Membaca, Menimbun atau Menjadi ?

Menurut satu keterangan, membaca [qaraa] dalam bahasa arab diartikan sebagai menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-cirinya dan sebagainya, yang kesemuanya dapat dikembalikan kepada hakikat “menghimpun” yang merupakan arti akar kata tersebut [Q. Shihab : Membumikan Al Quran].

Kalau aktivitas membaca merupakan aktivitas menghimpun, kemudian apa yang dihimpun ? Pengetahuan. Tentu saja orang membaca ingin memperoleh pengetahuan. Apakah pengetahuan ? Pengetahuan bisa diartikan sebagai tibanya jiwa pada makna sesuatu [objek pengetahuan itu] atau sebaliknya kedatangan makna pada jiwa. Apa itu makna ? Makna merupakan pengenalan tempat-tempat sesuatu dalam suatu sistem. [Naguib al Attas : Konsep Pendidikan dalam Islam]. Sasaran sejati dari proses pembacaan adalah terhimpunnya pengetahuan dalam diri kita, pengetahuan yang memberi makna kepada jiwa kita.

Mungkinkah membaca atau banyak membaca tidak memberikan pengaruh pada terhimpunnya pengetahuan secara tepat ? Atau aktivitas membaca kita tidak mencapai makna-makna yang terkandung dalam ? Mungkin saja. Jika modus membaca kita sekedar untuk menimbun pengetahuan. Fromm menyebutkan dua modus dasar dalam pengalaman kita sehari-hari, to have [memiliki] dan to be [menjadi]. Membaca bisa juga dalam modus to have atau to be. Membaca dalam modus memiliki dan membaca dalam modus menjadi.

Modus memiliki terkait dengan sekedar menimbun cerita, sekedar tahu akhir plot, siapa yang kalah siapa yang menang, siapa gagal siapa bahagia; sekedar mendapatkan ungkapan menarik, sekedar menaklukkan buku yangg tebal atau buku terkenal. Atau kita bisa menyebutnya sebagai membaca gaya bank (adaptasi dari pendidikan gaya bank-nya Freire).Membaca hanya sekedar untuk mendepositokan informasi, pengetahuan untuk persiapan penarikan kembali suatu saat nanti. Penarikan kembali informasi, pengetahuan itu bisa terjadi saat ujian atau saat kita mulai berhasrat untuk membanjiri orang dengan informasi mengenai satu topik agar terlihat penuh wawasan.

Modus menjadi [To Be] terkait dengan partisipasi internal, pemberian respon terhadap apa yang dibaca, memahami kerangka pikiran bacaan, mengetahui tidak untuk sekedar menimbun banyak pengetahuan. Descartes mengibaratkan membaca sebagai dialog dengan tokoh-tokoh besar. Membaca sebagai dialog. Ada proses bertanya-jawab dalam membaca. Ada transformasi. Modus menjadi berusaha mengkaitkan bacaan dengan perubahan cara berpikir, bersikap dan berperilaku. Ini modus untuk memakmumkan perbuatan kita kepada pengetahuan (ilmu). Sebagaimana Imam Bukhari katakan, “Ilmu sebelum Amal”.

[Tujuh Belas Ramadhan 1429 H]

3 thoughts on “Membaca, Menimbun atau Menjadi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s