Sketsa Pemikiran Abul Hasan An Nadwi Tentang Sejarah

Salah satu buku yang mengorbitkan nama Abul Hasan Ali An Nadwi dalam blantika pemikiran Islam adalah buku Ma Dza Khasiral ‘Alam bi Inhithatil Muslimin ?. Apa Kerugian Dunia karena Kemunduran Umat Islam. Gagasan dasar pandangannya tentang sejarah bisa dimulai dari buku ini. Buku ini juga menjadi paradigma bagi buku-bukunya yang lain.

Antara Masa Jahiliyah dan Islam
An Nadwi menggambarkan kondisi dunia sebelum kemunculan Islam, yaitu dunia abad ke-6 masehi, dalam kondisi gawat. Penuh dengan kerusakan yang meyeluruh dan meliputi seluruh dunia ketika itu. Kerusakan keagamaan (agama tauhid yang terkontaminasi kesyirikan dan praktek-praktek yang bertentangan dengan nilai-nilainya sendiri, merajalelanya paganisme/paham keberhalaaan), kerusakan akhlaq (moral) dan kerusakan sosial dan politik. Ini adalah potret kejahiliyahan. Kerusakan total ini dalam penilaian An Nadwi adalah tragedi kemanusiaan. Deskripsinya mengenai kondisi keagamaan, sosial dan politik pada masa jahiliyah sangat membantu kita memahami situasi dunia menjelang kemunculan Islam ketika itu. Ini adalah kontribusi yang besar bagi studi sejarah atau lebih khusus sirah nabawiyah. Sayyid Qutb memberikan apresiasi terhadap hal ini dalam pengantarnya untuk buku di atas.

Kemunculan Islam adalah penyelamatan kemanusiaan ketika itu. Dengan hadirnya Islam keyakinan (iman) yang segar muncul kembali, cita-rasa keagamaan kembali bersemai, tatanan yang lebih demokratis dan adil hadir. Tetapi jalan untuk mencapai itu bukanlah kerja reformasi politik atau sosial, tetapi kunci itu adalah kunci kenabian yang membuka kembali gembok yang mengikatkan rantai pada kemanusiaan. Kunci itu adalah kunci keimanan. Kejayaan Islam, kepemimpinan Islam atas sejarah (kemanusiaa), kemudian tertegak setelahnya di atas jihad dan ijtihad. Perjuangan material (sosial-politik-militer) dan perjuangan intelektual untuk menyelesaikan masalah-masalah yang selalu berubah.

Tetapi sebuah umat tidak selamanya bangun kadangkala ia juga tertidur. Kemunduran umat Islam pun terjadi. Bermula dari perpisahan antara pemikiran dan politik kondisi umat Islam mengalami penurunan yang drastis hingga munculnya peradaban Eropa (Barat) modern.

Peradaban Barat berakar pada tiga akar. Akar peradaban Yunani, Romawi dan agama Kristen. Peradaban Yunani memiliki ciri khas pengabaian terhadap kebenaran transendental, kurangnya cita-rasa dan semangat keagamaan, cinta tanah air yang berlebihan; yang kesemuanya terangkum dalam sifat materialisme. Peradaban Romawi memiliki ciri imperialistik. Sedangkan ajaran Kristen bersifat penyangkalan terhadap dunia (kerahiban). Peradaban Barat mewarisi karakter-karakter in; materialisme, nasionalisme-imperialis dan semangat kristen. Selain juga memiliki kekhasan pada kemajuan ilmu dan teknologi.

Apa kerugian dunia atas kemajuan peradaban Barat ?

  1. Ketiadaan rasa keagamaan dalam kehidupan praktis. Hilangnya kepekaan hati, tumpulnya cita-rasa keberagamaan dan semangat pencarian pada yang Ilahi.
  2. Dominasi materialisme, kebendaan, keduniawian dalam aspek-aspek kehidupan; bahkan dalam aspek spiritual.
  3. Kemerosotan moral.

Pada prinsipnya kemajuan material yang terjadi di Barat menghilangkan kesadaran manusia atas aspek ilahi dalam kehidupan. Dalam bahasa An Nadwi, yang hilang dari barat adalah kesadaran akan “masya Allah, la quwwata illa billah”.

Jadi ukuran kerugian dan keuntungan adalah kejernihan iman, hidupnya cita-rasa keagamaan, moralitas dan keadilan sosial. Hilangnya kepemimpinan Islam memerosokkan dunia ke dalam materialisme.

Penafsiran Sejarah
Dengan nilai-nilai yang telah disampaikan di atas, bagaimana kita menilai sejarah Islam. Adalah benar bahwa kejahiliyahan setelah era kenabian dan khilafah rasyidah mulai muncul kembali dalam bentuk nilai-nilai kesukuan. Serangan-serangan terhadap Islam juga sering ditemukan. Serangan yang tidak melulu bersifat politis tetapi juga pemikiran, dalam bentuk gerakan filsafat yunani misalnya. Tetapi vitalitas Islam tetap menunjukkan kehebatannya. Bahkan dalam masa kemundurannya, nilai-nilai Islam masih hidup dalam masyarakat.

Konsepsi jahiliyah yang merupakan anti-tesis Islam dalam pemikiran An Nadwi pertama-tama adalah dalam sisi keagamaan. Kontras utama dari Islam dalam hal ini adalah sikap hidup materialistik, hilangnya kesadaran manusia akan Tuhan, tumpulnya rasa keagamaan dan hilangnya iman atas kehidupan akhirat.

Sehingga sejarah Islam kita perlu dipahami dalam konteks ini. Secara politik mungkin saja kondisi umat tidaklah seideal pada masa-masa awal (masa kenabian dan khilafah rasyidah), tetapi dari sudut nilai keagamaan ia tetap hidup dalam masyarakat.

Pembaharuan

Di sini kita menemukan pula kenyataan bahwa ketika sebuah bentuk kejahiliyahan mulai ingin mendominasi masyarakat, muncullah para pembaharu-pembaharu atau mujadid Islam yang menyegarkan kembali pemahaman dan pengamalan terhadap Islam. Dalam sejarahnya tidak ada potongan sejarah yang di dalamnya absen dari hadirnya para mujadid ini.

Permasalahan yang sering diderita oleh pemahaman sejarah Islam adalah bahwa yang dideskripsikan melulu sejarah politik. Sejarah wangsa dan dinasti. Padahal adalah penting melihat sejarah sosial umat ketika itu dan bagaimana para pembaharu-pembaharu ini muncul untuk merevitalisasi kembali umat. Di sini juga perlu ditandaskan kekurangtepatan sebagian kalangan yang menilai kelayakan seseorang diberi predikat pembaharu (mujadid) dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkannya terlebih dahulu (misal; orang yang menegakkan kembali kekhalifahan dengan benar) tanpa memahami situasi sosial dan zaman yang melingkupi tokok itu. Sebuah penilaian yang bisa dikatakan a-historis. Dengan demikian dalam sejarah Islam tradisi pembaharuan ini kita temukan di setiap potongan zaman dan tempat. Tersebutlah Umar bin Abdul Aziz, Hasan Al Bashri, para Imam Mazhab dan Hadist, Imam Ghazali, Syaikh Abdul Qadir Jailani, Ibn Taimiyah, Syaikh Waliullah, Ahmad Sirhindi dan sebagainya.

Misi Islam
Apa kemudian misi yang diemban oleh umat Islam saat ini ? Misi utama umat saat ini adalah mengembalikan kembali keimanan dan kehidupan kepada kemanusiaan. Bagaimana ia memulai jalannya ? Pertama, ia harus membangkitkan kembali jiwa keagamaan mereka. Kedua, membangun tradisi kecendekiaan/intelektual untuk menerangi semangat yang menyala dengan kematangan visi (pandangan).

Catatan Rujukan

Buku An Nadwi sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sejak era akhir tujuh puluhan dan delapan puluhan. Bukunya Ma Dza Khasiral ‘Alam bi Inhithathil Muslimin telah diterjemahkan oleh banyak orang. Bey Arifin telah menerjemahkannnya diterbitkan oleh Bina Ilmu, Surabaya, juga Muhammad Tohir diterbitkan oleh Al Ma’arif, Bandung. Terjemahan dari Bahasa Inggris untuk buku ini diterbitkan oleh Angkasa, Bandung. Baru-baru ini juga telah terbit edisi terjemahan lain oleh Pustaka Setia dan satu penerbit lagi (saya lupa namanya).

Buku-bukunya yang lain juga banyak diterjemahkan Islam dan Peradaban pernah diterbitkan di Yogyakarta tahun 1983, Tokoh-Tokoh Pemikiran dan Dakwah (Rijalul Fikri wa Da’wah fil Islam) dua seri diterbitkan oleh Pustaka Mantiq (Seri pertama membahas Umar bin Abdul Aziz hingga Jalaludin Rumi, Seri kedua khusus membahas Ibnu Taimiyah), satu seri diterbitkan oleh Khazanah Ilmu yang membahas gerakan tajdid Abdul Qadir Jailani. Ceramah-ceramah yang disampaikannya di Eropa dan Amerika (Speak Plainly to The West) diterbitkan oleh Angkasa, Bandung.

One thought on “Sketsa Pemikiran Abul Hasan An Nadwi Tentang Sejarah

  1. Pingback: Dialektika Islam dan Jahiliyah, Tafsir Imani Atas Sejarah « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s