Hindari PointPower Pada PowerPoint !

Power Corrupts. PowerPoint Corrupts Absolutely. Begitulah ungkapan dari Edward Tufte dalam tulisan yang mengkritik penggunaan PowerPoint. Sebenarnya bukan cuma PowerPoint yang menjadi sasaran kritik, tetapi semua slideware (program komputer untuk presentasi). Substansi kritik Tufte terletak pada, penggunaan PowerPoint cenderung men-set-up dominasi pembicara terhadap audiens melalui gaya komersial. Salah satu hal yang menggawatkan bagi Tufte adalah gaya kognitif yang diajarkan PowerPoint di sekolah-sekolah. Kecenderungan untuk memampatkan laporan ke dalam sebuah presentasi PowerPoint. Aturan utama pembicaraan adalah respek terhadap audiens.

Sisi lain yang menjadi kritik adalah bullets point. Norvig mencoba membuat satu versi presentasi dari pidato Lincoln saat perang sipil di Amerika. Apakah pidato itu akan efektif jika disampaikan dalam bentuk presentasi menggunakan PowerPoint ? Apakah pidato-pidato Soekarno, yang amat terkenal itu, bisa efektif jika disampaikan dalam bentuk presentasi bullets point dengan slideware ?

Dalam Realy Bad PowerPoint (and how to avoid it) Seth Godin menyatakan bahwa tujuan utama presentasi adalah berkomunikasi dengan audiens. Tetapi penggunaan PowerPoint menjebak pembicara dalam tiga hal. Pertama, pembicara menggunakan PowerPoint sebagai teleprompter, sekedar sebagai alat untuk menampilkan teks yang harus dibaca oleh pembicara. Apakah audiens hadir hanya untuk mendengarkan pembicara membaca teks pada slides ? Kenapa tidak mengirimkan saja teks-nya kepada audiens lewat email ? Jebakan kedua, slides menjadi laporan tertulis yang akan dibagikan kepada peserta. Jebakan ketiga asumsi bahwa slides (utamanya yang penuh dengan bullet point) membuat peserta menjadi mudah mengingat pembicaraan.

Komunikasi adalah transfer emosi. Logika saja tidak cukup. Adanya presentasi adalah untuk menjual ide. Godin melanjutkan untuk membuat presentasi yang bagus dibutuhkan empat hal. Pertama, jadikan diri kita cuecards (mungkin maksudnya kuasai bahannya sehingga jangan membaca slide satu persatu). Kedua, gunakan slide untuk menekankan apa yang kita bicarakan (misal gunakan foto untuk menggambarkan polusi). Ketiga, buat dokumen tertulis, bagikan ke peserta setelah presentasi, pastikan mereka mendengarkan sebelum membaca. Keempat, buat feedback.

Jadi apa yang harus ada dalam slide ? Godin melanjutkan. Tidak lebih dari enam kata per slide. Jangan gunakan citra (image) yang buruk. Jangan gunakan transition effect. Jangan buat hand-out, presentasi adalah emosional, muatan ini akan hilang tanpa kita sebagai pembicara.

Sekarang mengenai bullets point. Bullets point terlalu kategoris. Satu slide dengan banyak bullets point tidak memiliki inti yang jelas. Gagasan utama jadi kabur. Bagaimana membuat presentasi tanpa bullet point ? Ide utamanya adalah cerita. Ini prinsip Hollywood. Bagaimana membangun cerita dalam presentasi ? Cliff Atkinson, memberikan tiga trik. Satu, gunakan slide sorter view untuk memanage volume presentasi. Memori manusia terbatas untuk memproses informasi. Informasi visual lebih mudah diingat. Informasi yang sedikit demi sedikit lebih mudah diingat. Dua, gunakan notes page view untuk sinkroniasi narasi dan gambar. Informasi diproses menggunakan dua channel, visual dan verbal. Tulisan diproses secara verbal bukan visual. Tiga, gunakan normal view untuk memandu mata dan telinga. Sederhanakan slide. Lebih grafikal.

Secara metodologis untuk membuat presentasi yang lebih dari sekedar slide dengan bullets point bisa dilakukan proses berikut. Atkinson melanjutkan. Satu, buat skrip cerita yang akan kita sampaikan. Skrip akan membuat ide kita berfokus. Pola umum cerita adalah awal, tengah dan akhir. Awal adalah setting, karakter utama, konflik dan hasil yang diinginkan. Tengah, pengembangan konflik. Akhir, klimaks. Dua, buat storyboard, papan cerita (urutan-urutan cerita) untuk memperjelas ide kita. Yang paling penting didahulukan. Tiga, terjemahkan cerita ke dalam slide. Gunakan pendekatan sorter, notes baru normal view. Ide, Narasi dan Visual.

One thought on “Hindari PointPower Pada PowerPoint !

  1. Pingback: Melek Desain [Design Literacy] « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s