Seni Mendengar

Suatu malam, menjelang tidur, tiba-tiba istri mendekati saya. “Saya ingin ngobrol dulu”, katanya. “Saya lelah ! Apa topiknya ?”, tanya saya. “Mau ngobrol aja.” Tidak ada topik. Tidak ada tema. Sekedar bicara. Jawaban saya ini jawaban tipikal Mars-ian, kalau mengikuti buku Men Are From Mars, Women Are From Venus. Jawaban yang bisa merusak komunikasi.

Pernah anak anda mengajak bicara ?  Dia bercerita ke sana kemari. Kadang tidak ada saling kait. Kadang bahasanya tidak jelas, mungkin bahasa ciptaannya sendiri. Campur aduk. Cerita dia tadi begini, begitu, bisa ini, bisa itu. Apa sih yang diharapkan anak yang terus berceloteh pada ayahnya ?

Atau pernah tidak tiba-tiba istri ngambek tanpa sebab jelas ? Atau justru kita sendiri ngambek, tanpa sebab yang bisa dipahami istri kita ?

Kata kunci untuk memahami hal-hal di atas adalah komunikasi. Apakah komunikasi ? Terkait dengan soal mendengar dan bicara. Kita mungkin sudah terbiasa dengan ketrampilan untuk bicara. Tetapi bagaimana dengan ketrampilan untuk mendengar ? Bukankah mendengar adalah suatu yang sederhana. Bukankah cuma sekedar mendengar. Tahukah kita, kadangkala yang sederhana tidak selalu mudah dilakukan.

Istri kita ingin didengar. Anak kita ingin didengar. Orang tua kita ingin didengar. Adik kita ingin didengar. Teman kita ingin didengar. Ya. Semua orang ingin didengar suaranya.

Kenapa orang butuh didengar ? Brenda Ueland memberikan ilustrasi yang menarik. Dengar penjelasannya berikut. “Ketika kita didengar, ini membentuk diri kita, ini membuat kita membuka dan mengembang. Kemudian, ide mulai tumbuh dan menjadi hidup.” Dengar penjelasannya lagi. “Ketika seorang tertawa karena lelucon anda, anda menjadi gembira dan lebih gembira. Jika dia tidak tertawa, setiap benih lelucon dalam diri kita kemudian melemah, lalu mati.” Pada dasarnya, ketika orang mendengar, air kreatifitas jadi mengalir. Sebaliknya, tidak mendengar melemahkan sumber mata air kreatifitas. Sekian Brenda Ueland.

Ada kebutuhan untuk didengar di sudut jiwa kita. Ada kebutuhan untuk mendengar demi menjawab kebutuhan untuk didengar itu.

Sungguhkah kita sudah mendengar ? Barangkali kita sekedar mendengar, tetapi mengabaikan. Mungkin kita mendengar, tetapi berpura-pura. Boleh saja kita mendengar, tanpa perhatian.

Yang dibutuhkan dari didengar adalah perhatian. Perhatian membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Kehadiran mereka. Anak-istri kita. “Ada” nya mereka saja sudah cukup untuk diperhatikan. Mengutip kembali, Brenda, melalui proses mendengar yang kreatif ini kita dicintai dan mencintai.

Fenomena Do’a. Didengar adalah kebutuhan kita. Semakin kita merasakan didengar, semakin bisa berkembang kita. Ada suara-suara diri kita yang kadang tidak bisa diungkapkan atau dimintakan kepada manusia. Ada suara-suara yang mewakili keinginan, rintihan, harapan, cita-cita yang hanya bisa kita suarakan kepada Allah. Itulah do’a.

Kepastian bahwa suara kita didengar, memberi kita semangat, memberi kita energi kreatifitas. Dengarlah kutipan ayat yang indah berikut, yang serangkaian dengan ayat-ayat mengenai puasa. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendo’a apabila ia berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. 2:186)

[Dua Belas Ramadhan 1429 H]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s