Menjadi Murabbi [Pendidik] Sebagai Panggilan

Sukarno mesti diasingkan ke Flores oleh pemerintah Hindia Belanda gara-gara tulisan dan aktivitas politiknya. Demikian pula dengan Hatta dan Sjahrir yang diasingkan ke Digul, juga karena wacana dan aktivitas politiknya. Natsir mendekam di penjara Orde Lama kemudian dikucilkan di zaman Orde Baru, juga karena pilihan politiknya.

Di sisi lain. Berapa banyak malam-malam yang dihabiskan oleh Hamka untuk menuliskan karya-karyanya ?

Mereka semua bekerja dalam pilihannya masing-masing, bahkan ketika pekerjaan mereka beresiko mereka tetap teguh dengan pilihannya itu. Bahkan ketika mereka harus mendekam dalam penjara atau diasingkan (dibuang).

Apa yang membuat mereka bertahan ? Barangkali ungkapan yang bisa mewakili adalah bagi Sukarno, bagi Hatta, bagi Sjahrir politik adalah panggilan. Bagi Hamka, bagi para ilmuwan yang telah menorehkan prestasinya, bagi para penulis besar; ilmu adalah panggilan. Konsep politik, ilmu sebagai panggilan terkenal sebagai ungkapannya Max Weber.

Ya. Panggilan. Seperti ada yang memanggil. Dan panggilan itu kemudian dipenuhi. Ada suara yang memanggil-manggil kemudian meminta kita untuk menjawabnya.

Menjadi murabbi. Adakah ia juga merupakan sebuah panggilan. Saya belum menonton Sang Murabbi, yang menggambarkan biografi ustadz Rahmat Abdullah. Tetapi mendengar sekilas komentar beberapa teman dan membaca sekilas biografi beliau, kita bisa mengatakan bagi beliau menjadi murabbi adalah sebuah panggilan. Bergelut dalam tarbiyah adalah sebuah panggilan.

Adakah menjadi murabbi juga menjadi panggilan bagi kita ?

Kadang ada saja yang menghalangi kita untuk menyambut panggilan itu. Bisikan itu bisa jadi karena kita merasa belum memiliki kecukupan ilmu.

Duh, kapan kita bisa merasa cukup ? Bukankah ilmu sedemikian luas. Dan di atas yang berpengetahuan ada yang lebih berpengetahuan. Bukankah kita diajari doa oleh Allah untuk selalu meminta tambahan ilmu.

Bisikan lain yang menghalangi kita untuk menyambut panggilan itu kadangkala adalah rasa khawatir tidak bisa mengamalkan apa yang kita katakan. Bukankah menjadi murabbi mesti menjadi teladan bagi “anak” didiknya.

Duh, siapa yang tidak takut dengan ancaman bahwa Allah melaknat mereka yang berbicara tetapi tidak mengamalkan. Tetapi kapan kita bisa mengatakan diri kita sempurna ? Kapan titik kesempuranaan itu bisa kita pastikan ? Sepertinya diri kita tidak bisa memastikan kapan titik sempuran itu kita capai. Justru ketika kita memastikan kita telah mencapai kesempurnaan saat itulah kita terpelanting ke dalam keangkuhan.

Menjadi murabbi (pendidik) sebagai panggilan. Dalam memenuhi panggilan itu justru terletak pertumbuhan dan perkembangan diri kita. Karena kita memperhatikan “anak” didik kita tumbuh dan berkembang, maka kita juga mesti tumbuh dan berkembang. Dalam mendidik terjadilah pengembangan diri.

Aku tahu di sudut hatimu ada yang tengah berbicara. Biarlah frasa Rumi yang diganti ini yang mewakilinya. Dan jiwaku adalah seorang pendidik, murabbi.

[Satu Ramadhan 1429 Hijriah]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s