Keajaiban ….. ! Cinta ….. ! Sukses …..!

Keajaiban Sedekah, Keajaiban Sholat Subuh, Keajaiban Shalat Tahajud, Keajaiban Shalat Dhuha, Keajaiban Puasa, Kejaiban Sholawat, Keajaiban Doa, Keajaiban Istighfar, Keajaiban Tidur, Keajaiban Kurma, Keajaiban Madu. Mungkin banyak lagi sederet buku yang judulnya dimulai dengan kata “Keajaiban”. Pilihan judulnya bisa mencerminkan isinya tetapi bisa juga hanya pilihan bahasa marketing untuk menarik orang membaca atau membeli. Misal judul “Keajaiban Sedekah”, isinya memang berisi mengenai keutamaan dan balasan yang diberikan kepada orang yang ikhlas bersedekah. Tetapi “Keajaiban Puasa” adalah sebuah terjemahan dari buku “Fiqh Shiam” (Fiqh Puasa) karangan Yusuf Qaradawi.

Kata “Keajaiban” sepertinya juga sudah menjadi mantra marketing, sama seperti kata “Cinta“. Lihatlah judul-judul buku berikut, Ada Apa Dengan Cinta, Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Munajat Cinta, Cinta Adinda, Jejak-Jejak Cinta, Dalam Perjamuan Cinta, Coblos Cinta, Istikharah Cinta, dan masih banyak lagi. Cinta dalam judul-judul ini bisa memang merefleksikan perasaan penuh kasih sayang yang diwakili oleh kata cinta itu tetapi juga bisa juga sekedar nama orang yang dikisahkan di dalamnya.

Sukses. Satu kata lagi yang juga banyak muncul dalam judul-judul buku. Kalau tidak dimulai dengan kata sukses banyak juga yang menggunakan frasa-frasa berikut dalam judul-judulnya. Cara Sukses, Kiat Sukses, Inspirasi Sukses, Rahasia Sukses, Jalan Sukses, Panduan Sukses, Meraih Sukses, Jurus Sukses, Rumus Sukses, Resep Sukses.

Apa persamaannya ? Pertama, ketiga kata itu merefleksikan harapan-harapan kita. Orang mendamba cinta. Orang berharap ada kejaiban dalam aktivitasnya. Semua orang juga ingin sukses. Semakin dekat sebuah kata dengan harapan-harapan kita, semakin menarik kata itu untuk dibahas. Semakin kita ingin tahu lebih jauh mengenai ketiga hal itu. Keajaiban, Cinta, dan Sukses.

Kedua, pilihan terhadap kata-kata itu juga merefleksikan keinginan kita untuk cepat-cepat mendapatkannya. Balasan atau pahala atau manfaat instan dalam konteks kata keajaiban. Tips, trik, solusi cepat, quick-fix, short-cut, jalan pintas dan cara cepat untuk mendapatkan cinta dan kesuksesan.

Apa ada yang salah dengan pilihan-pilihan kata atau judul-judul itu ? Tentu tidak ada. Dalam domain pemasaran, perbukuan, pembicaraan sehari-hari, hal itu adalah sah-sah saja.

Yang menjadi catatan di sini adalah mengenai budaya instan yang dibentuk. Tentu saja setiap ibadah memiliki keutamaan, pahala dan manfaatnya masing-masing, sebagaimana yang dijelaskan oleh syari’ah. Tetapi memotivasi diri untuk beribadah semata-mata berharap agar keajaiban-keajaiban besar datang kepada kita (biasanya keajaiban disini juga terkait dengan masalah kesuksesan hidup) boleh jadi bukan cara tepat untuk menggelorakan semangat ibadah. Ibadah sebagai puncak ketundukan, kepatuhan dan cinta mensyaratkan keikhlasan dan ketepatan dalam melakukannya. Balasan atau reward instan adalah benar, tetapi kita tidak bisa memastikan kapan terjadinya. Apalagi dalam konteks kesuksesan bisa saja ibadah diperalat sekedar menjadi trik, tools, media, alat untuk mencapai sukses kita [mungkin tidak separah ini lah !]. Tetapi motivasi, niat adalah hal yang subtil (halus dan lembut) dalam hati kita. Siapa yang bisa memastikan kita sudah ikhlas ?

Cerita cinta adalah cerita yang diinginkan semua orang. Tetapi sekedar cerita cinta dangkal tidak menggerakkan kita untuk mencintai. Mungkin ia akan mengaduk-aduk perasaan kita, melalu novel, kisah atau film, tetapi tidak mendorong kita untuk belajar memberi. Tidak berarti semua novel, semua cerita atau film sama. Modus kita menyerap cerita yang menjadi pembeda.

Demikian pula dengan sukses. Bukan sukses yang menjadi masalah, budaya instan untuk mengejar sukses yang menjadi catatan. Ada kaidah yang mengatur sukses. Ada sunatullah yang bekerja. Ada prinsip yang mengatur. Ada kerja. Ada disiplin. Semua membutuhkan waktu. Bukan sekedar solusi cepat, instan. Walaupun ada saja orang yang cepat sukses, cepat kaya. Tidak berarti buku-buku mengenai sukses dan self-help tidak berbicara mengenai prinsip, disiplin, kaidah atau hukum. Tetapi spirit membaca, spirit pencarian kita (yang sekedar ingin cepat, instan) yang menjadi permasalahan.

Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s