Nalar Naratif

Pikiran kita bekerja secara naratif. Banyak hal mudah kita pahami melalui cerita, kisah. Terlebih anak balita, mereka berpikir secara naratif. Itulah sebabnya film-film sangat melekat di benak mereka. Bahkan pengulangan cerita yang itu-itu juga tidak membuat mereka bosan. Marwa, hampir setiap hari menonton Barney and Friends, film dinosaurus imajiner. Ada satu kisah yang hampir ditonton setiap hari Outdoor Fun, cerita mengenai perkembahan. Bahkan sampai hafal cerita dan lagu-lagunya, walaupun dengan lafal yang belum jelas. Tetapi cerita Barney and Friends itu melekat. Nalar naratif ini pula yang menerangkan kesuksesan Sesame Street, seperti yang ditulis dalam Tipping Point.

Ketika mendengarkan ceramah, pidato, atau presentasi cerita atau kisah memudahkan kita mengingat materi. Ketika bertemu dengan teman, kita bercerita mengenai hari-hari kita. Ketika membaca buku, cerita adalah yang paling melekat, mudah diingat atau mungkin yang kita cari, selain gambar. Komik membuat kita gemar karena ceritanya, selain gambarnya. Cerita-cerita dalam novel atau karya sastra lain menjadi abadi. Ingatlah Romeo dan Juliet atau San Pek Eng Tay atau Siti Nurbaya.

Ternyata cerita juga bisa digunakan untuk mengatur perusahaan. Menanamkan motivasi kepada karyawan. Kisah-kisah para pendiri perusahaan menjadi legenda. Legenda yang diceritakan. Sebagaimana seorang tetua suku menceritakan kisah-kisah para leluhur mereka kepada anak-anak di sekitar perapian. Pemimpin pun mempengaruhi pengikutnya dengan narasi, cerita.

Apa yang kita ingat dari masa kecil kita ? Salah satunya adalah dongeng. Medium untuk menanamkan nilai ke dalam diri kita. Cerita juga menyembuhkan. Menyembuhkan dalam arti yang luas. Memberi kita motivasi, memberdayakan, mengusir kesedihan, memberi kegembiraan atau membuat kita lebih nalar. Seorang anak beberapa abad lampau akan dioperasi, belum ada obat bius ketika itu. Untuk menghiburnya diceritakanlah dongeng kepadanya. Dia begitu terpaku kepada cerita itu, sehingga sakit yang dirasa tidak dipedulikannya. Dialah Grim. Pengumpul dongeng yang terkenal, dari Jerman.

Dalam A Whole New Mind, Pink menyebutkan cerita merupakan kualitas yang perlu kita kembangkan di era konseptual. Cerita adalah bagian dari ketrampilan otak kanan selain desain, bermain, empati dan makna. Membangun cerita adalah ketrampilan high concept and high touch. Konsep tinggi yang menyentuh hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s