Anis Matta Tentang Peradaban

Pengantar
Mungkin sebagian pembaca akan menilai pembahasan tentang pemikiran Anis Matta melompat terlalu jauh dari kronologi para pemikir peradaban (filsafat sejarah) yang dibahas sebelum ini. Ini hal yang wajar. Pilihan untuk membahas topik ini tentu saja sangat subjektif, lebih terkait dengan pilihan atau alasan atau selera pribadi. Akar pembahasan tema peradaban ini adalah pemikiran Malik Bennabi. Kaitan-kaitan atau akar-akar pemikiran Bennabi sendiri sebagiannya terkait dengan Ibn Khaldun, Guizot dan Toynbee. Fukuzawa muncul karena kesamaan problem yang dihadapi dengan Bennabi, bahkan Fukuzawa lebih dulu menelaah dan menyaksikan sebagian dari partisipasi intelektualnya diuji dan dicoba di Jepang. Di Indonesia salah satu yang terpengaruh oleh pemikiran Bennabi adalah Anis Matta (tokoh gerakah tarbiyah [dahulu], PKS [sekarang]). Membahas pemikiran Anis Matta juga memberi kita perimbangan pembahasan tentang peradaban yang pada tokoh-tokoh Barat atau Jepang (yang cenderung mengandalkan pemikiran spekulatif rasional mereka) dengan pembahasan yang berakar pada wahyu (Islam) sebagai sumber pemikiran.

Islam adalah peradaban. Demikian Anis menulis. (Mungkin lebih tepatnya Islam membangun peradaban). Bagaimana Islam bicara tentang peradaban ? Dari perspektif interpretasi tematis terhadap al Qur’an, Anis menyatakan al Qur’an selalu dan banyak sekali membicarakan tema-tema global yang terkait dengan peradaban; mengenai alam, manusia dan kehidupan. Termasuk di dalamnya tema-tema sejarah dalam bingkai perspektif peradaban, misal tema tentang mudawalah hadhari (siklus peradaban) dan tadafu’ hadhari (konflik peradaban).

Tema Peradaban

Tema-tema peradaban yang diusung oleh al Qur’an tersebar dalam beberapa dimensi. Pertama adalah dimensi visi peradaban (ru’yah hadhari). Pada dimensi ini pokok bahasan yang diungkap al Qur’an adalah tentang manusia, makna kehidupan, posisi alam dan signifikansi agama sebagai penata hubungan interaktif antara ketiga anasir di atas. Dimensi kedua adalah dimensi pendidikan peradaban (tarbiyah hadhariyah). Pada dimensi ini al Qur’an menekankan pada kaidah-kaidah dasar yang menghubungkan peristiwa, hukum tetap pengendali gerak sejarah bukan pada ruang dan waktunya, ketika ia memaparkan sejarah. Al Qur’an juga mengomentari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh kaum muslim generasi pertama. Misal peristiwa kekalahan di perang Uhud. Komentar al Qur’an mengajak untuk melakukan pembacaan peristiwa, sejarah dengan penuh analisa (sair fil ardh dan nazhar). Dengan demikian (pembacaan) itu bisa menyeimbangan kondisi psikologis kekalahan yang ada; karena adanya kesadaran akan sunnah pergiliran kemenangan dan penilaian yang diberikan Allah tidak terletak pada posisi kalah menang, tetapi pada konsistesi keimanan dalam dua kondisi itu. Tujuan pendidikan peradaban ini adalah munculnya generasi peradaban (jail hadhari). Dimensi ketiga dalam pembahasan tematik al Qur’an tentang peradaban adalah dimensi peran peradaban (daur hadhari). Visi dan pendidikan peradaban ditujukan secara khusus untuk strategi tertentu, peran peradaban. Peran peradaban ini tersebar pada tataran individu dan kolektif. Pada tataran individu peran itu adalah peran menjadi rahmat bagi semesta alam, pemberi kabar gembira dan peringatan. Pada tataran kolektif adalah peran untuk menjadi umat terbaik, umat pertengahan yang menjadi saksi bagi kemanusiaan.

Visi Peradaban

Sebagai sebuah landscape pemikiran al Qur’an menguraikan visi peradaban. Semua peradaban terdiri dari tiga kerangka dasar; manusia, tanah dan waktu. Pembeda antar peradaban terletak pada unsur ke-empat, dimensi sistem (agama) yang menjadi perangkat lunak penentu muatan dan performance peradaban.

Bumi. Tempat aktualisasi misi ibadah, khilafah dan imarah. Bumi telah ditata sedemikian rupa sehingga laik huni dan serasi untuk pentas hidup manusia. Bumi juga dibentuk (ditundukkan oleh Allah) untuk lentur, bisa direkayasa oleh manusia. Pola hubungan manusia dan bumi adalah pendayagunaan, bukan penguasaan.

Manusia. Struktur eksistensi manusia dibentuk Allah secara sempurna, baik dan indah, sehingga siap untuk menjalankan peran khilafah. Manusia diberikan potensi fisi, ruh dan akal, yang mampu memikul beban amanah itu.

Waktu. Waktu adalah kehidupan. Ini adalah konsep kesementaraan, ada batasan. Waktu terdistribusi ke dalam tiga lapisan, waktu individu, waktu sosial (umur peradaban) dan waktu sejarah (hingga kiamat). Konsekuensi dari distribusi waktu ini adalah distribusi beban amanah (kewajiban).

Agama. Agama adalah sistem kehidupan universal. Ini adalah sistem yang merangkai ketiga faktor tadi bekerja secara harmonis. Ini adalah kalimat, petunjuk untuk menyelesaikan misi yang dibebankan pada manusia.

Perubahan Sosial

Islam mesti muncul dalam kenyataan. Oleh karena itu ia mesti memanusia, memasyarakat, dan menegara. Pertumbuhan Islam dalam sejarah ada dalam manusia, negara dan peradaban. Manusia sebagai subjek. Negara sebagai institusi. Peradaban sebagai karya.

Karenanya mekanisme perubahan sosial bermula dari membangun ulang struktur kepribadian individu (dari cara berpikir hingga cara berprilakunya) kemudian individu-individu itu dihubungkan dengan jaringan yang baru. Tahapan rekonstruksi manusia muslim itu dapat dipetakan ke dalam tiga tahap. Pertama, memperbaiki afiliasi manusia muslim dengan Islam. Kedua, kemudian membawa individu-individu itu ke dalam masyarakat untuk berpartisipasi membangun masyarakat. Ketiga, menjamin orang yang berpartisipasi itu benar-benar dapat berkontribusi secara optimal.

Satu hal penting dalam proses menata ulang kepribadian muslim adalah merekonstruksi pemikirannya. Kemunduran peradaban ada pada latar pemikirannya. Kemunduran tersebab pada stagnasi, ke-mandeg-an pemikiran. Sehingga proses kebangkitan dimulai dari rekonstruksi pemikiran. Kerja rekonstruksi pemikiran ini dilakukan pada level individu. Karena gagasan-gagasan besar lahir dari akal-akal raksasa. Kerja merekayasa akal (shina’atul ‘uqul) dilakukan dengan memperbaiki pemahaman terhadap sumber-sumber pemikiran Islam; al Qur’an, as Sunnah dan warisan Intelektual peradaban Islam, hingga memunculkan metodologi yang mampu berinteraksi dengan problematika peradaban yang dihadapi.Secara metodologis langkah rekayasa akal ini memadukan dua tsaqafah (intelektualitas, ilmu), tsaqafah ‘ashalah (orisinal) dan mu’asharah (kontemporer). Mengutip pendapat Muhammad Al Ghazali, tsaqafah ‘ashalah ini tercakup dalam tsaqafah dzatiyah yang tercakup dalam ilmu-ilmu keislaman. Tsaqafah dzatiyah ini adalah tsaqafah yang memberi ciri identitas kultural, pemikiran, jiwa dan emosi umat. Tsaqafah dzatiyah ini juga yang menjamin kebenaran orientasi tsaqafah mu’ashirah (kontemporer); politik, sosiologi, dsb.

Bagian penting lainnya dalam menata ulang kepribadian muslim adalah terkait dengan masalah akhlaq, karakter. Di sini Anis menekankan karakter kepahlawanan. Karakter kepahlawanan inilah yang menjadi ciri khas dari para arsitek peradaban (shun’atul hadharah).

Catatan Rujukan
Tidak ada pemikir yang tidak meminjam dari pemikir lain. Dari keterangan di atas, pendapat Anis Matta juga dipengaruhi oleh pemikir-pemikir lain. Tiga kerangka peradaban (manusia, tanah, waktu) dan konsep jaringan sosial dipengaruhi oleh Malik Bennabi. Ide tiga wujud Islam dalam sejarah dipengaruhi oleh pemikiran Imaduddin Khalil (seperti yang tersimpul pada buku Hijrah dan Harakah). Konsepsi kepahlawanannya dipengaruhi oleh pemikiran Abbas Mahmud Al Aqqad (dalam seri kejeniusannya). Tentu masih banyak pemikir lain yang bisa dilacak pengaruhnya. Tetapi tetap saja sebuah sintesa adalah unik. Salah satu kekhasan Anis adalah nuansa sastra yang khas dalam tulisan-tulisannya.

Anis Matta belum menulis buku khusus yang diterbitkan, walaupun dalam biodata yang termuat di buku Festival Istiqlal 1995 tentang seni tercatat ia pernah berencana menulis buku terkait dengan struktur pemikiran manusia muslim. Buku-bukunya kebanyakan adalah kumpulan artikel, tulisan, kolom, ceramah dan modul pelatihan yang dia berikan. Ide peradabannya termuat di majalah Waqfah no.6 dan 7 volume 1, 1996. Tulisan di Waqfah ini juga termuat di buku Bunga Rampai Ekonomi Islam terbitan UI Press (atau sebaliknya makalahnya disampaikan dulu dalam perkuliahan ekonomi Islam kemudian baru dimuat di waqfah dan bunga rampai ?). Ide-ide peradabannya juga bisa ditemui dalam artikel atau kolom yang ditulis untuk beberapa majalah. Tulisan-tulisannya di majalah Hidayatullah diterbitkan Fitrah Rabbani 2006 dengan judul Dari Gerakan ke Negara. Kolom-kolom dan artikelnya di majalah Inthilaq era 90-an diterbitkan Fitrah Rabbani 2006 dengan judul Arsitek Peradaban. Kolom kepahlawanan dan cinta-nya di majalah Tarbawi juga sudah diterbitkan sebagai Mencari Pahlawan Indonesia (2004). Menikmati Demokrasi, kolom di majalah Saksi, juga sudah diterbitkan.

6 thoughts on “Anis Matta Tentang Peradaban

  1. bicara tentang peradaban adalah bicara tentang falsafah
    dan bicra tentang idiologi atau mabda’ serta bicara tentang halal dan haram karena islam mempunyai standar yang jelas.

  2. gagasan yang benar-benar orisinil memang tiada siapapun yg memilikinya. semua akan mendapat inspirasi dalam siklus tradisi ilmiah yang kita sebut dengan teori keterpengaruhan. hanya saja keistimewaan anis matta artikulasi yang jelas dan mengakar pada kontesk sosial indonesia. ini bakat intelektual yg tercipta dari proses pemahaman dengan pendekatan fiqh waqi

  3. arsitek2 pradabn kta skrng tngah d uji..bsa kah merealisasikan-y d Indonesia..yg bkan hanya gerakan(harokah) trus,.ttpi harokah yg menegara ALLAHU AKBAR.!!

  4. Slmt berjuang para arsitek pradabn..smoga harokah ini bsa bnar2 menegara ALLAHU AKBAR.!! Pertolongan slalu bersama ketaatan&ksbaran..

  5. salam tetap sukses selalu….

    saya ingin tanyakan mas.. kalau unsur unsur dalam peradaban itu apa saja??? makasihh… wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s