Seminggu Bersama Marwa di Rumah Sakit

picture-028

Sabtu pagi tanggal 30 juni setelah pulang bermain dari rumah Elsa tiba-tiba Marwa panas cukup tinggi. Setelah tidur sebentar, Umminya memberikan tempra. Panasnya sedikit reda. Tapi dia masih enggan turun dari tempat tidur. Beberapa waktu kemudian setelah minum susu, Marwa muntah-muntah. Sore hari panasnya sudah surut, sambil rebahan nonton Barney dia bisa tertawa dan berkomentar. Malam hari setelah undangan ke pak Joni di Jati Pulo (sunatan anaknya) Marwa masih panas. Perutnya juga kebung. Panas tinggi dan perut kembung, saya menduga keracunan makanan. Akhirnya jam sepuluh malam Marwa dibawa ke UGD RS. Harapan Kita. Panas 39.5 derajat celcius. Dehidrasi. Dokter jaga menyatakan harus dirawat. Jadilah Marwa dirawat di ruang Anggrek 106.

Minggu pagi, dokter Toto periksa Marwa. Infeksi lambung; kesimpulannya. Hari itu panas masih tinggi. Hampir setiap empat jam mesti diberi obat penurun panas.

Senin pagi dokter menyatakan kalau selasa tidak panas lagi boleh pulang. Informasi dari Puji karena waktu visit dokter saya dan umminya Marwa sedang pulang ambil perlengkapan.

Selasa panas masih terjadi, trombosit juga turun. Tetap harus dirawat di RS. Trombosit malam juga turun lagi.

Rabu pagi Marwa dinyatakan positif DBD. Jika kondisi anak tidak stabil dan trombosit turun terus (sampai di bawah 50 ribu), anak harus masuk ICU. Umminya shock. Terlihat jelas wajah sedihnya. Saya juga shock. Trombosit terakhir 98 ribu. Saya menyempatkan diri ke kantor. Di kantor googling tentang DBD untuk menurunkan kecemasan, biar punya informasi yang tepat dan tidak panik. Jam setengah dua belas balik ke RS. Trombositnya turun lagi jadi 63 ribu (hasil tes jam 5 pagi). Cek tata rekening sebentar kemudian kembali ke kantor untuk minta ijin untuk tidak masuk sampai jumat. Kembali lagi ke RS. Malam hari, setelah dicek hasil lab, trombosit turun lagi jadi 46 ribu. Dokter jaga minta untuk dimasukkan ke ICU. Saya minta hubungi dulu dokter Toto, ternyata dokter Toto sudah menyerahkan keputusannya pada dokter jaga jika kondisi seperti ini terjadi. Meneteslah air mata sang ummi, mbah putri dan omanya Marwa. Siap-siap untuk ke ruang ICU, semua perlengkapan dirapikan, sebagian sudah dibawa pulang. Saya menandatangani pernyataan tindakan medis. Sebelumnya Marwa sudah bisa tertawa-tawa dan mengobrol. Panasnya juga sudah turun. Saya beritahu Marwa nanti akan pindah kamar dan tidur bersama dengan suster, perawat. Dia menangis tidak mau pindah. Setelah keputusan untuk masuk ICU diambil dan melihat air mata ummi dan mbah-nya Marwa, firasat saya mengatakan trombositnya akan naik malam ini; untuk menenangkan mbah putrinya saya sampai mengatakan “Saya yakin tidak jadi ICU, trombositnya Marwa akan naik nanti malam”. [Harusnya saya mengucapkan Insya Allah di sini, begitu kan adabnya🙂 ].

Perawat jaga coba kontak ke dokter ICU. Selang beberapa waktu kemudian, kurang lebih satu jam setelah perlengkapan kamar selesai, dan beberapa sudah dibawa pulang; datanglah ibu perawat. Ada pasien dari UGD yang lebih parah dari Marwa juga mesti dibawa ke ruang ICU. Slot tempat tinggal satu. Dokter memutuskan pasien yang lebih parah dari Marwa yang masuk ICU. Marwa akan diobservasi intensif di kamar ini juga. Marwa tidak jadi ke ICU.

Hampir setiap dua jam Marwa dibangunkan untuk dicek tensi, suhu dan disuruh minum air (air putih, teh atau trolit –ekstrak angkak). Sekitar jam 5 subuh dicek lagi darahnya. Sekitar jam setengah dua baru dapat informasi trombositnya turun lagi jadi 39 ribu. Kami berpikir positif, turunnya tidak drastis.

Kamis pagi setelah bangun tidur, bersih-bersih. Marwa pup untuk pertama kali sejak hari minggu. Badan Marwa telihat bengkak-bengkak, terutama di sekitar mata. Marwa juga sudah mulai mau makan. Alhamdulillah, berarti masa kritis sudah selesai, bisik saya dalam hati. Dokter Toto juga menyatakan sudah mulai masa penyembuhan, bintik dan ruam merah-merah memenuhi beberapa bagian tubuh Marwa.

Jam sepuluh pagi ambil darah kembali (di-tok kembali, begitu kami membahasakannya ke Marwa). Sekitar jam tiga-an baru diketahui hasilnya. Trombositnya turun lagi jadi 30 ribu. Umminya Marwa nampak kembali bersedih. Malam hari ketika makan malam, saya bertanya kenapa menangis ? You know why, jawabnya. Trombosit ? balas saya. Ya, katanya. Saya katakan dari informasi yang saya dapat saat googling DBD, masa kritis sudah lewat, saya yakin trombositnya akan naik. Marwa gatal-gatal, efek ruam-ruam di kulitnya mungkin (?).

Malam umminya masih sibuk untuk memberi minum Marwa terus, sampai hampir setiap dua jam Marwa ditawari terus. Jam sepuluh malam, tes darah lagi. Tiba-tiba perawat yang sedang mengukur suhu Marwa bertanya, “Kapan terakhir minum tempra ?”. Saya tanya kenapa sus ? Panasnya 39 derajat. Saya kaget, saya sentuh dahi Marwa, tidak terlalu terlalu panas. Saya ambil termometer dari ibunya Rasya, pasien sebelah. 35.5 derajat. Perawatnya belum yakin. Dia gunakan termometer saya, 35.5 derajat. Dia masih belum yakin juga, dia ambil satu termometer lagi. Dengan termometer barunya 35.8 derajat.

Jam setengah dua umminya Marwa masih terbangun. Dia informasikan ke saya trombositnya Marwa sudah 31 ribu. Naik seribu. Saya katakan, “top”. Sudah kamu tidur dulu, besok akan naik lagi.

Pagi ini, jumat 4 juli, Marwa tampak lebih segar. Matanya sudah tidak terlihat bengkak. Saya sudah mulai masuk kerja. Walaupun belum ada kerjaan yang mau dikerjakan, jadi ngeblog deh. Tadi telepon umminya Marwa berapa trombositnya Marwa sekarang ? 56 ribu jawabnya. Alhamdulillah. Besok insya Allah bisa pulang dari RS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s