Melek Desain [Design Literacy]

Setelah searching dan membaca beberapa artikel mengenai bagaimana cara presentasi efektif, ada satu kata kunci yang sering muncul, desain. Design, desain. Desain, kata yang sering kali juga saya dengar, utamanya setiap kali mendengarkan istilah design pattern di software development. Dua kata yang masih memusingkan saya untuk memahami dan menerapkannya.

Kembali ke desain. Salah satu buku rekomendasi dari presentationzen.com adalah A Whole New Mind, karangan Daniel H. Pink. Di pasar buku loak Kwitang, terjemahan buku ini (terbitan Abdi Tandur) di jual seharga sepuluh ribu rupiah dalam kondisi yang masih bagus. Pink menerangkan adanya pergeseran era di masa sekarang dan akan datang dari era informasi menuju era konseptual. Atau pergeseran dari era otak kiri menuju era otak kanan. Kenapa ? Karena kelimpahan material, tenaga-tenaga murah di Asia dan otomatisasi pekerjaan manusia. Singkatnya pekerjaan-pekerjaan model otak kiri, seperti programmer, akuntan, dokter; bisa dikerjakan dengan lebih murah (outsourcing), bisa diotomatisasi lebih baik menggunakan teknologi. Sehingga yang tersisa adalah kemampuan yang tidak bisa diotomatisasi, kemampuan otak kanan. Kemampuan untuk high concept, high touch; konsep tinggi dan menyentuh hati. Salah satunya adalah desain.

Apakah desain itu ? Karena selama ini mungkin terlalu dominan otak kiri, saya agak kesulitan mengapresiasi desain. Padahal ia ada di sekitar kita. Dari sendok, garpu, televisi, laptop, rumah, pakaian sampai iklan koran, koran itu sendiri, slot iklan di televisi, film yang kita tonton atau buku yang kita baca. Pada awalnya kita mendesain untuk memudahkan kita. Memudahkan kita mengolah masakan, memudahkan untuk mengambil makan, memberikan kita keteduhan atau memudahkan kita memahami satu konsep. Sehingga desain terkait dengan fungsi, kegunaan. Tetapi, desain tidak cuma masalah fungsi atau guna tetapi juga masalah makna. Makna terkait dengan transendensi diri kita. Ada emosi di sana. Ada pengalaman di sana. Ada imajinasi. Ada fiksi. Jadi kata kunci untuk desain adalah kegunaan (utilitity) dan makna (meaning). Design is the fundamental soul of a man-made creation [Steve Jobs].

Dalam manifesto Desin Funnel, Stephen Hay menyatakan desain yang baik selalu mampu “menjahit” pesan yang akan disampaikan. Desain adalah metode untuk menggabungkan bentuk (form) dengan isi (content) [Paul Rand]. Bagaimana proses mendesain yang efektif ?

  1. Proses desain semestinya dimulai dari mendefinisikan nilai dan tujuan terlebih dahulu.
  2. Kemudian menemukan mood (suasana hati) dan metafora untuk kata kunci pada tahap pertama (membangun asosiasi). Metafora, misal kuat = superhero, friendly = smile. Elemen visual, misal kuat = hitam; friendly = circular, orange.
  3. Setelah tahap ini baru definisikan konsep dan ide, bisa dengan mencari ilham dari alam atau melihat-lihat desain bidang lain.
  4. Tahap selanjutnya membuat bahasa visual. Ini memudahkan kita untuk membicarakan cerita kita dalam bentuk tertentu. Bahasa visual ini bisa berbentuk image (citra, gambar), warna, tipografi, bentuk, layout.
  5. Terakhir baru “lakukan desain !” (mulai gunakan tools desain-nya, PowerPoint misalnya).

Ada yang paralel pada cara mendesain di atas dengan cara kita membuat presentasi dengan menggunakan PowerPoint yang diajarkan oleh Cliff Atkinson, [lihat posting sebelumnya].

Apakah kita harus ahli dalam desain ? Semestinya tidak harus mahir sekali atau ekspert. Yang penting adalah kita menjadi melek desain (design literate) atau design mindful (istilah Garr Reynolds) atau design sensitive.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s