Poligami : Antara Legalitas Syariah, Logika Aktualitas, Keutamaan dan Paradoks Hidup

Pemikiran yang memenuhi pengetahuan umum masyarakat adalah pemikiran yang aktual. Melalui pemikiran aktual inilah masyarakat mencerna peristiwa-peristiwa yang terjadi. Sebuah peristiwa yang dalam kerangka pengetahuan umum ini tidak terdaftar menjadi semacam riak yang mengganggu ketenangan, sehingga masyarakat memberikan respon yang negatif.

Pemikiran yang secara aktual menguasai masyarakat tidak selalu merupakan pemikiran yang benar, bisa saja pemikiran itu salah secara aqli atau salah secara syar’i. Sebagai misal, dahulu (apakah sekarang ini masih ada ?) di kampung penulis di Jawa Tengah ketika terjadi gerhana matahari ramai-ramai orang menabuh kentongan karena menurut kepercayaan tradisional gerhana matahari terjadi karena seekor raksasa memakan matahari tersebut.  Pemikiran yang secara aktual menguasai masyarakat terbentuk dalam waktu yang lama, melalui proses sejarah. Emansipasi perempuan dalam politik misalnya, baru diterima secara global di abad ke-20 ini. Misal yang lain, penghapusan perbudakan baru diterima secara meluas pada akhir abad 19 dan pada abad 20.

Dalam sejarahnya poligami merupakan kenyataan sosial dalam banyak masyarakat. Isu poligami dalam Islam tidak menjadi masalah kecuali setelah adanya interaksi dengan pemikiran Barat modern, melalui orientalisme. Nasyat Al Masri bahkan menyatakan bahwa tidak ada tuduhan negatif apapun selama Rasulullah berdakwah terkait dengan poligami beliau.

Legalitas Syariah
Aspek legalitas syari’ah poligami dalam Islam, tidak ada permasalahan. Tetapi masyarakat kita saat ini terbentuk dan dibentuk dari berbagai macam arus pemikiran yang membuat aktualitas poligami menjadi dipermasalahkan. Terbentuknya stigma negatif terhadapnya selain disebabkan faktor ideologis barangkali juga terkait dengan pengalaman sosial yang didistribusikan kepada masyarakat adalah citra-citra negatif kasus-kasus perkawinan poligami secara berulang-ulang dan dalam waktu yang lama.

Logika Aktualitas
Bagaimana kita memahami peristiwa poligami beberapa tokoh umat dan pergerakan Islam ? Dapatkah kita memaknai itu sebagai upaya untuk memenangkan logika aktualitas masyarakat(menggunakan  ungkapan Bennabi) ?. Selama ini pemikiran Barat modern memposisikan Islam dalam kerangkeng tertuduh, dan membuat sebagian kalangan cenderung untuk membuat apologi-apologi terhadap pemikiran Islam (“oh Islam tidak begitu kok “). Logika aktualitas masyarakat bisa dibentuk salah satunya melalui solusi pragmatis bagi permasalahan-permasalahan sosialnya. Apakah sosialisasi poligami dapat memberikan solusi bagi permasalahan sosial masyarakat kita  (Dikontraskan dengan fenomena perselingkuhan [perzinahan])? atau permasalahan struktural sebuah pergerakan (nisbah yang tidak seimbang antara jumlah kader perempuan dengan kader laki-laki).

Keutamaan
Apakah kemudian poligami menjadi keutamaan bagi setiap orang ? Atau dalam konteks pergerakan, apakah poligami menjadi keutamaan bagi pilihan-pilihan seorang kader ? Apakah mereka yang memiliki kemampuan untuk berpoligami kemudian memilih untuk tetap bermonogami merupakan pilihan yang kurang utama ? Barangkali jawaban untuk modus pertanyaan seperti ini dikembalikan kepada kencenderungan, konsep diri dan karakter pribadi si pembuat pilihan.

Kartini, Sukarno : Pikiran Tentang Poligami dan Paradoks Hidup
Debat pro-kontra masalah poligami bukan saat ini saja mengemuka. Jauh sebelum kemerdekaan isu mengenai poligami sudah ramai dibicarakan tokoh-tokoh bangsa.

Dalam surat-suratnya, yang kemudian diterbitkan [dalam Habis Gelap Terbitlah Terang atau dalam kompilasi Surat-Surat Kartini], Kartini banyak memberikan opininya mengenai poligami. Terlahir dari seorang istri selir Bupati, dalam budaya bangsawan yang poligami merupakan sebuah kewajaran Kartini menyuarakan penolakannya terhadap poligami. Ia menyebut poligami merupakan wujud egoisme lelaki. Tentu saja apa yang dia ungkapan, untuk berbaik sangka padanya, kita juga harus memberikan perhatian terhadap kenyataan aktual negatif dari penerapan poligami di masanya sebagaimana yang dia lihat atau rasakan.

Sukarno pernah terlibat perdebatan mengenai poligami dengan H. Agus Salim sekitar 1929. M. Natsir bersama dengan A. Hasan pernah bertemu dengan Sukarno dan menyampaikan kritik terhadap partainya [baca PNI] yang suka menjelek-jelekkan agama Islam, isu poligami salah satunya [sebuah roman biografi Inggit, Kuantar ke Gerbang karya Ramadhan KH, menuliskan dialog yang terjadi antara mereka berempat].

Paradoksnya, Kartini akhirnya menjadi istri ke-empat dari Bupati Jepara. Setelah pernikahannya, surat-surat Kartini tidak lagi bernada menghujat poligami.

Paradoksnya, menjelang kemerdekaan Sukarno akhirnya menikah dengan Fatmawati, [Inggit konsisten dengan sikapnya yang tidak mau dimadu sehingga dia meminta cerai]. Sampai tahun enam puluhan tercatat kurang lebih 8 orang yang tercatat pernah menjadi istri Sukarno, sampai akhir hayatnya beberapa orang masih tercatat resmi sebagai istrinya [poligami]. H. Agus Salim kawan debat Sukarno ketika itu justru bertahan dalam monogami.

Saat melakukan kritik terhadap isu-isu di atas, Kartini dan Sukarno berdiri dalam posisi memenangkan logika atau nalar terhadap permasalahan yang ada. Ketika pilihan-pilihan hidup harus ditentukan, nalar saja tidak mencukupi atau bahkan nalar semata bisa saja dikorbankan; orang bisa menyebutnya sebagai pilihan-pilihan eksistensial.

Tulisan ini tidak bermaksud mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang terungkap. Sekedar untuk memaknai kehadiran sebuah fenomena.

Wallahu A’lam.
[Versi yang direvisi dari artikel yang dimuat di http://www.ukhuwah.or.id 18 Desember 2006 dan 13 April 2007]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s