Bennabi Tentang Kelahiran Masyarakat

Bennabi memulai dengan membagi masyarakat menjadi masyarakat natural dan masyarakat historis. Variabel pembedanya adalah perubahan yang dialami oleh masyarakat tersebut seturut waktu. Definisinya mengenai masyarakat memperhatikan faktor dialektik ini, perubahan seturut waktu. Menuruti batasan ini, perubahan sebuah masyarakat dimungkinkan jika ada misi sejarah yang diemban oleh masyarakat itu. Masyarakat (sejarah) dapat lahir karena pembentukan elemen baru atau terbentuk dari elemen yang ditinggalkan oleh masyarakat sebelumnya. Berdasarkan lingkungan sejarahnya masyarakat juga dapat dibedakan menjadi masyarakat yang lahir karena responsinya terhadap lingkungan geografisnya dan masyarakat yang lahir karena responsinya terhadapa ideal-ideal tertentu. Lahirnya masyarakat tidak semata-mata karena aglomerasi individu-individu tetapi ada faktor konstan dimana sebuah masyarakat berutang untuk kelahirannya. Oleh karenanya kita mendapati sebuah masyarakat kehilangan karakternya dan hilang dari sejarah namun individu-individunya masih bertahan dan juga mungkin saja kita mendapati individu-individu sebuah masyarakat menghilang namun masyarakatnya masih bertahan.

Kata kunci dalam definisi Bennabi mengenai masyarakat adalah perubahan atau gerakan. Ide mengenai gerakan membantu kita memahami pasang naik dan surut sebuah masyarakat. Sebuah kelompok manusia memperoleh kualitasnya sebagai masyarakat ketika ia mulai bergerak, atau dengan kalimat lain ketika ia mulai melakukan perubahan internal untuk meraih tujuan-tujuannya. Spesies terbentuk dari bahan natural / alamiah namun sebuah masyarakat terbentuk dalam sejarah.

Interpretasi mengenai gerak kesejarahan ini bisa bermacam-macam. Misal interpretasi dialektik Hegel menafsirkan gerak sejarah sebagai proses tesis kemudian muncul anti-tesis kemudian membentuk sintesis untuk kemudian menjadi sebuah tesis kembali. Dalam filosofinya Hegel menafsirkan proses dialektik ini dalam konteks ideal, roh sebagai penggerak sejarah. Marxis membalik dialektika Hegel dengan mengganti basis dialektikanya dengan materi. Toynbee menafsirkan gerak sejarah sebagai gerak responsi terhadap tantangan (challenge), yang biasanya berbentuk tantangan geografis. Dalam tafsiran ini konsep limit juga diperkenalkan yaitu konsep tantangan optimum dan responsi yang yang cukup. Jika sebuah tantangan melebihi batas optimum ini akan gagal menghasilkan responsi yang sesuai. Dalam pandangan Bennabi kesemua penafsiran ini gagal diterapkan untuk memahami kelahiran umat Islam awal. Kemudian Bennabi mengambil teori Toynbee mengenai challenge dan response dengan menetapkan tantangan tidak secara material atau geografis tetapi spiritual. Tantangan spiritual ini menempatkan kondisi psikologis umat dalam dua batas, wa’ad (janji) dan wa’id (peringatan). Peringatan adalah batas bawah di mana di bawahnya tidak ada ruang cukup untuk aksi sedangkan janji merupakan batas atas di mana di atasnya tidak ada aksi yang dimungkinkan. Dalam tafsiran ini kita bisa memahami responsi Bilal bin Rabah terhadap siksaan yang dia terima dengan mengatakan ahad, ahad.

Sejarah adalah perubahan yang terjadi dalam diri (self) dan lingkungan yang melingkupinya. Atau sejaraah dapat dipandang sebagai aktivitas kolektif yang berkelanjutan (kontinyu), yang dibentuk oleh orang (person), gagasan (idea) dan benda (object), yang terpahat pada memori waktu. Terbentuknya sejarah merupakan hasil dari interaksi ketiga dunia, dunia orang-dunia gagasan-dunia benda. Pola aksi sejarah ditentukan oleh dunia gagasan, diaplikasikan dengan memanfaatkan dunia benda untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh dunia orang. Munculnya sejarah adalah hasil dari interaksi dinamis ketiga alam tadi, tetapi adanya ketiga dunia tadi tidak mengharuskan terjadinya aksi sejarah tanpa adanya interaksi ketiganya. Hal ini menghajatkan munculnya dunia ke-empat, yaitu jaringan keterhubungan sosial.

Konstruksi jaringan sosial adalah tugas utama sebuah masyarakat pada saat kelahirannya. Munculnya perjanjian Madinah menandai konstruksi jaringan sosial ini pada masyarakat muslim awal. Adanya ketiga dunia tanpa jaringan sosial membuat tidak efektifnya sebuah masyarakat. Ukuran terhadap jaringan sosial dapat dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Kekurangan pada ketiga dunia tetapi jaringan sosialnya telah terbentuk tidak menghalangi sebuah masyarakat untuk bergerak. Masyarakat muslim awal memiliki keterbatasan orang, benda dan gagasan tetapi masyarakat bergerak efektif karena jaringan sosialnya. Masyarakat muslim kontemporer memiliki kelimpahan gagasan, orang dan benda tetapi gerak masyarakatnya tidak efektif karena rusaknya jaringan sosial. .

Jaringan sosial yang menghubungkan individu-individu masyarakat adalah budaya. Budaya pada esensinya adalah norma dan nilai etis dan estetis. Orang yang dibutuhkan dalam masyarakat bukanlah orang dalam arti biologisnya tetapi makhluk kompleks yang menghasilkan peradaban. Kekayaan sebuah masyarakat tidak diukur dari kelimpahan materialnya tetapi dari kelimpahan gagasan atau idenya. Sebuah masyarakat yang secara material hancur dapat kembali membangun karena kekayaan gagasan atau idenya tidak hancur, Jerman dan Jepang pasca perang dunia ke-2 bisa dijadikan contoh. Tetapi efektifitas gagasan bergantung dengan adanya jaringan sosial dalam masyarakatnya. Sebuah ide yang muncul dalam masyarakat yang jaringan sosialnya rusak akan menjadi ide yang mati. Banyaknya ide pada masa kemunduran umat Islam tidak menjadikannya mampu meraih peradabannya.

Tahap-tahap perkembangan sebuah masyarakat dapat dipahami dari skema berikut. Pada awalnya adalah tahap original dan ideal dimana kualitas dan talenta individu di bawah dominasi ruh, di bawah petunjuk metafisik. Tahap selanjutnya kualitas dan talenta individu di bawah dominasi akal, intelek yang berorientasi pada problem praktis kehidupan. Tahap terakhir adalah tahap di mana kualitas dan talenta individu berada di bawah dominasi naluri, insting; ini adalah tahap kacau balau dalam kehidupan sosial. Ditinjau dari sudut sosial, jaringan sosial pada tahap awal berada dalam kondisi paling kohesif, pada tahap kedua jaringan sosial berada dalam tahap ekspansif sedangkan pada tahap ketiga jaringan sosial mengalami kerusakan.

Kerusakan jaringan sosial, terlihat terutama pada tahap kemunduran dalam skema di atas, akan mengakibatkan patologi sosial pada ketiga dunia; ide, orang dan benda. Ide yang berkembang pada tahap dekadensi adalah ide yang biasanya fiksional tidak terkait dengan problem nyata. Diri (self) pada orang di tahap ini juga mudah untuk terkorupsi. Kekurangan benda, kemiskinan juga tampil di periode ini. Sebuah kasus kenaikan 7500 persen harga roti per kilogram yang terjadi dalam waktu tiga abad pemerintahan Abbasiyah.

Dari mana jaringan sosial muncul. Jika pada esensinya jaringan sosial adalah nilai moral dari mana nilai moral ini muncul. Berdasarkan analisisnya terhadap masyarakat jahiliyah pra Islam, Bennabi menyatakan nilai moral itu tidak muncul dari dalam masyarakat itu sendiri, tetapi muncul dari luar masyarakat. Dengan melihat kenyataan bahwa munculnya gerak sejarah atau peradaban terjadi ketika sintesis terhadap manusia, tanah dan waktu dilakukan, kita perlu mencari tahu apa ‘zat’ yang menjadi katalisator proses sintesis itu. Adalah pemikiran keagamaan (Islam, dalam kasus di atas) yang menjadi katalisator itu. Pemikiran keagamaan ini yang menjadi titik anjak membangun jaringan sosial. Pemikiran keagamaan tidak mesti saat itu juga bisa efektif menggerakkan masyarakat, sebagian mesti menunggu lingkungan geografis yang sesuai seperti pemikiran nasrani yang menunggu sampai ke Eropa untuk menjadi efektif secara sosial. Pada sisi psikologis fungsi utama pemikiran keagamaan sebagai sumber moral adalah mengarahkan dan membangun kanalisasi terhadap energi hidup (vital energy) yang dimiliki oleh individu-individu masyarakat. Tentu saja energi vital manusia tidak untuk direpresi atau dihilangkan, karena ia adalah perlengkapan dasar untuk membuatnya bergerak.

Sampai di sini muncullah isu mengenai pendidikan. Ide utama pendidikan sosial untuk membangun kembali masyarakat adalah membangun kembali orientasi terhadap energi vital individual di atas. Ini dimaksudkan untuk membentuk mentransformasi energi vital individu menjadi energi sosial, dengan mensubordinasikannya ke dalam refleks terkondisi. Oleh sebab itu pendidikan sosial adalah proses budaya (culture). Kelemahan yang diderita oleh umat Islam sekarang harus dianalisis secara jernih untuk bisa menentukan terapinya. Adalah terburu-buru untuk menyatakan bahwa masalahnya terletak pada bahwa kita tidak bersungguh-sungguh dalam beragama atau hanya beragama berdasarkan sertifikat kelahiran semata. Problem yang ada sesungguhnya terletak pada efektifitas sosial ajaran agama yang kita lakukan dan kemanjuran pemikiran kita dalam memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Bennabi mengidentifikasi adanya dikotomi yang muncul dalam diri pribadi muslim antara aspek spiritual dan aspek sosial, kebenaran yang ada di masjid gagal menemaninya dalam kehidupan sosial. Urainya lebih lanjut, problem yang kita hadapai ini memiliki wajah sosial dan psikologis. Sehingga solusi yang kita butuhkan bergantung pada ideal yang luhur yang dapat menghubungkan sisi spiritual dan sosial dan membentuk integrasi sosial baru yang menyatukan masjid dan urusan duniawi. Ideal luhur itu adalah Islam. Kondisi dasar untuk membangun kembali peradaban umat adalah mengorganisasi dan mengorientasi kembali energi vital manusia muslim kontemporer. Tugas utama dalam hal ini adalah merubah cara kita belajar dan mengajar al Quran sehingga al Quran menjadi terwahyukan (tidak sekedar menjadi objek kajian) ke dalam kesadaran manusia muslim. modern. Tugas kedua adalah mengidentifikasi, menemukan kembali misi umat di tengah-tengah dunia baru ini.

[Rujukan : On The Origin Of Human Society, Terj. Milad Al Mujtama’]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s