Cita-Cita Kemenangan dan Sindrom Penghalangnya

Beberapa waktu lalu di Cibubur, dalam acara haflah mukhayam tarbawi terpadu (mutuwil, 30 Mei 2008), ust. Anis Matta menyampaikan taujih, ceramah atau pidato pengarahan. Tema utamanya terkait dengan kemenangan dakwah, sebuah nada yang optimis (atau memang seharusnya seperti itulah kalam para qiyadah menurut seorang teman). Dimulai dari kenapa PKS harus memenangkan pemilu (2009 khususnya atau pilkada-pilkada lain). Menurut beliau terlalu kecil jika ukurannya hanya untuk menduduki jabatan legislatif atau eksekutif negeri ini. Ukuran sebenarnya seharusnya adalah maqashid asy syari’ah. Kemenangan itu dibutuhkan untuk merealisasikan tujuan-tujuan syari’at. Memelihara agama, jiwa, harta dan kehormatan. Apalagi krisis kembali menerpa negri ini; lihatlah kegagalan-kegagalan reformasi, krisis energi maupun krisis kepemimpinan. Sehingga memenangkan dakwah dalam politik juga merupakan bagian dari upaya penyelamatan negeri.

Kemudian pak Anis Matta membawa kita berefleksi terhadap sejarah bangsa Indonesia. Bermula dari kebangkita nasional dengan cita-cita besarnya mencapai Indonesia Merdeka. Kata kunci sebuah kebangkitan dan kohesi kolektif pada sebuah masa adalah narasi-narasi besar yang ingin dicapai. Narasi besar Indonesia merdeka itu sudah tercapai. Masa sepuluh-dua puluh tahun pasca merdeka, kemudian adalah masa dimana keadilan (demokrasi) berkembang tanpa kesejahteraan. Masa orde baru adalah masa kesejahteraan tanpa keadilan. Seharusnya masa sekarang bukanlah anti-tesis orde baru tetapi sintesis untuk mencapai adil dan sejahtera.

Untuk bisa bangkit kembali sebuah bangsa butuh narasi besar baru. Narasi itu saat ini harus melampaui skala kebangsaan. Narasi itu haruslah narasi kemanusiaan. Pentingnya narasi besar ini sebagaimana Hasan Al Banna pernah menggambarkan dalam maratibul amal seorang muslim dari membangun pribadi muslim hingga ustadziatul ‘alam (guru peradaban).

Tetapi ada sindrom yang bisa menghalangi atau minimal mengganggu proses pemenangan itu. Sindrom pertama adalah sindrom takut untuk menang. Kedua sindrom takut terhadap musuh. Ketiga sindrom takut terhadap fitnah.

Sindrom takut menang. Manifestasinya dalam bentuk merasa belum siap untuk memimpin. Belum memiliki kapasitas. Kata kunci untuk menghilangkan sindrom ini adalah belajar cepat. Yang kedua adalah kemampuan mengelola orang-orang pintar.

Sindrom takut musuh. Bentuknya bisa merasa partai-partai lain begitu besar sehingga susah dikalahkan. Merasa termusuhi terus-menerus. Kata kunci penyelesaiannya adalah komunikasi.

Sindrom takut fitnah. Takut politik penuh dengan fitnah. Konsentrasi dalam tarbiyah saja. Pikiran dikotomis antara dakwah dan politik. Kata kunci penyelesainya adalah pemahaman. Semua hal bisa menjadi fitnah; anak, istri, kekayaan, kecerdasan juga politik. Peringatan terhadap kemungkinan fitnah bukan berarti melarang terlibat di dalamnya. Kata kunci kedua adalah kekuatan. Untuk menghindari jebakan-jebakan fitnah itu butuh karakter yang kuat.

Begitulah yang saya pahami dari taujih di atas. Setelah selesai taujih itu bahan yang jadi omongan teman-teman ternyata banyak yang mengingat pelajaran bahasa arabnya. Ma hadza ?. Dan kemudian banyak yang tersenyum-senyum sendiri. Tebak sendirilah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s