Menemukan “Aku”. [Sebuah Manifesto Kemerdekaan]

[1]
Ini punya Marwa.
Ini boneka Marwa.
Ini abinya Marwa.
Ini uminya Marwa.
Marwa tidak suka.

[2]
Bolehkah aku tahu.
Ini abinya aku.
Ini boneka aku.
Aku tidak suka.
Aku tidak mau.

Apa yang berbeda pada kutipan kata-kata di atas ? Kutipan pada [2] adalah ungkapan-ungkapan yang banyak dikatakan Marwa [2 tahun 11 bulan] beberapa hari lalu. Kutipan [1] adalah ungkapan-ungkapan sebelumnya. Tentu saja saat ini, ungkapan-ungkapan itu masih campur aduk.

Apa bedanya ? Ini adalah beda antara “aku” dan “marwa“. Ini adalah beda antara ungkapan sebagai subjek dan ungkapan sebagai objek. Anak kecil, batita (bawah tiga tahun), berproses dalam menemukan “aku”. Ini adalah peralihan dari sekedar objek menjadi subjek. Pada usia-usia ini juga mulai terjadi pembangkangan, unjuk kemandirian, menantang dan banyak bertanya “apa dan mengapa ?”.

Aku berpikir maka aku ada“. Cogito ergo sum. Statement filosofis Descartes ini menandai pembalikan filsafat kuno menuju filsafat modern. Perubahan dari konsentrasi pada ontologi (teori tentang ada) menuju epistemologi (teori pengetahuan). Hingga pada puncaknya manusia mencapai aufklarung, masa pencerahan. Masa di mana manusia menegaskan akal budi adalah kekuatan. Semua bisa dicapai dengan akal budi. Terlepas dari keangkuhan metafisisnya, ini adalah peralihan dari sekedar objek menuju subjek dalam skala peradaban.

Apa yang kita cari dari pekik “merdeka !” ? Merdeka adalah menjadi subjek. Merdeka, tidak lagi sekedar menjadi objek. Pelaku aktif, bukan penderita pasif. Menjadi subjek menghajatkan kebebasan. Merdeka adalah bebas. Bebas berarti memilih. Memilih adalah bertanggung-jawab. Merdeka, bebas untuk memilih bertanggung-jawab terhadap nasib sendiri.

Ketika Adam memakan buah terlarang. Itu adalah pilihan Adam. Tidak ada yang bisa disalahkan, bahkan Hawa. Tidak pula Iblis yang menggoda. Di situlah tanggung-jawab berada. Di situlah kebebasan berada. Pengetahuannya mengenai perintah dan larangan menjadikannya makhluk yang bebas. Oleh karenanya Adam adalah makhluk merdeka.

Sebuah amanah telah ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung maka mereka menolaknya. Adalah Adam, anak manusia, kita, aku dan kau yang menerimanya. Amanah itu adalah kebebasan. Amanah itu adalah perintah dan larangan.

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah [nasib] suatu kaum sebelum mereka merubah [apa yang ada dalam] diri mereka [QS 13:11]. Di sinilah ekspresi kemerdekaan kita. Dari sinilah kita mulai memaknai langkah-langkah bebas kita.

Merdeka !

2 thoughts on “Menemukan “Aku”. [Sebuah Manifesto Kemerdekaan]

  1. Assalamualaikum Akhi

    Masya Allah, anak sendiri dijadikan tumbal percontohan, tega antum (hehehe becanda)

    Ane mau menambahi saja, (apa bisa dibilang merecoki ya hehehe), ane pernah mendengar seorang Syaikh dari Amerika (Yusuf Estes) pernah berbicara mengenai masalah ‘kehendak bebas’, benarkah kita manusia mempunyai kehendak bebas itu? Dia menanyakan hal ini saat berceramah di sebuah penjara di Amerika. Seorang narapidana menjawab dengan tegas, “AKu percaya kalau aku punya kehendak bebas, dan aku tak percaya akan adanya Tuhan”. Sang Syaikh pun menguji kehendak bebas sang narapidana itu “kalau demikian, maka tumbuhkanlah satu rambut jenggotmu sekarang juga!” Tentu saja si narapidana tak mampu lalu berkata “Bagaimana mungkin saya melakukan itu”. Sang syaikh pun menimpali “Tadi kau katakan kau punya kehendak bebas, sedangkan menumbuhkan satu bulu jenggotpun kau tak mampu.” Itulah percontohan sang syaikh, yang harga pertumbuhan satu bulu jenggot bisa ditimbang sama dengan tantangan nabi Ibrahim pada raja Namrud untuk menerbitkan matahari dari sebelah BArat.

    Kehendak bebas jelas tidak kita punyai,,, siapapun tak bisa memilih dari jenis ras apa dirinya lahir, atau lahir di negeri apa, atau berapa kemampuan IQ nya… semua bagian dari nature. Lalu apa sebenarnya kebebasan bagi manusia—- ia terletak pada pilihan, seperti kata antum. yang ada adalah free choice bukan free will. DAn free choice itu bisa terasa kalau ada perintah dan larangan, hanya dengan demikianlah manusia benar-benar bebas.

    Mengertikan kita? bila Aufklarung mengatakan akal budi sebagai kekuatan, saat ia lepas kendali, tak dibatasi perintah dan larangan, maka akal budi itu hanya menjadi penguat keinginan hawa nafsu, yang makin mencanggihkan bentuk pemuasan nafsu dalam bentuknya yang modernn, itu saja, hanya sekedar itu….. tak lebih dari hinanya kotoran kambing! belenggu dan penjara tanpa penampakan

    Misi manusia itu sudah given, dalam bentuk risalah yang di dalamnya ada pilihan, perintah dan larangan. Jadii…. pilihlah wahai kawan.dengan penuh pertimbanga…..agar kau merdeka dan bebas

    • Kehendak bebas secara mutlak memang tidak dimiliki manusia. Gambaran yang antum berikan mengenai menumbuhkan rambut itu lebih tepat terkait dengan kemampuan atau kekuatan.
      Saya pikir kebebasan merupakan suatu hal yang diandaikan memang sudah diberikan oleh Allah kepada umat manusia. Jika tidak demikian maka perintah dan larangan akan kehilangan maknanya.
      Jadi dalam perintah dan larangan sudah dengan sendirinya kebebasan [memilih] menjadi aksiomanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s