Cinta sebagai Seni Memerhatikan

Kata kunci untuk cinta, menurut Fromm, adalah memberi. Memberi adalah kerja aktif, lawan dari sekedar pasif menerima. Apa yang diberikan ? Diri. Bagaimana memberikan diri ? Memberi apa yang ada dalam diri kita. Kegembiraan, kesedihan, pengetahuan, humor, perhatian.

Dalam salah satu tulisannya, Sayyid Quthb pernah ditanya, apakah dia takut mati ? Qutb menjawab, saya tidak lagi takut karena saya telah memberi. Memberi adalah puncak kepuasaan jiwa.

Cinta sebagai aktivitas memberi, mensyaratkan kepedulian, perhatian (care), selain tanggung-jawab, respek dan pengetahuan. Cinta jujur seorang ibu terhadap bayinya, membuatnya peduli, penuh perhatian kepada bayinya, dengan menyusui dia, memandikannya, memberi kenyamanan. Menyayangi tanaman, mensyaratkan perhatian kita terhadapnya. Memberinya pupuk, menyiraminya.

Elaborasi lebih jauh seni memperhatikan dilakukan oleh Milton Mayeroff. Ia mendefinisikan memerhatikan, memedulikan (caring) adalah aktivitas menolong yang lain berkembang. Dalam memerhatikan, kita menemukan diri kita sendiri. Dalam memerhatikan kita melihat yang lain tumbuh, menjadi dirinya. Dalam memerhatikan kita memberi yang lain dorongan. Bukan relasi kekuasaan yang kita sampaikan. Kita menghormatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s