Narasi-Narasi Keruntuhan

Amerika akan runtuh dalam waktu dekat ! Barat akan hancur tidak lama lagi ! Barat menjelang ajal !

Pernah dengar atau membaca pernyataan-pernyataan seperti itu ? Apakah peradaban barat (dengan reprensentasi Amerika, Eropa, Australia) tengah mengalami keruntuhan ? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan afirmatif. Perlu perenungan dalam-dalam untuk memahami substansi permasalahannya. Banyak pakar yang sudah mencurahkan pikirannya untuk memahami ini. Perlu bertanya kepada mereka untuk memahami permasalahan ini.

Teori siklus peradaban seperti yang digagas oleh Ibnu Khaldun dan Toynbee memberikan deskripsi mengenai bagaimana sebuah peradaban naik dan turun. Siklus sebuah peradaban dimulai dari kelahiran, kematangan kemudian keruntuhan. Pada reruntuhan peradaban sebelumnya, muncullah peradaban baru. Dalam siklus seperti ini bukan berarti tidak ada kemajuan yang dicapai,  akumulasi pencapaian peradaban lain, menjadi dasar bagi munculnya peradaban baru. Sebuah siklus yang spiral.

Di sisi lain ada pula pendekatan yang linear terhadap perjalanan peradaban manusia. Sejarah yang linear itu tampak, sebagai sebuah contoh, pada gagasan sejarah Hegel dengan varian-varian pemikiran yang mengikutinya baik yang idealistik maupun materialistik dalam penafsiran terhadap sejarah. Tafsir sejarah Marxis, sebagai sebuah varian Hegelian, melihat sejarah dari perubahan-perubahan alat-alat produksi (ekonomi) masyarakat yang kemudian menciptakan pertentangan kelas. Pertentangan kelas ini berpuncak pada pertentangan kelas borjuis denga kelas proletar yang pada akhirnya akan dimenangkan oleh kelas proletar dengan tatanan komunisnya. Dengan demikian berakhirlah sejarah pada masyarakat komunis. Tafsir sejarah Hegel, menafsir sejarah sebagai proses kontradiksi (pertentangan antara tesis dan anti-tesis kemudian membentuk sintesis) dalam dunia ide. Sejarah dipandangnya sebagai sebuah proses pencapaian kebebasan manusia. Bermula dari Timur kemudian mencapai puncaknya di Barat. Puncak kebebasan manusia di Barat direpresentasikan oleh Negara Absolut Prusia-nya Hegel. Tafsir-tafsir linear ini tidak saja ada pada pemikir klasik. Pemikir kontemporer seperti Fukuyama, dalam pengaruh filsafat Hegelian, menafsirkan berakhirnya sejarah pada Kapitalisme Demokrasi Barat.

Secara pribadi saya cenderung kepada teori siklus untuk memahami sejarah. Tafsir sejarah linear pada akhirnya mengasumsikan tercapainya satu peradaban untuk semua umat manusia. Pada kenyataan pluralitas peradaban tidak bisa dihindari secara faktual. Tafsir sejarah linear juga cenderung membenarkan hegemoni sebuah peradaban terhadap peradaban lainnya. Teori siklus juga lebih dekat dengan semangat Qur’an yang membicarakan tentang pergiliran kemenangan antar umat manusia.

Terlepas dari pro kontra penafsiran sejarah di atas pada pokoknya ada kesamaannya. Persamaan utama terletak pada afirmasi bahwa sebuah masyarakat tidaklah kekal. Masyarakat (dengan demikian sebuah peradaban) memiliki umur. Teori siklus menyatakan pada akhirnya sebuah peradaban akan mencapai fase keruntuhan. Teori sejarah linear menyatakan adanya pertentangan-pertentangan dalam tubuh masyarakat yang kemudian memunculkan masyarakat baru.

Narasi-narasi mengenai keruntuhan Barat tidak cuma didengungkan oleh kalangan pergerakan Islam, yang dalam konfrontasinya dengan peradaban Barat banyak memunculkan ide ini. Di tubuh peradaban Barat sendiri narasi-narasi yang setara muncul, yang tidak sama persis dengan narasi keruntuhan. Narasi itu biasanya adalah narasi krisis. Entah krisis ideologi, krisis filosofis, krisis kapitalisme, krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis keluarga dsb. Artinya kesadaran terhadap problem yang diderita peradaban Barat secara internal diakui dan ditelaah.

Seandainya keruntuhan peradaban Barat sedang terjadi. Tidak mesti kita berpikir proses keruntuhan itu akan terjadi dalam waktu dekat. Dalam hitungan bulan atau beberapa tahun. Lagi pula proses kemunduran peradaban bisa mencapai waktu ratusan atau ribuan tahun. Narasi-narasi keruntuhan Barat yang didengungkan mestinya dipahami pada domain filosofis dan sosialnya. Narasi-narasi seperti itu tidak mesti dipahami pada sentuhan emosional dan imajinasinya (karena narasi keruntuhan memang menarik secara imajinatif).

Seandainya keruntuhan peradaban Barat sedang terjadi. Tidak mesti kita membayangkan terjadinya huru-hara besar yang meluluhlantakan tanah (negeri) mereka. Sebuah imajinasi lain yang menarik. Seperti terjadinya huru-hara “kiamat” dalam film-film yang menegangkan. Karena kemunduran dan keruntuhan peradaban tidak mesti menghilangkan manusia-manusianya. Yang berubah pada keruntuhan yang kemudian muncul masyarakat baru adalah entitas sosialnya. Hilangnya entitas negara komunis kenyataannya berganti dengan munculnya entitas negara baru, dengan orang-orang yang sama tapi dengan ideologi yang berbeda. Keruntuhan sebuah peradaban juga tidak mesti melalui huru-hara besar (apokaliptik) atau armagedon. Hilangnya negara komunis Soviet, tidak dengan huru-hara atau bencana sosial yang meluluhlantakan negara itu. Adalah menarik pendapat Yusuf Qaradawi ketika menafsiri hadist yang terkait dengan pembebasan kota Roma dengan tafsir pembebasan itu akan dilakukan dengan pena (sentuhan dakwah).

Tetapi keruntuhan bukannya tidak bisa dihindari atau jika tidak terhindarkan minimal menundanya. Jika sebab-sebabnya bisa dicari. Karena dalam siklus berlaku syarat-syaratnya. Salah satu yang pernah saya dengar terkait dengan penemuan di Barat yang membuat peradaban itu tegar dan bisa memperbarui diri adalah manajemen. Manajemen memungkin rekayasa ulang sebuah peradaban (atau masyarakat).

Jadi perlulah kita membumikan imajinasi kita mengenai keruntuhan dengan pikiran yang terbimbing oleh informasi yang valid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s