Mentoring Berkesan

Bagi para aktivis Islam menjadi mentor, menjadi murabbi, mengisi halaqah barangkali merupakan hal yang biasa. Maksudnya biasa ditemukan atau biasa diminta. Walau kadang dengan segan menolaknya. Banyak alasan yang melatarbelakangi penolakan itu. Tapi itu permasalahan lain. Sekarang yang akan didiskusikan adalah bagaimana membuat mentoring, halaqah berkesan. Berkesan dalam arti menggugah, melekat dan efektif. Menggugah perhatian. Melekat dalam pikiran. Memberikan efek, merangsang proses perubahan.

Acara dalam sebuah mentoring, halaqah banyak. Tetapi yang paling utama adalah penyampaian atau presentasi materi mentoring (madah tarbiyah). Karena presentasi materi adalah bagian pokok acara mentoring atau halaqah, pertanyaannya menjadi bagaimana menyampaikan materi sehingga berkesan ? Menggugah, melekat dan efektif ? Untuk bisa menyampaikan materi (madah tarbiyah), ada dua hal utama yang perlu diperhatikan. Pertama adalah pengetahuan bagaimana materi, gagasan, ide, fikrah bisa melekat dalam pikiran, benak peserta mentoring. Kedua, praktek. Jadi prinsip dan praktek. Pengetahuan mengenai prinsip membekali kita dengan kaidah-kaidah dasar untuk melekatkan gagasan. Praktek terus menerus memberi kita ketrampilan.

Prinsip. Dalam Made to Stick disebutkan beberapa prinsip gagasan yang mudah melekat. Akronimnya SUCCESs.

[S]UCCESs. Simple. Sederhana = inti + padat. Sederhana adalah menemukan inti materi, gagasan yang ingin kita sampaikan. Ini membuat presentasi kita fokus. Kita tahu ide utama yang ingin disampaikan. Banyak penceramah, khatib yang bicara banyak hal, kesana kemari tetapi tidak ada inti yang jelas. Sehingga pendengar tidak lagi memperhatikan, karena sulit mengait-ngaitkan informasi dan pengetahuan yang ada. Padat adalah struktur ungkapan yang mudah untuk dipahami dan diingat. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian …. Kalimat selanjutnya, pasti anda sudah tahu. Peribahasa adalah contoh ungkapan yang padat.

S[U]CCESs. Unexpected. Tak terduga, buat orang memperhatikan. Kenapa orang tidak memperhatikan ? Salah satu sebab, karena orang banyak berasumsi sudah tahu. Oh, materi ini, pengetahuan ini sudah saya baca. Untuk menarik perhatian berikan kejutan. Buktikan bahwa asumsi yang selama ini mendekam dalam pikiran umum adalah salah. Kemudian pertahankan perhatian dengan menggugah minat mereka. Ada kesenjangan pengetahuan antara pembicara dengan peserta. Untuk bisa tahan memperhatikan, peserta perlu dipertahankan minatnya, setelah kejutan diberikan.

SU[C]CESs. Concrete. Konkret, buat orang memahami. Bantu peserta memahami materi. Orang berpikir secara konkrete. Gagasan abstrak perlu diberikan contoh konkrete. Attitute is everything, adalah abstrak. Apa contoh yang bisa kita berikan untuk mengkonkretkannya ? Beri cerita, fabel, metafora.

SUC[C]ESs. Credential. Kredibel, buat orang percaya. Gunakan otoritas untuk menyampaikan sebuah gagasan. Berikan rincian data yang mudah dipahami, dalil yang meyakinkan atau statistik yang mudah.

SUCC[E]Ss. Emotional. Emosi, buat orang peduli. Empati menggerakkan orang. Statistik tidak menggerakkan kepeduliaan. Satu orang yang kita angkat menjadi sampel bisa membuat orang peduli. Jumlah orang miskin di Indonesia bisa mencapai empat puluh juta orang. Pengetahuan ini tidak membuat orang peduli. Tetapi, cerita kemiskinan seorang janda tua beberapa puluh meter dari tempat kita, bisa membuat orang peduli. Emosi tersentuk karena informasi tidak abstrak. Emosi tersentuh bisa juga karena pertanyaan atau pertanyaan yang menyentuh identitas seseorang. “Orang Jakarta tidak buang sampah sembarangan !”. Cita rasanya beda jika yang diungkapkan, “Jagalah Kebersihan !”.

SUCCE[S]s. Story. Cerita, buat orang bertindak. Cerita mudah diingat. Cerita bisa memberikan inspirasi dan tantangan. Kita berpikir secara naratif.

Praktek. Untuk persiapan praktek yang diperlukan adalah menemukan inti atau gagasan utama yang ingin disampaikan, beserta kaitan dengan gagasan pendukung. Ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan mind mapping. Setelah curah gagasan ini, baru distrukturisasi alur presentasi yang akan dilakukan. Mana bagian awal, mana skenario konflik yang dibangun, mana bagian akhir atau klimaknya. Setelah persiapan. Lakukan, praktek. Ada rasa takut bicara di awalnya. Terapinya adalah paksa bicara. Walau terbata-bata. Dengan demikian kita mendapatkan pengalaman menerobos. Setelah itu tinggal, praktek, praktek dan praktek lagi.

Walllau A’lam
[Sepuluh Ramadhan 1429 H]
[Bahan sharing dengan panitia rekrutmen group-nya Ust. Warsito]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s