Narasi-Narasi Konflik Antar Peradaban

Ketika Soviet runtuh di awal tahun sembilan puluhan, para pemikir ramai berusaha men-candra masa depan dunia selanjutnya. Muncullah narasi-narasi baru masa depan dunia. Ada narasi yang menegaskan bahwa ini adalah akhir sejarah, selanjutnya sejarah hanya milik demokrasi-liberal-kapitalis Barat. Tetapi ada satu narasi yang menjadi perbincangan orang, sampai hari ini, narasinya Samuel Huntington. Narasi tentang benturan antar peradaban (clash of civilization). Dalam narasinya ia menyatakan akar-akar konflik masa depan (berarti saat ini) terletak pada akar-akar budaya [peradaban] bukan lagi pada konflik ideologi. Identitas kultural menjadi sangat penting di masa depan. Skema konflik utama yang akan muncul adalah konflik antara peradaban Barat dengan Islam-Konfusius. Tentu saja banyak yang menyangkal narasi konflik antar peradaban itu. Salah satu alasan penyangkalan itu adalah bisa saja narasi itu menujumkan dirinya sendiri (self fulfilling prophecy). Tetapi apa yang terjadi sepuluh tahun lebih setelah narasi itu disampaikan tampak seperti membenarkan prediksinya [puncaknya mungkin pada peristiwa 11/9/2001] atau mungkin “nujuman” itu dibuat untuk terjadi.

Di belahan dunia yang lain. Barat menjadi problem khusus di dunia Islam. Jauh-jauh hari sebelum Huntington mengemukakan tesisnya, yang merupakan sudut pandang internal Barat terhadap peradaban lain [Islam khususnya], di dunia Islam sudah berkembang narasi-narasi yang paralel dengan tesis konflik antar peradaban. Narasi itu adalah narasi ghazwul fikri [perang pemikiran, invasi pemikiran]. Imperialisme politik Barat boleh berhenti, tetapi imperialisme kultural masih berlangsung. Dalam wacana ghazwul fikri, secara sistematis Barat menyerang secara terus menerus peradaban Islam melalui ide. Mekanismenya bisa melalui pemunculan ide-ide yang menyerang keyakinan umat Islam terkait otoritas al Qur’an, Hadist, Nabi Muhammad dsb. Atau bisa juga dengan memunculkan tokoh di kalangan umat yang menjadi kontroversial. Atau melalui penelitian orientalisme yang mencapai kesimpulan kontroversial bagi umat. Pada pokoknya serangan pemikiran itu ditujukan, dalam wacana ini, untuk melemahkan keyakinan umat, untuk melarutkan kepribadian umat dan pada puncaknya untuk memurtadkan umat.

Ada beberapa catatan yang terlintas ketika berusaha memahami problem ini.

  1. Huntington mempersepsi konflik yang terjadi antar peradaban itu tetap diwakili, aktor-aktornya oleh negara-negara (bangsa). Pada kenyataannya konflik atau minimal perlawanan terhadap dominasi Barat aktor-nya bukan pada entitas negara bangsa tetapi pada entitas masyarakat. Karena pemerintahan negeri-negeri Muslim pada mayoritas memiliki kedekatan politik dengan Barat (Amerika khususnya), kecuali beberapa negera. Sehingga tidak ada entitas negara yang secara terang-terangan menentang Barat atau kebijakan politik Barat (dengan mengecualikan beberapa negara tentunya). Belajar dari narasi yang berkembang di dunia Islam terkait dengan problem Barat (politik dan kulturnya), kita bisa memahami bahwa benturan antar peradaban telah terjadi jauh sebelumnya. Benturan itu terjadi di wilayah pemikiran dan kemudian terartikulasi dalam gerakan-gerakan sosial-budaya di masyarakat muslim.
  2. Wacana ghazwul fikri seringkali dimunculkan dalam bentuk pemahaman bahwa semua salah paham Barat terhadap Islam, yang kemudian disampaikan secara umum, sungguh-sungguh dikerjakan dengan sistematis, terencana dan disengaja. Contoh pemahaman ini misalnya keyakinan bahwa para orientalis mengkaji Islam ditujukan sungguh-sungguh untuk menghancurkan Islam. Atau pemahaman bahwa siaran televisi yang berupa hiburan (film, musik dan gaya hidup) secara sengaja dan sistematis ditujukan untuk melarutkan kepribadian umat. Pada kasus-kasus tertentu bisa saja pemahaman ini tepat atau mendapat dukungan bukti yang valid. Tetapi, sejauh pemahaman saya,  ghazwul fikri mesti lebih jauh dipahami dari sekedar teori konspirasi semata. Salah paham terhadap Islam itu di-konstruk dari paradigma peradaban mereka (barat). Paradigma ini meliputi paradigma keilmuan [termasuk filsafat] atau paradigma budaya peradaban Barat. Jadi meneliti akar-akar paradigmatik dari mana salah paham atau budaya itu muncul penting untuk kita lakukan daripada sekedar mengatakan bahwa semua sudah direncanakan (semacam teori konspirasi total untuk menghancurkan Islam).
  3. Tidak dipungkiri bahwasanya perjumpaan peradaban Islam dan peradaban Barat dalam sejarahnya penuh dengan konflik. Cerita mengenai perang salib masih bergema sampai di masa modern ini. Perjumpaan kedua Islam dan Barat justru melalui kolonialisme dan imperalisme. Standar ganda Amerika dalam menyelesaikan permasalahan internasional saat ini juga menambah riuhnya perlawanan terhadapnya, di level masyarakat muslim.
  4. Tetapi di sisi lain peradaban Barat saat ini dalam posisi superior. Sedangkan peradaban Islam dalam posisi inferior. Inferioritas kita dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi dan sosial ini membuat ada juga sisi-sisi peradaban Barat yang kita rindui dan inginkan untuk juga kita capai. Agak naif mengatakan “yang penting Islam walaupun terbelakang”. Apalagi saat ini globalisasi adalah kenyataan yang tidak bisa kita tolak.
  5. Dengan demikian pilihan-pilihan interaksi dengan Barat sebenarnya tersedia. Dr. Thaha Jabir al ‘Alwani menyebutkan menyebutkan beberapa pilihan. Pertama, penjiplakan total budaya barat. Pilihan ini mengasumsikan adanya budaya tunggal yang unggul dan tepat untuk umat manusia. Bagi mereka tidak ada ghazwul fikri, ghazwul fikri bagi mereka adalah khayalan para ekstrimis. Pilihan ini tampak seperti sikap membudak terhadap peradaban Barat. Kedua, pilihan untuk isolasi total dari peradaban luar. Bagi mereka ghazwul fikri adalah realitas yang menggejala dan perlu ditanggulangi untuk menyelamatkan aqidah, pemikiran dan budaya umat. Isolasi peradaban pada puncaknya justru dapat melenyapkan peradaban itu sendiri. Ketiga, pilihan untuk berdialog dengan peradaban lain (Barat terutama). Ini adalah pilihan untuk menyaring dan menyelaraskan pemikiran yang diterima dari peradaban lain dengan nilai dan pemikiran peradaban kita sendiri. Ini juga menegaskan identitas kultural kita sendiri, selain secara kritis memahami peradaban lain.

One thought on “Narasi-Narasi Konflik Antar Peradaban

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s