Ayat-Ayat Cinta

Sabtu siang lalu [ 5 april 2008] jadi juga aku dan istri nonton Ayat-Ayat Cinta. Tidak terencana matang memang. Tiba-tiba saja aku usul malam harinya, pagi-pagi sebelum kerja dia minta afirmasi jadi tidak nontonnya.

Aku sempat baca novelnya beberapa tahun lalu tapi cuma sekitar lima bab, istriku sampai tamat. Fachri di novel dan Fachri di film kok lain ya . Di film agak kaku, di buku karakternya menonjol. Di film efek dramatisnya dan komedi banyak ditambah (Fachri dipukul di orang di kereta, keputusan Aisyah merelakan Fachri menikahi Maria — yang membuat sebagian penonton jadi menangis –, kehidupan baru Fachri dengan dua istri, dan kematian Maria). Yang berkesan bagiku justru karakter Saiful yang terlihat matang di film dan karakter teman penjara Fachri yang mengingatkan kepada kisah Yusuf, plus musiknya yang membuat aliran kesedihan ke dalam hati.

Pagi tadi aku tamatkan Ayat-Ayat Cinta (novelnya) yang aku beli selasa lalu di Gramedia ( istriku menamatkan Laskar Pelangi). Karakter Fachri, Aisyah dan Nurul yang ada di novel sangat tipikal aktivis, ini yang di film tidak terungkap.

BTW, filmnya tetap cukup bagus dan perlu diapresiasi positif, sebagai alternatif yang mencerahkan perihal cinta. Sepupuku, seorang pemuda pendiam dan agak kuper, sampai tiga kali menontonnya dan tiga kali menangis !🙂

Ada sudut-sudut keindahan dalam jiwa kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s