Pengarang Harus Mengatasi Zamannya [HAMKA]

Beberapa waktu lalu ada peringatan 100 tahun Buya Hamka yang diadakan di Al Azhar [detik.com]. Dulu pernah membaca bukunya Tasauf Modern, tetapi buku itu hilang . Ada beberapa juz tafsirnya, Tafsir Al Azhar juz 1, 29 dan 30. Menurut seorang teman, Tafsir Al Azhar adalah tafsir yang paling mudah dipahami di Indonesia.

Beberapa waktu lalu, hari minggu, pergi ke kwitang lihat-lihat buku bekas. Bertemu dengan buku “Kenang2-an Hidup”, Prof. Dr. Hamka. Terbitan Bulan Bintang, tahun 1974. Ada dua jilid. [Sekalian beli buku Tasauf Modern, cetakan barunya di Wali Songo]

Buku itu bercerita mengenai kehidupan masa kecil, remaja hingga Hamka menikah dan menjadi tokoh terkenal. Selain itu di jilid 2 Hamka banyak melakukan refleksi, jadi tidak lagi bernarasi, mengenai sastra, karang-mengarang, sejarah hidupnya, hubungannya dengan tokoh-tokoh lain.

Hamka kecil dikenal sebagai “preman”. Ayahnya Dr. Abdul Karim Amrullah adalah tipe ayah yang galak. Ayah Hamka bercerai dengan ibunya Hamka ketika Hamka kecil. Untuk membuktikan dirinya [bisa seperti ayahnya] Hamka pernah berpetualang sendiri ke Jawa [tapi gagal karena sakit di lampung], pernah juga pergi sendiri ke Makkah. Orang yang berpengaruh pada kepribadiannya selain Ayahnya adalah iparnya [AR. Sutan Mansur] serta H.O.S. Cokroaminoto yang pernah didengarkan pidatonya pada kursus-kursus Sarekat Islam di Yogya [ini yang memberikan sentuhan pergerakan pada jiwa Hamka]. Setelah lama di Makkah, ia sempat bertemu H. Agus Salim di sana dan minta nasehat, baiknya tetap mukim di Makkah atau pulang ke tanah air ?. H. Agus Salim menjawab Makkah tempat belajar dan ibadah tapi kalau ingin berkembang pulang ke tanah air. Yang menarik juga ia [Hamka] pernah jatuh cinta sama gadis sunda yang tidak bisa bahasa melayu di kapal yang membawanya ke Saudi Arabia.

“Pengarang harus mengatasi zamannya.” Ini adalah refleksinya mengenai menjadi penulis. Judul novelnya “Di Bawah Lindungan Ka’bah” sebenarnya adalah judul karangan yang mau dibuat temannya dengan jalan cerita yang lain ; tetapi karena kurang keberanian tidak dilanjutkannya [setelah terbit temannya itu menyesali keraguannya untuk mengarang]. Dengarlah lagi Hamka berefleksi mengenai cinta, “Hakikat hidup adalah laksana pohon yang rindang dan subur. Maka jangalah dicukupkan sehingga hanya mencintai sekuntum dari bunganya, sehelai dari daunnya, serangkai dari buahnya…Cinta ialah airtirta kehidupan”.

Ia pernah bertemu Soekarno [sempat berfoto bersama] di Bengkulu ketika Soekarno di pembuangan. Soekarno mengagumi tulisan-tulisannya yang tersebar; apa lagi setelah tahu Hamka tidak sekolah secara formal. Ironisnya, di tahun 60-an Hamka dipenjara oleh rezim Soekarno karena dituduh menjual informasi kepada Malaysia [Lihat pengantar Tasauf Modern edisi baru]. Di Bandung ia bersahabat dengan Mohamad Natsir dan HM. Isa Ansari yang kemudian ketiganya pernah menjadi anggota Konstituante dari Masyumi. Hamka juga banyak dikritik secara pedas oleh A. Hasan, guru M. Natsir; bahkan sampai A. Hasan mengeluarkan majalah [Al Lisan] dengan tajuk ” Hamka nomor”. Tetapi persahabatan ketiganya [Hamka, Natsir dan Ansari] tidak terganggu dengan kritis tajam sang guru.

Tahun 1938 Hamka membukukan tulisan-tulisannya dalam majalah Pedoman Masyarakat yang bertema kebahagiaan, yang diberi judul “Tasauf Modern”. Usianya ketika itu 30 tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s