Sketsa Pemikiran Abul A’la Al Maududi Tentang Sejarah

Antara Jahiliyah dan Islam
Perilaku individu dan masyarakat dikonstruk dari pemikirannya tentang problem-problem mendasar dalam kehidupan. Pertanyaan tentang alam, hidup, pencipta, juga tujuan hidupnya. Pembeda utama antara Islam dan jahiliyah adalah pada metodologi yang digunakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan metafisis ini. Maududi mengidentifikasi tiga metodologi dasar yang digunakan manusia untuk menjawab problem-problem ini. Pertama, dengan menggunakan persepsi inderawi semata-mata. Kedua, menggunakan persepsi inderawi yang dibimbing nalar spekulatif. Ketiga, jalan kenabian. Dua yang pertama merupakan latar pemikiran jahiliyah. Jalan kenabian adalah latar pemikiran Islam. Jalan jahiliyah terbentang dalam beberapa paham. Ateisme, politeisme, dan monastisisme. Ateisme, yang menyatakan tidak ada pencipta semesta ini, tidak ada kenyataan yang sesungguhnya kecuali kehidupan dunia, hanya kebetulan yang melemparkan manusia ke panggung kehidupan. Ateisme ini terbentuk dari jalan inderawi semata untuk memahami dunia. Politeisme, paham banyak tuhan; sebuah hasil imajinasi manusia. Monastisisme adalah cabang politeisme dengan titik tekan pada pengingkaran terhadap kehidupan dunia, raga adalah penghalang jiwa untuk meraih kebahagiaan.

Islam, melalui metodologi kenabian, dibangun di atas dasar-dasar berikut.

  1. Allah adalah pencipta alam semesta. Allah adalah penguasa, pemiliki dan pengurus makhluk-makhluknya.
  2. Manusia adalah subjek bagi perintah Allah. Manusia diberikan kebebasa untuk mengikuti atau menolak petunjuk-Nya.
  3. Petunjuk-Nya dibawa oleh para nabi.
  4. Dengan demikian hidup manusia di dunia adalah dalam rangka ujian. Dan pada akhirnya manusia harus mempertanggungjawabkan kehidupannya pada hari akhirat.
  5. Kekuasaan jurisdiksi dan kedaulatan hukum tertinggi (hakimiyah) hanya bagi Allah.
  6. Misi utama nabi adalah menegakkan kedaulatan Allah dalam kehidupan ini.

Dari keterangan di atas bisa dipahami perbedaan mendasar antara jahiliyah dan Islam adalah pada jawaban dan metode terhadap pertanyaan-pertanyaan metafisis yang ada dalam kehidupan manusia. Hal yang selalu ditekankan oleh al Maududi terkait dengan konsepsi Islam adalah pandangan tentang kekuasaan jurisdiksi dan kedaulatan hukum (al hakimiyah) bagi Allah semata. Pandangan ini menjadi titik sentral elaborasi al Maududi terhadap Islam. Ketika menjelaskan pengertian terminologi-terminologi utama dalam al Qur’an (al ilah, ar rabb, al ibadah, dan ad dien) konsep al hakimiyah ini merupakan poros utama. Demikian pula ketika ia menjelaskan tentang teori politik dan pergerakan Islam. Rekonstruksi sejarah kenabian bagi al Maududi adalah rekonstruksi penegakan kedaulatan Allah di muka bumi sebagai misi utama kenabian.

Penafsiran Sejarah
Melalui kerangka teoritis di atas ukuran sejarah bagi al Maududi adalah wujudnya kedaulatan Allah itu. Masa kenabian dan khilafah rasyidah adalah masa islami sejarah umat. Pasca khilafah rasyidah, kejahiliyahan mulai masuk ke dalam tubuh umat. Pada permulaannya yang menjadi korban utama jahiliyah adalah sistem politik umat yang berubah dari khilafah menjadi kerajaan, korban jahiliyah kesukuan. Pada masa-masa selanjutnya tipe-tipe jahiliyah (ateisme, politeisme, monastisisme-kebiaraan) mulai merasuk ke dalam tubuh umat.

Walau demikian perlu dicatat bahwa pengaruh Islam tidak serta merta lenyap. Pengaruh dakwah Islam yang dibawa oleh Rasulullah telah merasuk sedemikian dalam ke dalam sejarah. Walau secara politik pengaruh Islam mulai melemah (dalam bentuk implementasi ideal dari hukum Allah), di wilayah-wilayah pemikiran teologis, spiritual misalnya Islam adalah faktor dominan. Juga perlu diperhatikan walaupun secara politik umat terpelanting ke dalam kondisi tidak ideal, ini tidak menghalangi munculnya orang-orang yang adil dalam kepemimpinannya. Apalagi jika dibandingkan orang-orang semasa dari peradaban lain dalam sejarah.

Gerakan Pembaharuan (Tajdid)
Hilangnya idealisme Islam dalam kenyataan dalam sejarahnya membuahkan gerakan pembaharuan (tajdid) yang dipelopori oleh para tokoh pembaharu (mujadid). Dari sisi doktrinal pembaharuan adalah kebutuhan. Tetapi al Maududi menyatakan gerakan pembaruan tidak mesti direpresentasikan dalam wujud satu orang, tetapi bisa dalam satu kelompok orang. Tokoh awal yang sering didaulat sebagai pembaharu dalam sejarah Islam adalah Umar bin Abdul Aziz.

Berdasarkan konsepsi teoritis di atas adalah mudah dipahami jika kemudian al Maududi membangun kriteria bagi pembaharu. Tiga ciri yang dimiliki oleh setiap mujadid adalah diagnosis terhadap penyakit umat, skema reformasi dan penilaian terhadap kemampuan diri dan sumber daya. Ciri yang lain meliputi revolusi intelektual, praktek reformasi, ijtihad, revitalisasi sistem islam dan menyebaran sistem islam ke seluruh dunia. Ciri-ciri ini pada dasarnya adalah ciri bagi mujadid ideal. Dalam penilaian Al Maududi sejarah mujadid ideal ini belumlah muncul. Konsepsi ini adalah tafsirannya terkait dengan konsep al mahdi dalam Islam. Jadi al mahdi adalah mujadid ideal yang melalukan proses pembaharuan secara menyeluruh, utamanya menegakkan sistem islam (kedaulatan islam). Yang muncul dalam sejarah pada umumnya adalah tipe mujadid parsial. Umar bin Abdul Aziz, empat imam mazhab, imam Ghazali, Ibn Taimiyah, Ahmad Sirhindi dan Syah Waliullah Ad Dehlawi adalah representasi gerakan pembaruan dalam tubuh umat, dengan konsentrasi mereka masing-masing.

Kritik An Nadwi
Pandangan Al Maududi ini bukan berarti tanpa kritik. Abul Hasan An Nadwi memberikan kritik terhadap pandangan-pandangan Al Maududi. Pokok kritiknya yang utama adalah pada sisi tafsir politis (tafsir siyasi) atas konsep-konsep dasar Islam (al ilah, ar rabb, al ibadah, dan ad dien) yang dilakukan oleh Al Maududi. An Nadwi menilai Al Maududi terlalu mereduksi konsep-konsep ini menjadi konsep politik dan menjadikan Islam sekedar relasi kekuasaan antara Tuhan dan manusia, juga menyamakan penegakan agama (iqamat addien) sebagai pendirian negara Islam semata (semacam proyek politik). Bagi An Nadwi penafsiran metafisis secara politis seperti ini tidak tepat, relasi manusia dan Tuhan lebih komprehensif ditinjau dari sisi relasi “cinta” dan “realisasi Kebenaran”.

An Nadwi menyetujui kebutuhan akan adanya negara Islam sebagaimana Al Maududi. Tetapi, tesis Al Maududi tentang tugas nabi untuk mendirikan kedaulatan Ilahi di dunia (dengan pendirian negara Islam) bagi An Nadwi adalah pembacaan yang salah terhadap konsep kenabian. Tugas utama nabi bagi An Nadwi adalah mendakwahkan ibadah kepada Allah semata dan mendidik manusia mengerjakan amal saleh. Demikian pula An Nadwi mengkritik Al Maududi yang memandang fungsi ibadah dalam Islam (shalat dan dzikir misalnya) hanya sebagai alat atau sarana pelatihan (training) bagi manusia sebagai subjek negara Islam. Ibadat dengan demikian menjadi alat bagi pendirian negara Islam. An Nadwi menilai, justru kebalikannya yang benar.

Jika kita membaca tulisan An Nadwi mengenai gerakan pembaharuan Islam, kita juga akan mendapatkan di sana semacam kritik terhadap pemikiran Al Maududi, walaupun tidak secara langsung. Penentuan kriteria ideal bagi setiap pembaharu bagi An Nadwi adalah tidak tepat, apalangi sekedar menjadikan usaha untuk mendirikan negara Islam atau khilafah ideal bagi tugas pembaharuan mereka. Masing-masing pembaharu memiliki permasalahan historisnya sendiri-sendiri. Apresiasi kita terhadap kerja pembaharuan mereka harus memperhatikan konteks permasalahan sosial politik yang ada di masanya masing-masing.

Catatan Rujukan
Karya Al Maududi banyak sekali terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Pustaka Bandung era delapan puluhan dan awal sembilan puluhan menerbitkan Dasar-Dasar Islam, Penjajahan Peradaban, Dasar-Dasar Iman, Sejarah Pembaharuan Islam, dan Upaya Membangkitkan Umat dari Kemunduran. Mizan Bandung juga menerbitkan Teori Politik Islam, Khilafah dan Kerajaan di era yang sama. Gema Insani Press menerbitkan Tanggung Jawab Umat Islam Atas Dunia dan Islam Masa Kini (1993). Penerbit Ramadhani Solo, pernah menerbitkan Islam dan Jahiliyah (terj. Islam and Ignorance). Ustadz Abdullah Said, pendiri Hidayatullah, menerjemahkan Empat Istilah Dalam Al Qur’an dan diterbitkan Al Ikhlas Surabaya.

A short history of the revivalist movement in islam. Terbit tahun 1962. Kemudian diterbitkan ulang oleh Islamic Book Trust.

Pandangannya mengenai Islam dan Jahiliyah (Islam and Ignorance), Empat Istilah Dalam Al Qur’an dan Metode Revolusi Islam juga beberapa bukunya yang lain dapat diakses perpustakaan virtual di www.witness-pioneer.org/vil/Books.

Kritik An Nadwi atas pandangan Al Maududi bisa dibaca pada tulisan Yoginder Sikand, Sayyed Abul Hasan ‘Ali Nadwi and Contemporary Islamic Thought in India, yang terdapat pada buku The Blackwell Companion To Contemporary Islamic Thought. Halaman 88-104. Pratinjau Terbatas (utamanya untuk artikel ini) bisa diakses di http://books.google.com dengan memberikan kata kunci judul buku di atas.

One thought on “Sketsa Pemikiran Abul A’la Al Maududi Tentang Sejarah

  1. Pingback: Dialektika Islam dan Jahiliyah, Tafsir Imani Atas Sejarah « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s