Teori Peradaban Fukuzawa Yukichi

Pembukaan politik isolasi Jepang pada pertengahan abad 19 memberikan tantangan tersendiri bagi bangsa Jepang. Tantangan itu terumuskan dalam pertanyaan, bagaimana Jepang mempertahankan kemerdekaannya ? Pembukaan politik isolasi dan interaksi terhadap dunia Barat memberikan pula kesadaran bahwa kemajuan Jepang kalah jika dibandingkan dengan kemajuan peradaban Barat. Ini adalah posisi inferior dibandingkan dengan posisi Amerika, Inggris ataupun Belanda.

Untuk tetap mempertahankan kemerdekaan Jepang langkah yang perlu diambil adalah Jepang harus membangun peradabannya. Pada peradaban itulah terletak kemerdekaan. Peradaban adalah kemerdekaan.

Apakah peradaban itu ? Fukuzawa menyatakan bahwa peradaban tidak sekedar kenyamanan terhadap kebutuhan sehari-hari, tetapi ia adalah peningkatan pengetahuan dan pengembangan kebaikan untuk membawa kehidupan manusiawi ke posisi lebih tinggi. Jadi peradaban meliputi pencapaian kesejahteraan material sekaligus peninggian spirit manusiawi. Karena esensi kesejahteraan dan kemajuan adalah pengetahuan dan kebajikan, peradaban berarti kemajuan pengetahuan dan kebajikan manusia. Kebajikan adalah moralitas. Pengetahuan adalah kecerdasan (intelligence).

Fukuzawa pada awalnya membagi kemanusiaan menjadi empat jenis. Pada level terendah adalah konton, aborigin Australia dan New Guinea contohnya. Level kedua adalah banya, direpresentasikan oleh suku nomad Mongol dan Arabia. Selanjutnya, mikai, rakyat Asia pada umumnya (China, Turkey, Persia). Level tertinggi, kaika-bunmei, peradaban Barat adalah exemplarnya. Pada masa selanjutnya ia mengembangkan model lain tentang masyarakat, berdasarkan tingkat peradabannya. Pertama adalah yaban, komunitas biadab dan buta aksara. Selanjutnya, hankai, orang China dan Jepang sebagai contoh. Pada masyarakat hankai, literatur mulai berkembang walaupun tidak memiliki ketertarikan untuk meneliti dunia natural, tidak memiliki ide original untuk menemukan sesuatu dan belum mampu mengkritisi dan meningkatkan tata laku bermasyarakat. Ketiga, bunmei, masyarakat berperadaban yang memiliki kualifikasi yang tidak dimiliki masyarakat hankai.

Bagaimana peradaban dibangun ? Fukuzawa menguasai bahasa Belanda dan Inggris. Dia juga mempelajari teknologi-teknologi baru yang datang dari peradaban Barat, teknologi senapan secara khusus. Ia juga mempelajari fisika dan kimia. Sehingga untuk sisi-sisi teknologi dan pengetahuan alam tidak ada lagi yang mengejutkan baginya. Semua bisa dikembalikan ke dalam akar-akar pengetahuan yang telah dipelajarinya. Pelayarannya ke Amerika dalam rombongan duta memberikan perspektif baru baginya. Tidak ada yang mengejutkan baginya tentang kemajuan teknologi yang dicapai Amerika. Yang mengejutkannya justru adalah situasi sosial. Kemajuan material di sana berdiri di atas landasan sosial yang dinamis pula. Dalam perjalanannya kemudian ke Eropa selama setahun, justru ia mulai memperhatikan institusi-institusi sosial yang berkembang di sana. Ia mempertanyakan detail-detail lembaga-lembaga itu (bagaimana semua bekerja); parlemen, bank, sekolah, rumah sakit, gudang senjata, tambang dsb. Ia menyadari bahwa perubahan revolusioner dalam pengetahuan dan cara berpikir rakyat adalah penting untuk kemajuan. Peradaban tidak dicapai sekedar dengan membeli mesin dan peralatan tetapi mendidik pemuda-pemuda berbakat. Kapal perang yang lengkap tidak cukup, ia membutuhkan ahli navigasi, ahli teknik mesin, ahli persenjataan sebagaimana ia juga membutuhkan ahli geografi, matematika, fisika, kimia, dokter yang bekerja di balik kebutuhan pragmatis sebuah kapal. Kemajuan membutuhkan kondisi sosial sebagai syaratnya. Atau sebuah “batu penjuru dan pilar-pilar utama, jaringan sosial yang tidak terlihat (intangible social network) yang membentuk masyarakat berperadaban“.

Dalam Gokumon no Susume (An encouragement of learning) Fukuzawa mendiskusikan secara populer dua aspek peradaban di atas, pengetahuan dan moralitas. Ia memulai dengan kenyataan bahwa pada dasarnya semua orang diciptakan sama, yang membuat perbedaan kemudian adalah pendidikan. Usaha menuntut ilmu yang dibutuhkan, bagi Fukuzawa adalah yang memberikan manfaat praktis baginya, yang memberi bekal untuk kemandirian dan kemerdekaan pribadi. Pola menuntut ilmu yang tidak praktis ada pada tempat kedua. Ilmu-ilmu praktis itu meliputi baca dan tulis, kemahiran matematis, ilmu bumi, fisika, ekonomi, sejarah, akhlak. Orientasi menuntut ilmu yang bisa memberi manfaat sosial bukan sekedar menuntut ilmu untuk kemamkmuran pribadi semata, tetapi menuntut ilmu yang berorientasi pada kontribusi pada masyarakat (peradabannya).

Aspek moralitas terpenting bagi pembangunan peradaban adalah kebebasan. Kebebasan pribadi menopang kebebasan bangsa. Peradaban tidak bisa dibangun sekedar dengan mengimpor bentuk fisik peradaban. Sebuah peradaban memiliki spirit atau jiwa peradaban. Fukuzawa mengemukakan spirit yang menjiwai peradaban barat adalah spirit kebebasan. Kemerdekaan bangsa berakar pada kemerdekaan (kebebasa) pribadi. Tantangan untuk mengembangkan kebebasan pribadi ada pada jiwa feodalisme yang masih bercokol. Aspek-aspek patologis dari feodalisme menghalangi pengembangan peradaban (baru). Jiwa membudak, kebiasaan-kebiasaan negatif penghormatan terhadap orang yang dianggap lebih atas, penggunaan instrumen kekerasan untuk mengatur rakyat, penjinakan rakyat dengan hukuman-hukuman, subordinasi moral; adalah beberapa aspek negatif feodalisme. Tatanan feodal menggarisbawahi bahwa manusia diciptakan tidak setara. Peradaban baru menggarisbawahi setiap manusia diciptakan sama. Jiwa feodal yang masih dipraktekkan menyuburkan kemunafikan sosial; korupsi, kolusi dan nepotisme. Memerintah dengan kekerasan (despotik) menyuburkan rasa takut pada rakyat, yang justru menghalangi kemajuan sektor pemerintahan.

Apa strategi yang bisa digunakan untuk memulai proses peradaban ? Fukuzawa menilai pemerintahan reformasi Meiji ketika itu masih mengidap budaya negatif feodalisme Jepang dari masa-masa sebelumnya. Pada sisi lain rakyat kebanyakan juga masih memiliki budaya feodalisme itu. Peradaban modern dibangun di atas tiga landasan, ilmu pengetahuan, wiraswasta dan hukum. Pemerintah menelurkan hukum. Ahli ilmu (katakanlah seperti teknolog) memberi kemampuan mencipta secara fisik. Tetapi jika jiwa usang budaya lama masih tetap ada pemerintah bisa menjadi despotik dan para teknolog bisa berkolaborasi dengan pemerintah despotik sekedar untuk mencari kemamkmuran personal. Pangkalan utama untuk mengembangkan peradaban ada pada sektor swasta. Pada sektor inilah kecedekiaan berperan. Di sini jugalah terletak kelas menengah. Para cendekiwan berperan untuk memberi arah bagi peradaban. Dalam terminologi modern, memulai proses peradaban berpangkal pada membangun masyarakat sipil yang bebas yang tidak disubordinasi oleh pemerintah.

Catatan Rujukan

Salah satu buku Fukuzawa Yukichi yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia adalah Gokumon No Susume. Edisi Indonesianya, Jepang di antara Feodalisme dan Modernisme. Terj. Gokumon No Susume dari terj. Bahasa Inggris, Encouragement of Learning. Fukuzawa Yukichi. Pantja Simpati. 1985. Ini juga ketemunya dulu di loakan Kwitang. Selain itu ada juga satu buku yang membahas dalam satu bab pandangan peradaban Fukuzawa: Perspektif Peradaban, Abdul Jabar Beg. Pustaka. Bandung.

Di situs Unesco ada artikel mengenai para pendidik, salah satunya adalah Fukuzawa.  Fukuzawa Yukichi. Nishikawa Shunsaku. UNESCO. 2000.

Sebuah ebook juga tersedia di alanmacfalane.com. Yukichi Fukuzawa and The Making of The Modern World. (ebook). Alan Macfarlane.

Sebuah buku biografi Fukuzawa Yukichi terbitan tahun 1902, A Life of Mr. Yukichi Fukuzawa, dapat didownload di http://www.archive.org (gunakan kata kunci fukuzawa untuk search)

    One thought on “Teori Peradaban Fukuzawa Yukichi

    1. Assw… Apakah bpk memiliki buku terjemah A Jabbar Beg? Kebetulan itu terjemahan saya yg terbit th 86 oleh pustaka salman. Saya kehilangan kopinya, kalau boleh akan sy scan?. Wassalam. SYusuf

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s