Cinta Yang Retak

Tadi malam saya mengantarkan ibu ke UGD RS. Pelni, karena sakit mendadak dengan kondisi lemas. Selang beberapa waktu perawat menangani ibu, datang satu pasien lagi dalam kondisi mulut berbusa kemudian muntah-muntah dengan suara yang keras sekali. Beberapa kali suara keras itu terdengar. Bertanyalah seorang perawat, kenapa ? Minum baygon jawab pengantar pasien. Eh bukan minum super-pell, jawabannya merevisi. Kemudian perawat dan dokter mengambil tindakan. Dari pakaian seragam para pengantar pasien, tampaknya mereka karyawan salah satu kedai yang ada di rumah sakit ini juga.

Biasa, kalau ada kejadian seperti ini kita jadi serba ingin tahu. Bertanyalah saya. Kenapa ? Habis ‘slack’ sama pacarnya, jawab salah seorang temannya di ruang tunggu. [‘slack’ dibaca ‘slek’, benar tidak ya ?]. Hmmm.

Sekitar pukul sepuluh pasien tadi sudah boleh pulang. Tampaknya sudah terlihat lebih baikan. Dengan wajah merunduk dan dibantu teman-temannya pulanglah sang pasien. Saya tidak tahu bagaimana perasaannya setelah kejadian itu. Apakah dia bersyukur ? Nyawanya masih bisa diselamatkan. Ataukah justru menyesal, karena kematian yang diinginkan tidak jadi datang ?

Apakah cinta tidak bisa bersama dengan marah. Kalau cinta tidak bisa bersama dengan benci, itu pasti. Karena benci adalah lawan cinta. Tetapi dengan marah, apakah cinta meniadakan marah ? Atau apakah cinta meniadakan konflik ? Atau apakah cinta meniadakan perbedaan ?

Mencintai bisa saja ada dalam modus memiliki (posesif). Apa yang kita cintai seolah adalah menjadi milik kita. Kitalah yang menjadi penguasa penuh. Dengarlah ungkapan ini.”Ini cewek gue !”. “Ini cowok gua !”. “Ini pacar gua”. Apakah objek cinta bisa dimiliki ? Kemudian dikuasai seperti menguasai benda ?

Mencintai bisa juga dengan mensyaratkan. Mesti berlaku baik. Mesti membelikan ini. Mesti menelepon setiap malam. Atau mesti-mesti yang lain. Hilangnya atau tidak hadirnya kemestian-kemestian itu seolah meretakkan cermin cintanya atau parahnya memecahkan cermin cintanya kemudian menjadi berantakan.

Rumah tangga. Adakah rumah tangga yang bebas dari pertengkaran, konflik ? Sepertinya tidak ada. Jadi cinta bisa hidup dengan rasa marah yang muncul. Karena rasa marah hanyalah semacam petir yang mampir.

Cinta juga tidak mesti over-posesif. Cinta mesti menjadi. Cinta bukan objek jadi yang bisa kita kantongi begitu saja. Ia adalah kerja terus-menerus.

2 thoughts on “Cinta Yang Retak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s