Refleksi Makna Pendidikan

Ketika awal-awal ikut mentoring Rohis di sekolah SMA dulu biasa materi yang disampaikan selalu terkait dengan pentingnya tarbiyah Islamiyah [pendidikan Islam]. Kadang kala timbul pertanyaan, apa yang membedakan antara konsep pendidikan Islam yang dilakukan di Rohis ketika itu dengan konsep pendidikan yang ada di sekolah sehari-hari, bukankah ia juga pendidikan ?

Seingat saya salah satu materi yang menarik terkait tema tarbiyah atau pendidikan adalah materi mengenai menjaga fitrah. Fitrah kita butuh penjagaan. Penjagaan itulah yang dilakukan dalam pendidikan. Diri yang dibiarkan begitu saja cenderung untuk menyimpang ke arah yang salah. Dalam diri manusia ada kecenderungan untuk taqwa dan kecenderungan untuk fujur. Dalam ingatan saya salah seorang mentor dulu juga pernah menyampaikan bahwa makna tarbiyah secara bahasa adalah meningkatkan, menjaga dan mengembangkan. Sedangkan secara istilah adalah membentuk kepribadian secara utuh. Dengan menambahkan atribusi Islamiyah maka yang dituju adalah terbentuknya kepribadian islam yang utuh. Jadi tarbiyah atau pendidikan lebih dari sekedar transfer pengetahuan, sebagaimana biasa dilakukan dalam kelas. Pembentukan karakter itulah sasarannya.

J. Drost, dulu pernah menjadi kepala Sekolah Kanisius, mengatakan harus dibedakan antara mendidik dan mengajar. Mendidik terkait dengan membentuk karakter, mengajar terkait dengan transfer pengetahuan atau bagaimana membuat anak menjadi pintar [menguasai pengetahuan]. Tanggung jawab mendidik tidak terbebankan semata-mata kepada sekolah; bahkan yang paling bertanggung jawab adalah keluarga. Sekolah membantu keluarga atau orang tua karena keterbatasan orang tua untuk mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak. Jadi fungsi utama sekolah adalah mengajar, sehingga anak benar-benar menguasai ilmu pengetahuan. Agak salah mendelegasikan tugas membuat anak menjadi baik secara moral semata-mata kepada sekolah; sekolah yang kehilangan fungsi untuk membuat anak menguasai ilmu pengetahuan juga salah secara fungsional. Jadi anak diajar agar pintar [menguasai ilmu pengetahuan], anak dididik agar memiliki karakter [kepribadian]. Pembedaan ini juga tidak mesti pembedaan oposisi biner, karena dengan mengajar kita juga mendidik, tetapi mengajar tidak sama dengan mendidik.

Kita teruskan pengembaraan dengan menemui Paulo Freire. Ia menggagas pendidikan untuk kaum tertindas. Pendidikan yang selama ini banyak dilakukan di sekolah-sekolah pada umumnya sering ia sebut sebagai pendidikan gaya bank. Pendidikan yang selalu mendepositokan pengetahuan terus-menerus dengan harapan mereka bisa mengeluarkan [withdraw] pengetahuannya nanti ketika ujian dilakukan. Pendidikan gaya bank ini kehilangan dialog antara guru dan muridnya. Guru cenderung dilihat mengetahui segala-galanya sedangkan murid tidak tahu. Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan dialogis. Pendidikan diologis berada dalam konteks kultural masyarakatnya. Membebaskan manusia [dewasa] dari buta huruf [illiterate] tidak semata-mata mengajarkan baca tulis, tetapi juga membaca budaya-sosial masyarakatnya.

Kita bertemu dengan Muhammad Qutb. Pendidikan adalah seni membentuk manusia. Potensi-potensi manusia [ruh, akal dan jasad], serta kecenderungan-kecenderungannya yang selalu tarik menarik [antara cinta dan benci, harap dan takut, dsb] harus diharmoniskan melalui pendidikan. Mendidik ibarat menggesek senar-senar potensi dan kecenderungan diri manusia hingga mencapai keharmonisan [seperti harmoni sebuah lagu]. Alat gesek utama untuk mengharmoniskan itu adalah prinsip ibadah kepada Allah.

Mendidik adalah mengadabkan. Tujuan pendidikan adalah membentuk manusia beradab. Manusia beradab adalah manusia yang tahu diri, tahu posisinya dalam semesta raya ciptaan Allah. Kurang lebih begitulah sekilas Syed Naguib Al Attas berkata.

Kita tutup perjumpaan imajiner kita dengan pertemuan dengan Erich Fromm. Belajar, membaca, cinta atau aktivitas yang kita lakukan bisa dilakukan dalam dua modus eksistensial yang berbeda. Satu modus untuk memiliki [to have]; modus menimbun. Aktivitas belajar, membaca atau cinta bisa sekedar untuk menimbun pengetahuan, menimbun informasi atau memiliki objek-objek yang cinta. Modus yang satu lagi adalah modus menjadi [to be]. Belajar adalah membentuk cara berfikir. Membaca adalah berdialog. Cinta adalah kerja. Pribadi produktif berada dalam modus menjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s