Filosofi Nikah

Ahad lalu adik saya menikah. Keluarga pihak perempuan meminta Dr. Quraish Shihab untuk menyampaikan nasihat perkawinan. Nasihatnya berkesan. Sekitar lima belas menit ia menyampaikan nasihat-nasihatnya. Berikut adalah refleksi dari apa yang beliau sampaikan pada waktu itu (seingat penulis). Karena ada juga gangguan-gangguan kecil saat mendengarkan ceramah beliau (Marwa merengek-rengek terus minta es-krim), di sini saya mengutip juga tulisan beliau di salah satu bukunya, untuk menautkan kaitan-kaitan yang hilang atau tidak ingat lagi.

Ketika akad nikah ungkapan yang disampaikan untuk meresmikan dua orang (lelaki dan perempuan) menjadi suami dan istri adalah pernyataan “aku nikahkan fulanah ..” atau “saya kawinkan fulanah ..”. Tidak tepat jika pada saat itu yang diungkapkan adalah “aku serahkan …” atau “aku hadiahkan ..” atau “aku berikan …” atau “aku anugrahkan ..”. Karena perempuan yang akan dijadikan istri seseorang bukanlah barang.

Nikah berarti menghimpun. Kawin mengandung makna pasangan. Berpasangan adalah hal fitrah bagi manusia. Pasangan memberikan sakinah, ketenangan. [Dari pengertian katanya, sakinah berarti diam, tenang setelah bergejolak].

Mas kawin yang diberikan kepada perempuan yang dinikahi juga bukan harga yang kita bayarkan baginya. Dalam bahasa arab, shoduqoh — mas kawin, sama akarnya dengan shidiq yang bermakna benar, jujur. Mas kawin adalah lambang kejujuran, kebenaran atas kesiapan seorang lelaki untuk menafkahi secara materi istri dan anak-anaknya.

Filosofi keberpasangan antara suami dan istri diungkapkan dalam al Qur’an sebagai pakaian. Suami adalah pakaian bagi istri. Istri adalah pakaian bagi suami. Fungsi pakaian adalah melindungi. Fungsi pakaian juga untuk menghiasi.

Pernikahan perlu diikat dengan cinta, mawaddah dan rahmah. Mawaddah berati kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk. Tidak ada manusia yang sempurna dalam perilakunya. Sehingga kadang perkataan atau perbuatan yang tidak tepat dapat mencederai cinta. Putus hubungan nikah, umumnya bukanlah solusi bagi banyak masalah-masalah seperti ini. Disini mawaddah memainkan perannya. Quraish Shihab menyebut mawaddah sebagai cinta plus. Sedangkan rahmah terkait dengan gagasan pemberdayaan.

Adalah wajar menikah dengan orang yang kita cintai. Tetapi adalah lebih penting mencintai orang yang telah kita nikahi. Karena pada hakikatnya cinta itu perlu diperjuangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s