Zuhud atau Asketisme : Ekonomi, Intelektual dan Politik

Hidup zuhud atau asketik tidak mesti disamakan dengan penyangkalan terhadap kenikmatan hidup duniawi. Walaupun kadangkala kita seringkali mendengar kehidupan kebiaraan atau kepertapaan sebagai prototipe yang ditampilkan untuk menggambarkan kehidupan orang-orang yang zuhud. Substansi dari zuhud bukanlah menyangkal kenikmatan duniawi, tetapi lebih memilih atau mengalihkan dirinya kepada satu aktivitas yang diyakini memiliki nilai keutamaan lebih.

Berdasarkan pengertian di atas kita bisa mendapatkan banyak sekali model aktivitas yang berakar atau dimotivasi atau merupakan efek tidak disengaja dari aktivitas kezuhudan. Zuhud yang diorientasikan kepada kehidupan akhirat atau spiritual. Ini merupakan tipe zuhud yang sering kita pahami. Arah zuhud ini adalah bagaimana membersihkan jiwa dari penyakit hati, kemudian menghiasi jiwa dengan kebaikan-kebaikan. Aspek utama yang ditekankan pada zuhud ini adalah kesalehan spiritual.

Kadangkala orang zuhud tetapi tidak untuk menyangkal dunia tetapi berorientasi untuk menguasai dunia. Kajian Weber mengenai keterkaitan antara etika protestan dengan spirit kapitalisme menggambarkan hubungan asketisme yang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi. Arah asketisme ini adalah kerja keras dan hemat. Tentu saja tidak mesti akibat [pertumbuhan ekonomi kapital] terprediksikan terlebih dahulu ketika pemikiran mengenai zuhud atau asketisme itu berkembang pada awalnya.

Asketisme atau zuhud juga bisa diarahkan ke arah kerja intelektual. Sebut saja ini sebagai zuhud atau asketisme intelektual, sebagaimana sejarawan Sartono Kartodirdjo mengatakannya. Model zuhud ini mengarahkan aktivitasnya ke arah pencapaian intelektual. Para ilmuwan adalah prototipenya. Karena pencapaian karya intelektual tidak akan berhasil kecuali mampu mengarahkan aktivitasnya ke arah dunia pemikiran dan tidak terikat mati dengan kenikmatan duniawi. Para ulama hadist memberikan gambaran model zuhud intelektual ini. Malam-malam yang dihabiskan untuk meneliti hadist dan mengajarkannya, perjalanan jauh yang dilakukan untuk mencari dan memverifikasi hadist. Demikian pula prototipe-prototipe aktivitas yang dilakukan oleh para ulama atau fuqaha dalam belajar, menulis dan mengajarkan ilmu. Hasil asketisme intelektual ini adalah karya-karya [kitab-kitab] babon dalam bidang ilmu masing-masing. Kontrasnya adalah kehidupan sehari-hari para ilmuwan ini sangat sederhana dan jauh dari kemewahan.

Di ranah politik, zuhud bisa juga kita dapati. Zuhud model ini terkait dengan pilihan untuk menyalurkan hidup mereka untuk kesejahteraan orang banyak, rakyat negeri mereka. Prototipe zuhud ini adalah para negarawan. Lihatlah Mohammad Natsir, H. Agus Salim; yang tampak sangat melarat ketika mereka menduduki jabatan-jabatan kenegaraan. Dalam ungkapan Mr. Kasman Singodimedjo, “Leiden is lijen”, Memimpin itu menderita.

[Artikel ini sudah dimuat di http://www.ukhuwah.or.id]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s