Manajemen Diri Gaya Drucker

Tidak ada negara yang ditakdirkan miskin. Yang ada adalah negara yang salah urus (mismanagement). Begitulah yang tertulis dalam pengantar atau pendahuluan bukunya Tanri Abeng, Profesi Manajemen. Kata-kata itu milik Peter Druker. Begawan manajemen atau kadang orang memberikan atribut Bapak Manajemen Modern. Walaupun pernah mendengar nama Drucker sebelumnya, saya sendiri belum memiliki perhatian terhadap apa yang diajarkannya. Sampai kemudian beberapa hari kemarin membaca terjemahan buku A Class With Drucker.

Membaca pelajaran awalnya, cukup berkesan. Kadangkala apa yang diketahui banyak orang itu salah. Kemudian berlanjut dengan pelajaran, tetap bertahan dengan apa yang berhasil di masa lalu malah membuat gagal. Dekati problem dengan ketidaktahuan kita. Pelajari keahlian di luar spesialisasi kita. Performance tidak bergantung dengan rasa takut, intinya mereka yang takut dipecat biasanya susah mencapai performance tinggi.

Tetapi yang lebih berkesan terkait dengan pelajaran pengembangan diri. Premis dasar pengembangan diri adalah bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan. Tugas pengembangan diri adalah mengkapitalisasi kekuatan dan membuat kelemahan menjadi tidak relevan. Alat pengembangan diri; membaca, menulis, mendengar dan mengajar.

Dalam satu artikel, Managing Oneself (Mengelola Diri) [bab pertama pada terjemahan Classic Drucker], Druker memberikan langkah-langkah praktis. Pertanyaan pertama, Apa kekuatan kita ? Bagaimana mengetahuinya, feedback analysis bisa digunakan. Ukur ekspektasi sekarang pada setahun dua tahun ke depan; kemudian dari pengetahuan itu kembangkan kekuatan kita. Jangan berusaha keras pada area lemah.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita bisa perform ? Untuk memahami ini kita perlu bertanya, apakah saya seorang pendengar atau pembaca ? Bagaimana cara saya belajar ? Apakah saya dapat bekerja bersama orang lain atau cenderung sendiri ? Apakah saya tipe pengambil keputusan (resiko) atau saya cenderung berperan sebagai penasihat ?

Pertanyaan ketiga terkait dengan apakah nilai-nilai kita ? Bagaimana jika nilai-nilai kita berbenturan dengan nilai-nilai organisasi ? Bagaimana kita menyelesaikannya ?

Pertanyaan terakhir adalah apa kontribusi saya ? Bergerak dari pengetahuan ke dalam tindakan. Pertanyaannya bukan apa yang ingin saya kontribusikan atau yang diminta untuk saya kontribusikan ? Tetapi apa yang seharusnya saya kontribusikan ? Selanjutnya dimana dan bagaimana saya menghasilkan sesuatu yang berbeda ?

Seperti Socrates ya. Mengembangkan orang lain dengan bertanya terus menerus. Kenapa ? Agar mau memeriksa diri. Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani, katanya (Socrates).

Tetapi penulis buku A Class With Drucker, memberi penekanan. Ada satu pertanyaan lagi yang juga sering diungkapkan Drucker. Apa bisnis kita ? Apa bidang usaha kita ? [Drucker menyebutnya, Teori Bisnis]. Dalam konteks mengelola diri barangkali ini bisa dirubah menjadi pertanyaan, mau jadi apa kita ? Karena mengelola diri terkait dengan mengkonsentrasikan diri ke arah itu.

Sudahkah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini ? Apa jawabannya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s