Ketakutan dan Ketidakberdayaan Yang Dipelajari

Suatu hari seorang anak menangis keras dan minta gendong. Ketika ditanya kenapa ? Takut sama kecoa, jawabnya. Sampai hari ini dia masih takut kalau ketemu kecoa. Masih perlu waktu untuk menanamkan kembali sikap yang tepat ketika bertemu kecoa. Pertanyaannya, kenapa dia bisa takut pada kecoa ? Ternyata di keluarganya ada yang takut pada kecoa juga. Mungkin suatu hari ia menyaksikannya berteriak ketika bertemu kecoa dan itu menanamkan kesan ke benak anak kecil bahwa sesuatu itu menakutkan.

Ini kisah lain. Ketika pertama kali mulai masuk sekolah biasanya anak kecil yang baru mulai sekolah semangat sekali. Tetapi beberapa minggu kemudian semangat itu mulai meluntur. Bahkan ada yang sudah mulai mogok sekolah. Pertanyaannya kenapa sesuatu yang menarik pada awalnya berubah menjadi membosankan ? Pasti ada sesuatu yang terjadi di sana yang kemudian membentuk penilaian anak kecil itu terhadap sekolah. Mungkin gurunya galak. Mudah membentak. Mudah menghukum anak. Sampai sekarang tipe guru seperti ini masih ada loh. Sepupu saya, kelas satu SD tahun lalu, mendapatkan guru yang seperti ini. Maka terbentuklah persepsi belajar itu tidak menyenangkan, membosankan. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan anak kecil kemudian terbungkam dengan sistem budaya dalam kelas yang kaku.

Banyak orang-orang muda menganggur di sekitar rumah di Jati Pulo. Alasan yang sering kali keluar adalah tidak ada lowongan pekerjaan. Mungkin asal mulanya ada seseorang yang sudah lulus sekolah kemudian melamar pekerjaan ke sana ke mari tetapi tidak ada yang menerima. Kemudian ia menyimpulkan, dapat pekerjaan itu sulit — atau parahnya tidak mungkin. Belum lagi kabar-kabar di masyarakat yang menyatakan untuk dapat pekerjaan perlu sogokan, perlu ada jalan yang melempangkan. Kemudian kesimpulan seperti ini ditransmisikan dalam pergaulan sehari-harinya. Jadilah penilaiannya menjadi sesuatu yang dipelajari oleh yang lain. Kemudian yang lain belum mencoba pun sudah menyatakan pasti tidak ada lowongan.

Ketakutan, pesismisme, ketidakberdayaan, kelemahan mental. Ini adalah karakter-karakter negatif yang kita diminta untuk menjauhinya oleh Rasulullah. Ingat doa ini. Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabatiddaini wa qahrirrijal. Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan rasa malas, aku berlindung kepada-Mu dari pengecut dan pelit, dan aku berlindung kepadamu dari belitan hutabf dan dominasi orang lain.

Darimana muncul ketakutan, pesimisme, ketidakberdayaan, kelemahan itu. Semua karakter itu adalah sifat-sifat yang kita pelajari.  Maksudnya sifat-sifat itu memang kita tanamkan ke dalam diri kita. Bisa jadi tidak secara sadar kita menanamkannya. Tetapi persepsi-persepsi tertanam dalam benak kita kemudian membentuk karakter kita.

Jadi ingat penjelasannya Ibnu Qayyim ketika menerangkan bagaimana sebuah laku maksiat itu muncul. Bermula dari lintasan hati/pikiran/kesan awal. Jika tidak ditangkal akan berubah menjadi fikrah (persepsi). Jika tidak diluruskan akan menjadi kemauan. Kemauan yang semakin kuat berubah menjadi azam (tekad). Kemudian jadilah ia perbuatan. Perualangan perbuatan itu akan menjadi kebiasaan.

Mekanisme, yang dijelaskan Ibnu Qayyim, ini valid juga untuk karakter baik. Jadi karakter baik-buruk diri kita kebanyakan adalah sesuatu yang kita pelajari (learned), tanamkan dalam diri kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s