Dari Panggil Aku Kartini Saja Hingga Habis Gelap Terbitlah Terang

“Panggil Aku Kartini Saja.”

“Yang tidak berani, Tidak menang.”

“Kalau orang Jawa berpendidikan, ia tidak akan lagi mengiakan dan mengaminii saja segala sesuatu yang ingin dikatakan atau diwajibkan kepadanya oleh atasannya.”

“Betapa luas dan indah sebuah sangkar, penuh kenikmatan, bagi burung di dalamnya sangkar itu adalah kurungan.”

“Habis malam terbitlah cahaya, Habis topan datanglah reda, Habis juang datanglah mulia, Habis duka datanglah suka.”

“Aku ingin menjadi hamba Allah.”

Di atas adalah kutipan dari ungkapan-ungkapan Kartini atau kutipan Kartini dari orang lain yang diungkapkannya. Kesan pertama ketika pertama kali membaca surat-surat Kartini adalah betapa cerdasnya dia. Dalam usia yang sangat muda, ia mampu mengungkapkan, menganalisis menyelipkan sinisme yang cerdas dalam tulisan-tulisannya. Kesan kedua adalah keberaniaannya. Sebagaimana semboyannya, “yang tidak berani tidak menang, orang pemberani menaklukkan tiga perempat dunia.” Tragedi, kata kunci selanjutnya, banyak cita-cita dan keinginannya yang kandas; ia menghadapi dilema yang dalam; antara cinta dan kebebasan, antara keberanian dan kehormatan; dilema yang harus dijawabnya bahkan dengan mengorbankan cita-citanya.

Masih belum dibaca semua. Buku Surat-Surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya; terjemahan dari Door Duistennis tot Licht oleh Soelastin Soetrisno. Balai Pustaka juga pernah menterjemahkan sebagian surat Kartini dan diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Armijn Pane. Tapi terjemahan Balai Pustaka menggunakan bahasa Indonesia versi tahun empat puluhan atau tiga puluhan. Buku terbitan Djambatan di atas [Surat-Surat Kartini] diterjemahan akhir tujuh puluhan dengan menggunakan bahasa Indonesia baru [kalau boleh disebut begitu], lebih mudah dipahami.

Menariknya lagi, beberapa judul buku yang terbit terkait dengan Kartini menggunakan judul melalui ungkapan-ungkapan Kartini dalam surat-suratnya. Misalnya, Habis Gelap Terbitlah Terang terbitan Balai Pustaka itu. Ini adalah ungkapan seorang perempuan tua yang memberikan nasihat pada Kartini. Panggil Aku Kartini Saja, karangan Pramoedya Ananta Toer. Atau biografi Berapa Besar Pun Sebuah Sangkar, karangan Elisabeth Keesing, terbitan Djambatan.

Peringatan hari Kartini pada hari ini tersiar berita supir [perempuan] Bus Transjakarta yang melewati TransJakarta Way [menggunakan istilahnya Jaya Suprana] menggunakan kebaya.Anak-anak TK yang berjalan keliling kampung memperingati hari Kartini juga didandani orang tua mereka dengan berkebaya dan bersanggul. Kenapa memperingati Kartini selalu identik dengan memakai kebaya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s