Krisis Ghazalian

Kali pertama membaca terjemahan otobiografi intelektualnya Imam Ghazali, al munqidz mina-dhalal, aku menduga krisis yang dialaminya, yang melumpuhkan gairahnya, tersebab karena keragu-raguan atau skeptisisme-nya. Membacanya untuk kali kedua ini ternyata dugaanku salah.

Benar bahwa Imam Ghazali menggunakan keraguan sistematis untuk menganalisis pokok-pokok keyakinan yang dimiliki oleh setiap golongan [teolog, kaum bathini, filosof maupun sufi]. Tetapi pada puncak pencariannya ia telah menemukan sumber keyakinan itu. Fondasi dimana diletakkannya basis pengetahuan akal maupun indrawi itu adalah cahaya yang diilhamkan oleh Allah ke dalam hati manusia. Dan ia mendapati jalan kaum sufi adalah jalan yang tepat untuk mengalami kebenaran. [Tidak sekedar mengetahui]. Kalau dibandingkan dengan Descartes, Descartes mendapati fondasi pengetahuan terletak pada keyakinannya terhadap keraguan dirinya [cogito ergo sum], aku berpikir oleh karena itu aku ada.

Krisis yang melumpuhkan diri Imam Ghazali justru terjadi ketika ia sudah menggapai keyakinan ini. Refleksinya terhadap apa yang telah dilakukan selama ini dan pengetahuan barunya mengenai jalan baru yang diyakininya memberikan ketegangan jiwa yang melumpuhkannya. Hingga para dokter-pun tidak mampu mengobatinya. Hingga kemudian terlepas dari krisis itu dengan meninggalkan semua jabatan publiknya dan menempuh jalan sufi hingga akhir hayatnya.

Hal menarik yang lain terkait dengan otobiografinya ini adalah metodologinya ketika berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran asing [filsafat]. Yang dia lakukan adalah menguasai filsafat kemudian melakukan kritik terhadapnya. Kritik yang dia lakukan pun selektif terhadap problem-problem yang memang bertentangan diametral dengan keyakinan keislamannya. Produk-produk positif dari filsafat, misal logika dan ilmu alam; baginya merupakan kebodohan untuk menolaknya.

Pada akhirnya ia kembali mengajar. Jalan itulah yang ditempuhnya untuk memperbaiki masyarakatnya. Al Ghazali merupakan prototipe sufi yang mau terus belajar dan mengajarkan ilmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s