Ambivalensi Sikap Untuk Kemenangan Obama

Dramatis. Spektakuler. Transformasional. Jalan Baru. Harapan Baru. American Dream. Yes We Can. Dan mungkin masih banyak atribut yang bisa disematkan untuk mensifati kemenangan Obama kemarin, bahkan sampai yang bernada spritual. Para analis melihat karakter, kepemimpinan, kecerdasan, determinasi juga strategi dan manajemen kampanye Obama memang memberi efek besar bagi kemunculannya menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika Serikat. Tidak juga dilupakan adagium komunikasi, medium adalah pesan, juga berlaku untuk kemenangan Obama. Internet adalah medium pesan baru yang efektif untuk menjaring suara dan dana. Bagi saya yang menarik juga adalah kecerdasan naratif Obama. Pidato-pidatonya mengalir dengan baik.

Di tengah gempita kemenangan di Amerika. Adakah alasan bagi kita di Indonesia untuk bergembira pula ? Lebih spesifik lagi, bagi para aktivis Islam, adakah alasan bagi kita untuk juga bergembira atau minimal bersimpati ?

Sebagian mungkin akan sinis terhadap kemenangan ini. Tidak akan ada perubahan apapun dari sikap Amerika terhadap dunia Islam. Keuntungan kemenangan Obama bagi umat Islam adalah kosong.

Bisa saja kita bersikap seperti itu. Tetapi sebenarnya di dalam diri kita ada sedikit ambivalensi. Saya yakin ketika memperhatikan peristiwa-peristiwa kemarin yang berpuncak pada kemenangan Obama, ada sidikit simpati, ada kepuasan emosi tertentu yang muncul dalam diri kita.

Simpati itu muncul bisa dari kenyataan bahwa Obama berkulit hitam. Kemenangannya adalah kontras dengan kenyataan rasial yang ada di Amerika beberapa dekade lalu, yang mengorbankan Martin Luther King dan Malcom X. Atau bisa juga simpati muncul karena latar belakang Obama yang ada ayahnya seorang Muslim, dan atau pernah tinggal di Indonesia. Simpati itu juga muncul dari kenyataan bahwa suatu harapan bisa dieksekusi dengan baik lewat strategi yang tepat dan manajemen yang efektif. Substansi otobiografi Obama, keberanian untuk berharap (the audacity of hope), ternyata bisa dibuat nyata. Simpati bisa juga muncul dari kerinduan akan fair-play dalam pertandingan pemilu seperti ini, setelah kita jengah dengan macam-macam pemilu dan pilkada dalam negeri. Tetapi ada juga kepuasan emosi yang muncul karena Bush dan partainya yang kita identifikasi sebagai pembuat malapetaka dan mudarat di dunia Islam bisa dikalahkan. Barangkali kita berteriak dalam hati, “sukurin !”.

Ya ada ambivalensi di sini, di satu sisi ada sedikit simpati, tetapi di sisi lain bagi kebaikan dunia Islam kita melihat (Palestina khususnya) mungkin tidak akan ada efek besarnya. Ambivalensi yang satu berakar pada rasa kemanusiaan dan keadilan kita untuk menilai. Ambivalensi yang lain berakar pada pengalaman-pengalaman perbuatan pemerintah Amerika sebelumnya.

Adakah yang salah dengan ambivalensi ? Ambivalensi, kata Muhammad Quthb, adalah bagian dasar dari manusia. Ada takut, ada harap.

Setidaknya kita bisa juga membaca dalam sejarah para sahabat ketika di Makkah dahulu pernah bersedih terhadap kekalahan Romawi yang notabene Kristen dari Persia yang notabene musyrik. Pertimbangannya kristen adalah agama wahyu (walaupun telah dirusak) sedangkan agama persia adalah pagan. Kemudian Allah mengisyaratkan kemenangan Romawi atas Persia setelah kekalahan itu beberapa tahun lagi. Dalam surat Ar Rum disebutkan pada saat kemenangan Romawi itu nanti kaum Muslim bergembira. Jelas ada perbedaan besar antara Islam dan Kristen. Tetapi konteks kegembiraannya bukan terkait aqidah, tetapi pada kemenangan yang Allah berikan.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s