Ketidaktahuan dan Kecemasan

Tidak memiliki informasi yang tepat. Tidak memiliki pengetahuan. Bisa berakibat pada kecemasan, kekhawatiran berlebihan dalam menghadapi kejadian-kejadian khusus atau kejadian-kejadian mendadak atau kejadian-kejadian diluar skenario normal.

Kita bisa tenang menghadapi kejadian karena kita memiliki kecukupan informasi dan pengetahuan. Dengan pengetahuan dan informasi itu kita bisa membuat pridiksi mengenai arah kejadian itu selanjutnya. Sehingga diri kita lebih antisipatif. Untuk kebanyakan kejadian ada dalam domain kebiasaan atau kejadian rutin. Pagi ini anak kita bangun, kemudian merengek minta susu, kemudian ia mulai menangis karena kita telat merespon. Ini kejadian rutin. Bisa kita prediksi, jika kita segera berikan susu anak kita akan berhenti menangis, kecuali ada faktor lain. Ini tidak mencemaskan kita. Hari ini lalu lintas menuju tempat kerja kita macet. Ini tidak terlalu mencemaskan, kecuali ada janji penting yang harus segera kita datangi. Kita bisa mengantisipasi kejadian ini. Kita bisa mengembangkan alternatif baru untuk menyelesaikan masalah. Ini tidak sangat mengkhawatirkan sehingga melumpuhkan kita.

Apa yang terjadi jika tiba-tiba anak kita panas mendadak mencapai 39.5 derajat celcius, muntah-muntah ketika makan dan minum, dengan muka cekung dan tubuh kurang cairan, kemudian hasil tes lab menyatakan penurunan trombosit untuk beberapa hari, kemudian dokter mengatakan anak anda kena DBD, selajutnya karena penurunan konstan trombosit dokter kemudian merekomendasikannya untuk dirawat di ruang ICU. Kecemasan luar biasa. Kekhawatiran. Ketakutan. Imajinasi kita menjadi kacau. Kita jadi berpikir tidak-tidak. Kita kehilangan keseimbangan. Sebabnya kita tidak memiliki pengetahuan. Tidak ada kecukupan informasi yang dapat kita kait-kaitkan dan memberikan makna bagi kita untuk mengambil keputusan. Atau informasi yang kita terima tidak lengkap. Justru membuat kita sesat dalam berpikir, mengambil keputusan. Tindakan kita menjadi tidak dikendalikan nalar. Solusi rutin yang bisa kita berikan, serahkan kepada ahlinya. Karena memang kita tidak memiliki pengetahuan.

Satu kali dalam kegembiraan mendapati istri saya hamil tiba-tiba saya dikejutkan oleh statement dokter yang memeriksa bahwa ada kista di dalam rahim istri. Terkejut. Cemas. Takut. Pikiran melayang-layang jauh dalam khayal yang tidak tepat. Penyakit apakah kista itu ? Berbahayakah ? Bisakah diobati ? Ah, ketidaktahuan adalah penyakit.

Pengetahuan. Informasi yang valid. Memberi kita ketenangan. Kita memang butuh petunjuk. Untuk memberi kita arah yang jelas untuk bereaksi terhadap kejadian-kejadian yang ada. Benarlah apa yang dikatakan oleh Imam Bukhari, “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s