Bicara, Untuk Konsep Diri Lebih Baik

Kemarin saya menulis mengenai mendengar dan membaca. Sekarang saya ingin berbicara mengenai bicara. Maksudnya bicara di depan suatu group, secara formal. Bukan sekedar ngobrol dalam perkumpulan atau bicara informal.

Pernah mengalami takut bicara di depan umum ? Saya pernah. Tepatnya sampai lulus SMP saya tidak punya pengalaman bicara di depan umum. Waktu SMP tidak ada sesi yang mengajari saya untuk bicara. Yang ada sesi untuk banyak mencatat. Pelajaran PMP dan Bimbingan Penyuluhan (BP) total pelajarannya menyalin buku saja. Belajar bertanya ? Wah di SMP dulu tidak berkembang. Walaupun prestasi formal (via ulangan umum) lumayan tetapi secara kepribadian saya amat pendiam atau bahkan minder. Berteman terbatas. Kalau baca buku, memang mulai suka. Apalagi di keluarga juga tidak ada iklim yang menunjang untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Bapak galak sekali. Hmmm. Hmm.

Kemudian masuklah saya di SMU. SMU 68. SMA 68 (sekarang). Bertemulah dengan pelajaran bahasa Indonesia. Anehnya gurunya menjelaskan bahwa dia tidak akan mengambil nilai dari ulangan tertulis (kecuali ulangan umum). Yang dinilai adalah ketrampilan lisan. Bertanya saat diskusi, belajar berpidato, belajar membawakan acara, memimpin diskusi, memberikan sambutan, menyanggah pendapat. Kalau baca puisi, sepertinya belum pernah dilakukan he..he..he.

Mati aku ! Rupanya ibu guru ini memaksa bicara. Kalau tidak bicara niscaya buruk nilai bahasanya. Saya melihat sebagian teman-teman di kelas 1-8 ketika itu amat pandai mengungkapkan pendapat. Mereka punya keberanian. Saya justru memiliki ketakutan. Kenapa mereka bisa seperti itu ? Sekarang saya tahu sebagian mereka berasal dari keluarga yang orang tuanya tidak galak sekali. Jadi ada korelasi antara keberanian mengemukakan pendapat dengan iklim keluarga yang mendukung (keluarga yang lebih demokratis).

Terpaksalah ! Pelajaran bicara saya yang pertama kali adalah belajar bertanya. Ya sekedar bertanya untuk mendapatkan nilai bahasa Indonesia. Ada paparan yang disampaikan oleh teman sekelas, sekarang saya ingin bertanya. Saya mengacungkan jari mengisyaratkan ingin bertanya. Kemudian berdiri dengan gemetar. Jantung berdegup kencang. [Hei, ini cuma bertanya bung !]. Saya mengucapkan pertanyaan saya. Saya lupa apa yang saya tanyakan. Mungkin juga saya tidak peduli apa saya sadar dengan apa yang saya tanyakan. Kemudian selesai, duduk. Lega. Lepas. Ambil napas. Plong. Saya sudah tidak peduli dengan jawaban teman saya. Saya menenangkan diri kembali. Jatung masih dag-dig-dug. Saya sudah bertanya.

Ada sesuatu yang berubah dalam diri saya. Dengan sekedar bertanya, saya merubah pandangan saya mengenai diri sendiri. Ternyata saya bisa. Ya saya bisa. Ini adalah pengalaman menerobos. Menerobos ketakutan. Menerobos persepsi takut saya sendiri. Kemudian saya mulai bertanya lagi. Bertanya lagi. Dan bertanya lagi, dalam diskusi-diskusi di kelas. Kadang juga mulai menyampaikan tanggapan. Kalau pelajarannya menuntut presentasi, ya presentasi. Kalau diminta guru pidato, ya pidato. Atau jadi moderator diskusi (ini yang dulu saya paling sukai).

Kelas 3 SMU. Ketemu guru bahasa Indonesia yang sama. Saya sudah siap dengan gayanya selama ini. Sampai sekarang jika ada yang bertanya pelajaran apa yang berkesan di SMU ? Saya menjawab bahasa Indonesia. Saya suka fisika. Tetapi fisika tidak merubah kepribadian saya. Pelajaran bicara merubah diri saya. Ya walaupun perubahannya tidak sebesar konotasi kata perubahan yang biasa dipakai sehari-hari. [Terima kasih bu Afrida, guru bahasa Indonesia saya].

Bicara memberi kita umpan balik mengenai diri kita. Apa yang kita ketahui kadang kala adalah salah. Bicara memberikan revisi untuk itu. Apa yang kita persepsi mengenai diri kita, kadang kala juga tidak tepat. Bicara memperbaiki konsep diri kita. Cara pandang kita terhadap diri kita. Belajar bicara bisa menjadi semacam terapi. Target bicara sebagai terapi tidak untuk terampil. Target bicara untuk terapi adalah mendapatkan pengalaman menerobos hambatan internal dan mendapatkan umpan balik mengenai diri kita. Perkara terampil bicara adalah perkara belakangan.

[Sembilan Belas Ramadhan 1429 H].

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s