Bennabi Tentang Syarat-Syarat Kebangkitan

Dengan melakukan refleksi terhadap masa lalu dan masa kontemporer dunia Islam dalam perjuangannya melawan penjajahan Bennabi membagi masa itu berdasarkan konsep peran. Pada awal perjuangan peran yang dominan adalah peran heroik, kepahlawanan. Kemudian muncul tahap ketika ideologi dan politik mengambil peran. Masa ini dimulai dari gerakan Jamaludin Al Afghani, dengan ide pan-islamisme-nya kemudian berlanjut kepada Muhammad Abduh dengan revitalisasi pemikiran Islam(teologi). Bennabi menilai gerakan ini sudah berada dalam jalur yang tepat, walaupun nuansa metodologisnya masih kabur. Tetapi gerakan yang ini kemudian terpelanting ke dalam tahap politik praktis dimana paham paganisme baru menurut Bennabi mengambil peran. Tuntutan-tuntutan mengenai hak kemudian menggantikan kewajiban.

Setelah melakukan refleksi terhadap perjuangan masa lalu dan masa kini kemudian Bennabi mulai berbicara mengenai masa depan. Pertama yang perlu dilakukan adalah melakukan diagnosis terhadap penyakit yang diderita ummat. Menghadapi problem-problem seperti penjajahan, kebodohan, kemiskinan; solusi-solusi yang ditawarkan seringkali tidak efektif untuk menyelesaikannya. Permasalahannya terletak pada tiadanya peradaban yang menjadi akar untuk solusi itu menjadi efektif. Sehingga problem dasar yang dihadapi oleh umat adalah problem peradaban. Peradaban diukur berdasarkan pencapaian-pencapaiannya, produk-produknya. Tetapi menimbun banyak produk-produk peradaban lain belum tentu menghasilkan peradaban; karena spirit peradaban tidak dapat diimport. Produk peradaban adalah hasil interaksi dari manusia, tanah dan waktu. Karena peradaban diukur dari pencapaiannya maka kita dapat menuliskan formula ini untuk menganalisis faktor-faktor peradaban; peradaban = manusia + tanah + waktu. Memahami problem peradaban berarti memahami problem manusia, tanah dan waktu.

Manusia, tanah dan waktu merupakan modal awal sebuah masyarakat untuk memulai masa peradaban. Tetapi adanya ketiga hal itu semata-mata tidak cukup untuk menghasilkan peradaban. Diperlukan proses sintesis untuk menggerakkan ketiga faktor itu. Proses sintesa itu menghendaki adanya zat peradaban yang menjadi katalisatornya sehingga proses sintesis itu bisa terjadi. Faktor keempat itu adalah pemikiran keagamaan. Menelusuri peradaban-peradaban yang ada kita bisa menelusurinya dari pemikiran keagamaan mereka. Sehingga pada dasarnya sebuah peradaban adalah peradaban keagamaan.

Untuk bisa efektif menyelesaikan problem peradaban ini kita juga butuh perspektif mengenai posisi umat kita dalam sejarah. Siklus hidup peradaban memberikan kepada kita perspektif ini. Bennabi membagi siklus peradaban ini menjadi tiga; tahap awal yang bermula dari kelahiran sebuah peradaban, kemudian mencapai tahap kejayaan dan kemudian meluncur menuju keruntuhan. Secara psikologis tahap ini juga bisa digambarkan sebagai tahap ruh, tahap akal dan tahap naluri; ukuran ini terkait dengan dominasi ketiga hal di atas terhadap potensi-potensi dan talenta manusia dalam sebuah masyarakat. Bennabi juga mengklasifikasikan tipologi manusia yang berada sebelum tahap awal mulai dan ketika fase keruntuhan berlangsung; manusia fitrah (pra-peradaban) dan manusia pasca peradaban. Manusia pasca-peradaban ini secara khusus disebut juga sebagai manusia pasca al muwahidun, dengan mengkaitkannya dalam perspektif siklus peradaban, di mana masa setelah dinasti al muwahidun di Spanyol Islam adalah masa-masa dimulainya keruntuhan peradaban Islam. Tipologi ini memberikan kepada kita pemahaman mengenai mengapa manusia pasca peradaban tidak lagi efektif meggerakkan peradabannya; walaupun dilingkupi oleh modal yang besar.

Manusia. Berdasarkan peta kontribusinya terhadap peradaban manusia memberikan kontribusinya melalui pemikiran, kerja dan modal. Konsep yang ditawarkan Bennabi untuk menyelesaikan problem manusia peradaban ini adalah konsep orientasi (taujih). Orientasi adalah menghimpun dan mengarahkan. Orientasi ini meliputi orientasi budaya, orientasi kerja dan orientasi modal. Membangun orientasi budaya terhadap manusia mencakup pengarahan potensi manusia terhadap akhlaq/ etika, estetika, logika terapan dan industri. Etika membangun jaringan sosial masyrakat, yang membuatnya efektif melakukan kerja-kerja sejarah . Estetika membangun cita rasa keindahan masyarakat. Logika terapan memberikan pedoman menautkan pemikiran dengan praktek. Industri memberikan penyaluran aktivitas ekonomis masyarakat. Orientasi kerja mengarahkan manusia untuk berkontribusi dalam membangun peradaban. Orientasi modal mengarahkan harta untuk bergerak dan berfungsi secara sosial dan tidak menjadi harta mati.

Tanah. Sebagai lanscape peradaban tanah perlu diberikan perhatian. Kesuburan tanah bisa mengalami degradasi seiring runtuhnya sebuah peradaban. Sebuah peradaban yang berjaya akan memperhatikan tanah-tanah tandus yang dimilikinya dan merubahnya menjadi tanah subur dengan kerja-kerja menanam.

Waktu. Ibarat sungai yang mengalir dalam bisu, waktu adalah modal yang diberikan Tuhan kepada semua bangsa dalam kuantitas yang sama. Yang dibutuhkan adalah makna terhadap waktu. Makna waktu ini akan diisi oleh kerja. Kehancuran material sebuah peradaban, misal Jerman dan Jepang, tidak menghancurkan peradaban mereka. Karena mereka masih memiliki kekayaan ide. Dengan kekayaan ide itulah mereka memaknai waktu mereka dengan kerja. Yang mereka lakukan untuk membangun peradaban mereka kembali adalah memberikan waktu mereka lebih satu jam dari waktu kerja normal untuk berkontribusi mengembalikan peradaban mereka.

[rujukan : Membangun Dunia Baru Islam (terj. Syuruth An Nahdhah)]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s