya pendefinisian secara dialektik. Secara dialektik, dengan memperhatikan faktor waktu dan faktor psiko-sosial dalam kehidupan kolektif manusia, Bennabi mendefinisikan masyarakat sebagai kelompok manusia yang secara terus menerus mengubah ciri sosialnya melalui pembentukan sarana perubahan untuk dirinya, dan memenuhi tujuan yang dicari melalui proses-proses perubahan. Pendefinisian ini memfokuskan kita pada tiga faktor fundamental berikut : gerak sebagai karakteristik pengelompokan manusia, pembentukan sarana gerakan, dan fungsi dan arah gerakan.

Ketika membedah masyarakat secara teliti ke dalam komponen utamanya, masyarakat manusia merupakan gabungan dari tiga kategori esensial atau tiga dunia : pribadi (asykhas), ide (afkar) dan benda (asy-ya’/objek). Sejarah, sebagai kumulasi aksi social manusiawi, secara esensial merupakan hasil dari interaksi dialektik ketiga dunia ini yang terbentuk dalam kontinum ruang dan waktu. Namun gerak yang terkonsentrasi hanya bisa muncul melalui pola struktural di dalam dan antara ketiga dunia itu. Pola structural itulah yang disebut jaringan relasi sosial. Fungsi dari jaringan ini adalah menghubungkan setiap komponen dari ketiga dunia ini sehingga menjadi terintegrasi secara harmonis. Bennabi memberikan prioritas pada dunia ide dibanding kedua dunia lainnya, pada dunia ide-lah kekayaan sebuah masyarakat berpangkal.

Pentingnya dunia ide dalam eksistensi social memberikan framework mendasar bagi motivasi dan modalitas operasional dari gerak dan perilaku sosial. Pada titik ini Bennabi membagi idea ke dalam dua hierarki, idea yang mentransformasi manusia dan ide yang mentranformasi benda/objek. Kategori pertama merepresentasikan kekuatan yang mengkondisikan energi vital masyarakat, kategori dua membentuk kekuatan yang mengkondisikan materi (dunia benda).

Problem Peradaban di Dunia Islam

Menaggapi fenomena penjajahan, keterpurukan politik, kemiskinan, keterbelakangan di dunia muslim banyak diognasa yang muncul untuk mengidentifikasi problem yang ada. Bennabi menyatakan bahwa substansi problem yang ada di dunia Islam adalah problem peradaban. Ini berarti sebagai sebuah masyarakat, komunitas, ummat Islam telah kehilangan peradabannya. Secara normatif, Islam tidaklah hilang dari masyarakat muslim, tetapi efektifitas sosialnya yang memudar. Terkait dengan interaksi antara peradaban barat dan ummat Islam, dalam rangka memacu diri untuk mencapai kesetarafan dengan peradaban barat, banyak kalangan melakukan peniruan secara artifisial.

Bennabi mengingatkan bahwa peradaban tidak dicapai dengan menumpuk banyak produk peradaban lain. Untuk membangun peradaban kita harus mulai dari analisis yang tepat mengenai faktor-faktor peradaban yang ada. Dari analisis ini kemudian kita bisa memformulasikan langkah-langkah pemecahannya

Rujukan :

1. The Quranic Phenomena (terj. Zhahirah Quraniyah)

2. On the Origin of Society (terj. Milad Al Mujtama’)

3. Question of ideas in Muslim World (terj. Musyakilat Al Afkar)

4. Membangun Dunia Baru Islam (Terj. Syuruth An Nahdhah dan Musykilat Al Afkar)

[Artikel ini sudah dimuat di www.ukhuwah.or.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s