Teori Peradaban Toynbee

A. J. Toynbee adalah sejarawan modern yang mencoba membahas secara komparatif kemunculan, pertumbuhan, kemunduran dan keruntuhan peradaban-peradaban dunia. Karyanya, A Study of History, mencapai dua belas jilid. Peradaban, bukan negara yang menjadi basis karya sejarahnya. Bagi Toynbee, peradaban adalah unit nyata dari sejarah. Dia menganalisis, dua puluh satu peradaban, empat peradaban abortif (mati di tengah jalan) dan lima peradaban terpenjara (tidak bergerak dari fase awal peradabannya) .Patut juga dicatat, bahwa Toynbee dalam karyanya ini memberikan pujian yang tinggi kepada Ibn Khaldun karena Muqaddimah-nya.

Problem pertama, bagaimana peradaban lahir ? Apa yang menyebabkan sebagian masyarakat (seperti masyarakat primitif) menjadi statik sejak tahap awal keberadaannya, sedangkan masyarakat lain mencapai taraf peradaban ? Jawaban Toynbee, kelahiran sebuah peradaban tidak berakar pada faktor ras atau lingkungan geografis, tetapi bergantung pada dua kombinasi kondisi, yaitu adanya minoritas kreatif dan lingkungan yang sesuai. Lingkungan sesuai ini tidak sangat menguntungkan juga tidak sangat tidak menguntungkan. Mekanisme kelahiran sebuah peradaban berdasarkan kondisi-kondisi ini terformulasi dalam proses saling mempengaruhi dari tantangan dan tanggapan (challenge-and-response). Lingkungan menantang masyarakat dan masyarakat melalui minoritas kreatifnya menanggapi dengan sukses tantangan itu. Solusi yang diberikan minoritas kreatif ini kemudian diikuti oleh mayoritas. Proses ini disebut mimesis. Tantangan baru kemudian muncul, diikuti oleh tanggapan yang sukses kembali. Proses ini terus berjalan. Masyarakat berada dalam proses bergerak terus dan gerak tertentu membawanya kepada tingkat peradaban. Apa bentuk tantangan-tantangan atau rangsangan lingkungan yang melahirkan peradaban ini ? Negeri yang ganas (hard country), tanah baru (new ground, karena migrasi misalnya), serangan (blows, perang misalnya), tekanan (pressures, kompetisi antar masyarakat), hukuman (penalization, hukuman sosial).

Pertanyaanya kemudian, mengapa dan bagaimana beberapa masyarakat gugur dalam proses peradabannya dan beberapa yang lain terperangkap pada taraf permulaan saja, sedangkan yang lain tumbuh menjadi peradaban yang penuh elan ? Menurut Toynbee untuk menjawab ini perlu ditegaskan dulu makna dari pertumbuhan (growth) dan gejala-gejalanya. Dalam pemikiran Toynbee, pertumbuhan peradaban tidak diukur dari ekspansi geografis masyarakatnya (kebalikannya malah valid, kemunduran peradaban bisa diasosiasikan dengan ekspansi geografis). Pertumbuhan peradaban juga tidak diukur dari kemajuan teknologinya. Pertumbuhan terdiri dari determinasi diri atau artikulasi diri ke dalam yang progresif dan kumulatif, dalam “etherialisasi” nilai-nilai masyarakat secara progresif dan kumulatif, dan simplifikasi aparatus dan teknik peradabannya [etherialisasi, mengarahkan aksi dari luar ke dalam]. Dari aspek hubungan intrasosial dan antar individu, pertumbuhan adalah tanggapan tak kenal henti dari minoritas kreatif terhadap tantangan-tantangan lingkungan yang ada. Peradaban yang berkembang membentangkan potensi dominannya; estetika pada peradaban Hellenik, religius pada peradaban India dan Hindu, saintifik mekanistik pada peradaban Barat, dsb.

Problem ketiga, bagaimana dan mengapa peradaban jatuh, terdisintegrasi dan hancur ?. Peradaban yang jatuh kemudian hancur adalah kenyataan sejarah. Tetapi kejatuhan atau kehancuran peradaban bukanlah keniscayaan kosmik atau karena faktor geografis atau karena degenerasi rasial atau karena penyerbuan dari luar. Juga bukan karena kemunduran teknik dan teknologi. Karena kemunduran peradaban adalah sebab, sedang kemunduran teknik adalah konsekuensi atau gejala. Pembeda utama masa pertumbuhan dan disintegrasi adalah pada masa pertumbuhan peradaban sukses memberikan respon terhadap tantangan sedang pada masa disintegrasi peradaban gagal memberi respon yang tepat. Toynbee menegaskan bahwa peradaban runtuh karena bunuh diri (sosial), bukan karena pembunuhan (sosial). Civilizations die from suicide, not by murder. Dalam formulasinya, keruntuhan peradaban berasal dari tiga hal; kegagalan usaha kreatif para minoritas, penarikan mimesis dari mayoritas dan hilangnya kesatuan sosial. Kemunduran peradaban melewati fase-fase berikut; kejatuhan (break-down), distintegrasi dan hancur. Kejatuhan dan disintegrasi bisa berabad-abad, bakan ribuan tahun. Toynbee memberi contoh, peradaban Mesir mulai jatuh pada abad ke-16 SM dan hancur pada abad ke-5 M. Selang dua ribu tahun antara awal jatuh dan kehancurannya adalah masa kehidupan yang membatu.

Pada masa pertumbuhan minoritas kreatif memberi respon yang sukses terhadap tantangan yang muncul, pada periode disintegrasi, mereka gagal. Pada masa kejatuhan, minoritas kreatif mulai teracuni kemenangan, kemudian memberhalakan nilai-nilai relatif atas nilai-nilai absolut, kehilangan karisma yang membuat mayoritas mengikuti mereka. Pada masa disintegrasi, minoritas ini kemudian bergantung pada kekuatan (force) untuk mengatur masyarakat. Mereka berubah dari minoritas kreatif menjadi minoritas penguasa. Massa berubah menjadi proletariat. Untuk menjaga kelangsungan hidup peradaban, dikembangkanlah negara universal, semisal Kekaisaran Roma. Sebagian masyarakat, mereka yang ada dalam subordinasi minoritas dalam tubuh peradaban (Toynbee menyebutnya internal proletariat) mulai meninggalkan minoritas ini, tidak puas, kemudian membentuk gereja universal (misal kristianitas dan budhisme). Mereka yang berada di luar peradaban pada kondisi kemiskinan, kekacauan (Toynbee menyebutnya external proletariat) mengorganisasikan diri untuk menyerang peradaban yang mulai runtuh. Perpecahan (schism) menimpa jiwa dan tubuh peradaban. Peperangan kemudian berkobar. Pada jiwa peradaban, schism ini mengubah mentalitas dan prilaku anggotanya.

Personalitas manusia pada fase keruntuhan ini terbagi menjadi empat golongan besar. Mereka yang mengidealisasikan masa lalu (archaism), mereka yang mengidealisasikan masa depan (futurism), mereka yang menjauhkan diri dari realitas dunia yang runtuh (detachment) dan mereka yang menghadapi keruntuhan dengan wawasan baru (transendence, transfiguration). Kecuali bagi transfigurator, usaha-usaha manusia berdasarkan tipe personalitasnya tidak menghentikan proses disintegrasi peradaban, paling banter hanya membuat peradaban menjadi fosil. Jalan tranfigurasi, mentransfer tujuan dan nilai kepada spiritualitas baru, tidak menghentikan disintegrasi peradaban, tetapi membuka jalan bagi kelahiran peradaban baru.

Catatan Rujukan
Pemahaman mengenai teori Toynbee di sini didasarkan kepada ringkasan tentang teori Toynbee oleh Pitirim Sorokin dalam, Toynbee’s Philosophy of History yang dimuat di buku Pattern of The Past : Can We Determine It ? (1949), juga kepada keterangan Pieter Gyel (salah satu kritikus Toynbee) pada buku yang sama. Bukunya dalam format elektronik (djvu) bisa didownload di archive.org.

Wikipedia (en.wikipedia.org) juga bisa dirujuk (artikel tentang A Study of History dan Arnold J. Toynbee).

Jika berminat untuk membaca karya Toynbee langsung, beberapa jilid A Study of History tersedia di archive.org. Saya sendiri tidak membaca langsung bukunya Toynbee, cuma lihat-lihat saja (utamanya judul-judul bab dan sub-babnya).

Pujian Toynbee terhadap Ibn Khaldun bisa dicek pada rujukan yang ada di posting sebelumnya tentang Ibn Khaldun.

2 thoughts on “Teori Peradaban Toynbee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s