Dialektika Islam dan Jahiliyah, Tafsir Imani Atas Sejarah

Membaca pemikiran terkait dengan sejarah dari Abul Hasan An Nadwi, Abul A’la Al Maududi, Sayyid Qutb, dan Muhammad Qutb kita mendapati penggunaan terminologi yang sama. Walaupun demikian muatan konsep yang diberikan dapat berlainan. Salah satu konsep terminologi yang digunakan oleh mereka adalah terminologi jahiliyah sebagai lawan dari Islam.

Jahiliyah sering dipersepsi sebagai periode sebelum munculnya Islam (Islam sebagai aqidah dan syari’ah yang dibawa oleh Muhammad SAW). Zaman sebelum diutusnya nabi Muhammad kerap disebut sebagai zaman jahiliyah. Tetapi bagi para pemikir di atas makna jahiliyah tidak sekedar mengacu pada satu zaman, tetapi mengacu pada satu keadaan yang bisa berulang di setiap waktu dan tempat. Bagi para pemikir di atas jahiliyah adalah lawan dari islam. Dalam sejarah terjadi pertarungan terus menerus antara Islam dan jahiliyah. Sehingga proses sejarah adalah proses dialektis antara Islam dan jahiliyah. Dialektis di sini perlu dipahami dalam makna konflik, tidak dipahami sebagai interaksi antara tesis, anti-tesis kemudian terbentuk sintesis baru.

Bagaimana para pemikir di atas memaknai jahiliyah ? Bagaimana mereka memahami interaksi dialektis antara Islam dan jahiliyah ? Ternyata ada perbedaan muatan makna yang mereka berikan pada konsep ini. Demikian pula ada implikasi yang berbeda-beda terhadap makna dialektis Islam dan jahiliyah dalam pemikiran mereka masing-masing.

Terlepas dari perbedaan pemaknaan dan perbedaan kesimpulan atau implikasi pemikiran mereka, terjadi proses mempengaruhi di antara mereka. Bisa dalam bentuk adopsi dan modifikasi konsep. Sayyid Qutb memberikan pujian kepada An Nadwi karena kejernihannya menggambarkan kondisi dunia sebelum Islam (masa jahiliyah) dan penerapan konsep jahiliyah untuk menggambarkan situasi di mana Islam terpinggirkan. Pada tahap selanjutnya adopsi Sayyid Qutb terhadap konsep jahiliyah yang dikembangkan An Nadwi mengalami modifikasi. Dengan demikian juga implikasinya terhadap pemikiran mereka selanjutnya juga berbeda. Maududi terlibat polemik dengan An Nadwi. Sayyid Qutb banyak dipengaruhi pemikiran Maududi. Selanjutnya Muhammad Qutb dipengaruhi oleh pemikiran Sayyid Qutb, kakaknya.

Mencari dan menemukan bagaimana deskripsi mereka masing-masing terhadap dialektika Islam dan jahiliyah dan bagaimana mereka menafsirkan sejarah melalui konsep ini, tentu akan menjadi penjelajahan intelektual yang menarik ?

Satu hal lagi yang juga menarik untuk kita jelajahi adalah pandangan mereka terhadap dunia Barat. Tidak diragukan bahwa kebangkitan Islam di masa modern ini tidak terlepas dari interaksi yang terjadi antara Islam dan Barat. Tentu saja terlalu menyederhanakan jika disimpulkan Baratlah penyebab kebangkitan Islam. Dalam Islam sendiri ada tradisi pembaharuan. Yang jelas hubungan Islam dan Barat di masa modern ini menjadi permasalahan tersendiri. Para pemikir kita di atas menyadari hal itu. Mereka memberikan pandangan dan penilaian masing-masing terhadap Barat.

[Tema ini akan menjadi topik selanjutnya setelah tema teori peradaban]

1. Pandangan Abul Hasan Ali An Nadwi [Silahkan Click]

2. Pandangan Abul A’la Al Maududi [Silahkan Click]

3. Pandangan Sayyid Qutb [Silahkan Click]

4. Pandangan Muhammad Qutb [Silahkan Click]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s