Wajah dan Jodoh

Suatu seorang ustadz pernah bicara kepada saya (ini dulu waktu masih kuliah) ,  “Saya ada jodoh untuk antum, wajahnya mirip seperti antum ?”. Yang menarik bukan menanggapi permintaannya (dulu belum berani minta nikah, masih kuliah !), tetapi pernyataannya bahwa jodoh bisa ditebak dari kemiripan wajah.

Beberapa waktu lalu adik saya berkenalan dengan keluarga besar calon istrinya. Pernyataan yang sama juga muncul. “Ini ketemu dimana, kok wajahnya hampir sama ! .”

Beberapa pekan setelah menikah saya berkunjung ke rumah salah seorang teman. Ibu teman tersebut juga punya komentar yang sama. “Wah..wajahnya mirip ya.”

Apakah jodoh bisa ditebak dari kemiripan wajah ? Saya belum tahu. Belum ketemu penjelasan ilmiahnya.

Tetapi bagaimana kalau logikanya dibalik, mereka yang telah berjodoh (telah menikah) cenderung memiliki kemiripan wajah kemudian, seiring dengan berlalunya waktu dan meningkatnya usia perkawinan mereka. Apakah ini sesuatu yang benar ?

Faktor keakraban, penerobosan kepribadian, keterbukaan, kesamaan pengalaman, adanya anak, dan juga seks bisa dijadikan dasar untuk berspekulasi  menjawab pertanyaan di atas. Tapi memang saya belum tahu apakah sudah ada penelitian ilmiahnya atau belum.

Dalam rangkaian ayat mengenai puasa ada metafora yang sangat indah mengenai suami dan istri, “Mereka adalah pakain bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”

[delapan ramadhan 1429 H]

One thought on “Wajah dan Jodoh

  1. Assalamualaikum Kang Budiman

    Wach, selamat nih, udah ada bloger ya, jadinya punya wadah untuk eksperimentasi hasil telahan intelektual antum yang emang udah penuh bank datanya dengan buku-buku. Yang berkesan dari ane pada diri antum adalah bacaaan antum dan juga referensi buku yang siip abiss!! teruskan jihad fikriyah mu. Ane terus menunggu gagasan orisinal dari antum.
    Nah boleh komentar nih ye
    Ane kok juga punya feeling yg sama tuh kayak tulisan antum. Kalo jodoh rasa-rasanya emang mukanya rada mirip. Tapi ini beneran. Apa ini mungkin maksudnya Allah SWT memberitahukan pada kita bahwa tiap-tiap diri telah diciptakan pasangannya yang khusus. Ini menarik, karena fenomena semacam ini menyuburkan rasa iman di dada. Seorang pemikir Jerman mengatakan “God is in the details”, Harun Yahya membacanya sebagai “The complex & creative creation” pada seluruh ayat kauniah Allah SWT. Dengan landasan pikiran itu beliau mampu memudarkan mitos evolusi yang terlanjur jadi waham internasional.
    Kok jadi ngalor ngidul, sorry2, back to the topic –> kemiripan muka pada pasangan hidup mungkin sekali juga tergantung dari interes masing2 insan, yang mempengaruhinya dalam memilih siapa pasangan hidupnya. Seseorang mungkin lebih nyaman memilih wajah yg “lebih dikenal” daripada yang sangat asing. Maka secara bawah sadar pilihan pun ditetapkan yang mirip pada diri sendiri.
    Tapi tunggu dulu, bukankah juga ada pasangan hidup yang tidak mirip sama sekali. Apakah ini bisa disebut disharmoni atau salah pasangan? Benarkah masing-masing dari kita punya soul mate? jawabannya pastilah ada, karena hal ini dikonfirmasi dari AL Quran, bahwa masing-masing kita punya pasangannya masing-masing. Siapa dan yang bagaimana? Wallahualam….
    Lalu bagaimana dengan spekulasi bahwa kemiripan itu berjalan kemudian karena proses sosialisasi dengan pasangan hidup melalui keterbukaan, kesamaan pengalaman, adanya anak etc ? Jawabannya sederhana aja sih, apa hubungannya itu semua dengan kemiripan wajah. Bukankah kita bersosialisasi lebih lama dengan yang selain pasangan hidup, misalnya dalam organisasi atau saudara kandung tapi tidak pernah terjadi peleburan pribadi, masing-masing tetap sebagai insan dengan kekhususannya yang unik. Apakah lalu karena itu selera, interes, paras muka bisa sama? Yang mungkin, dalam hubungan yang lama dengan pasangan hidup seiring usia pernikahan kita menemukan titik-titik tekan harmonisasi tertentu, penyesuaian peran masing-masing diri bahkan terkadang titik-titik toleransi pada perbedaan yang tak mungkin terkompromikan. Intinya, relasi sosial berdiri sendiri tak ada hubungannya dengan kemiripan pribadi.
    Jadii kok jodoh itu biasanya mirip ya bahkan pada saat baru taaruf, belum nikah pula? Fa bi ayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan… Falam yudzakkir?
    Wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s