Teori Perubahan Sosial Sayyid Qutb

Barat tengah mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan Barat bukan pada bangkrutnya sumbangan material tetapi pada sumbangan nilai bagi kemanusiaan. Merupakan kepentingan kemanusiaan untuk mendapat pimpinan baru. Pimpinan yang mampu menjaga dan mengembangkan pencapaian material dan kejeniusan Barat, sekaligus memberi nilai dan ideal baru yang harmonis dengan fitrah kemanusiaannya. Adalah Islam semata yang bisa memainkan peran itu. Masa depan adalah miliki agama ini. Untuk itu maka merupakan kewajiban bagi kita untuk bekerja dalam proses kebangkitan Islam ini. Demikian keyakinan Sayyid Qutb yang terungkap dalam beberapa bukunya.

Jalan kebangkitan mesti bermula dari munculnya sekelompok orang beriman yang berkelompok secara organis, pionir [kelompok organis-dinamis, kelompok mukmin pelopor, tholi’ah mu’minah, vanguard] yang memunculkan Islam dalam praktek nyata kehidupan mereka. Agenda mereka kemudian adalah merekonstruksi kembali masyarakat Islam. Karena Islam mesti tertegak secara nyata dalam kehidupan (dalam wujud masyarakat) untuk efektif memerankan misinya, lebih dari sekedar ajaran yang tegak di dunia intelektual atau pemikiran.

Paradigma bagi kelompok pionir itu adalah generasi para sahabat, yang disebut Sayyid Qutb sebagai generasi yang unik. Generasi yang memiliki ciri khas yang membedakan dengan generasi-generasi lain, dengan demikian peran dan pencapaian mereka juga unik dibandingkan dengan generasi lain. Ciri khas itu terletak pada tiga hal. Satu, pada sumber pengambilan mereka yang murni dari Al Qur’an, menurut Sayyid Qutb tidak ada sumber ilham lain selainnya. Dua, kekhasan metode dalam berinteraksi dengan sumber itu (Al Qur’an). Di sini Qutb menyebutkan metode pendekatan mereka terhadap Al Qur’an bukanlah untuk sekedar mendapatkan informasi atau kenikmatan intelektual atau kenikmatan estetis tetapi untuk menemukan perintah apa yang diturunkan Allah yang mesti mereka lakukan, praktekkan dalam kehidupan individu dan sosial mereka. Ciri ketiga, ketika mereka menerima Islam mereka kemudian memutuskan ikatan mereka dengan jahiliyah. Mereka melakukan penolakan terhadap lingkungan jahiliyah, dari tradisi dan kebiasaan, ide dan konsep mereka. Mereka mempraktekan isolasi (terbatas) diri terhadap jahiliyah.

Nilai-nilai yang membimbing mereka, selama periode formatif pembentukkannya, adalah nilai-nilai aqidah semata-mata. Inilah hikmah selama tiga belas tahun periode dakwah Rasulullah di Makkah, Rasulullah berkonsentrasi dalam menanamkan aqidah ini. Untuk menanamkan aqidah ini metode yang digunakan tidak melalui mekanisme penanaman secara intelektual, sebagaimana dalam pembahasan teologis. Metode ini khas dalam upayanya mentrasformasi aqidah itu ke dalam jiwa yang hidup, kemudian dalam organisasi yang aktif dan kemudian pada komunitas yang bergiat. Itulah hikmah gradualitas turunnya wahyu. Dalam pandangan Qutb, agama ini mengkonstruk keyakinan (aqidah) bersamaan dengan pembentukan sebuah komunitas. Dengan demikian maka dalam keyakinan Qutb, keyakinan islam mesti dimaterialisasikan (diwujudkan secara konkret) dalam gerakan yang praktis, dan dengan kemunculannya gerakan ini mesti menjadi representasi yang akurat dari keyakinan itu.

Mengaburkan konsentrasi pembinaan dari aqidah adalah sebuah kesalahan. Isu-isu fiqh atau rincian-rincian sistem yang disarankan Islam atau jawaban-jawaban yang dimintakan atas islam terhadap permasalahan-permasalahan kehidupan; masalah ekonomi, sosial misalnya; adalah semacam pengaburan terhadap misi utama (aqidah). Bagi Qutb adalah semacam lelucon ketika memperbicang pengembangan fiqh islam dalam suatu masyarakat yang tidak menyatakan kepatuhan kepada syari’ah Allah dan tidak menolak syari’ah yang lain. Sisi lain, dalam pandangan Qutb, Islam tidak bertanggung jawab atas setiap problem yang muncul karena penerapan ideologi atau sistem lain. Baginya patuhi secara total Islam (dalam aqidah) baru kemudian berbicara tentang masalah-masalah yang muncul dalam perkembangannya.

Substansi muatan aqidah yang menjadi pokok pembicaraan Qutb adalah pengabdian total (ibadah), penyembahan kepada Allah. Bahwa manusia harus mengetahui tuhan mereka yang benar, kemudian menyerahkan diri secara total semata-mata kepada-Nya, dan mengeliminasi semua “ketuhanan” manusia. Allah bukan semata-mata penguasa alam semesta tetapi juga pemilik kedaulatan; sehingga pengakuan “tiada tuhan selain Allah” bermakna bahwa hanya Allah sajalah penguasa sesungguhnya semesta raya, hanya Allah saja pemegang kedaulatan, semata mengabdi kepada-Nya dan mempraktekkan hukum-hukum-Nya. Hilangnya makna-makna ini dalam kehidupan merupakan indikasi jahiliyah, dalam pandangan Qutb. Kejahiliyahan pada prinsipnya berporos “penuhanan” atau penyembahan selain Allah pada hak untuk menentukan konsepsi dan nilai, peraturan dan perundangan, sistem dan solusi. Praktisnya dalam pemahaman tentang penyembahan kepada manusia mencakup sisi-sisi penerimaan konsepsi ideologi sampai bentuk pemerintahan sekuler yang menentang syari’ah. Atau secara teologis, penekanan Qutb adalah pada sisi hakimiyah dari uluhiyah Allah SWT. Pada penilainnya masyarakat jahiliyah di era modern ini mencakup hampir seluruh dunia, baik di Barat atau Timur, bahkan termasuk masyarakat muslim kontemporer. Parameter utama indikasi kejahiliyahan itu adalah tidak adanya praktek penegakkan kedaulatan Allah di dalam kehidupan mereka.Bagi Qutb, antara Islam dan jahiliyah adalah oposisi biner yang tidak dapat dipersatukan. Kalau tidak Islam pasti jahiliyah. Jika jahiliyah maka tidak Islam. Islam dengan demikian adalah sistem kehidupan yang serba mencakup.

Islam dengan demikian tidak semata-mata aqidah, kepercayaan murni, tetapi juga manhaj (metode) untuk merealisasikan aqidah itu dalam kehidupan nyata. Kemunculan kelompok imani merupakan basis pembangunan masyarakat Islam, sebuah masyarakat yang berbeda secara total dengan masyarakat jahiliyah (pada prakteknya mestilah melakukan isolasi terhadap jahiliyah). Dalam pertumbuhannya masyarakat Islam akan selalu berkonfrontasi dengan masyarakat jahiliyah. Dalam proses konfrontasi ini jihad merupakan metode perjuangannya. Dalam refleksinya terhadap bertahapnya legislasi perintah jihad hingga mencapai puncak pada fase ofensif, Qutb menyebutkan hikmah utama. Pertama adalah ini adalah metode praktis, realis. Jahiliyah membentuk dirinya dalam bentuk yang praktis. Sehingga langkah menghadapinya juga mesti praktis. Kedua, problem yang dihadapi masyarakat dalam proses pertumbuhannya ini berlangsung secara bertahap. Oleh karenanya metode pemecahan masalah yang ada (dengan demikian juga masalah pembentukannya) tidak dalam bentuk yang teoritis tetapi berangsur-angsur sesuai dengan kebutuhan praktisnya. Ketiga, agama ini membutuhkan metode-metode baru yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip fundamental dan tujuannya. Keempat, Islam menentukan basis legal bagi interaksi antara komunitas muslim dengan yang lain. Pada puncaknya proses jihad adalah ofensif. Mekanisme pembelaan diri yang diberikan oleh sebagian tokoh yang menyatakan jihad pada dasarnya adalah proses defensif, dinilai Qutb sebagai cara inferior (kalah mental) semata-mata.

Kritik Atas Pemikiran Sayyid Qutb
Penghargaan yang diberikan oleh dunia Islam terhadap sumbangan Qutb terhadap Islam, baik secara pemikiran maupun kepemimpinan, tidak menghalangi kritik terhadap pemikirannya.

  1. Yusuf Qaradawi mengkritik Qutb tentang penilaian kejahiliyahan yang diterapkannya. Ketidakidealan yang ditemukan dalam masyarakat Islam kontemporer ataupun dalam sejarah tidak tepat jika disamakan dengan jahiliyah Makkah ketika pertama kali dakwah Islam muncul. Jika kita mesti menggunakan terminologi jahiliyah maka jahiliyahnya bukan jahilyah total tetapi parsial. Masih ada yang hidup dari ajaran Islam dalam tubuh umat ini. Pengertian inilah yang juga dipahami oleh Ibn Taimiyah ketika berbicara mengenai konsep jahiliyah. Atau jika kita menggunakan terminologinya Abdul Qadir Audah, permasalahan umat ini berporos pada kebodohan (jahl) umat dan ketidakberdayaan (ajz) ulama-ulamanya. Kata kuncinya di sini antara jahl dan jahiliyah adalah berbeda.
  2. Pendapat Qutb mengenai tidak perlunya pengembangan fiqh juga dikritik oleh Qaradawi. Dakwah tidak mesti menjadi elitis (cuma aspek pengkaderan barisan pelopor) tetapi juga menyentuh massa. Massa, masyarakat pada umumnya, memiliki permasalahan-permasalahan aktualnya sendiri. Permasalahan aktual ini mesti dicarikan pemecahannya dalam Islam (apalagi masyarakat itu adalah masyarakat muslim). Adalah tugas fiqh membimbing mereka dan memberikan solusi dalam koridor keislaman bagi masalah-masalah aktual itu. Fiqh dengan ijtihad sebagai instrumennya merupakan prinsip gerakan dalam Islam. Masyarakat muslim juga tidak bisa menghindar dari masalah-masalah kemanusiaan yang umum dimiliki oleh umat manusia. Problem kemiskinan, pengangguran, keadilan politik misalnya adalah masalah-masalah kemanusiaan yang akan selalu menjadi bagian integral sebuah masyarakat. Sehingga menjadi tanggung jawab fiqh untuk memberikan arahan solutif bagi permasalahan itu.
  3. Debat antara defensif atau ofensif atas konsep jihad, bagi Qaradawi adalah debat yang tidak positif. Jihad memiliki aturannya sendiri, berdasarkan fiqh. Siapa yang berhak menggerakkan jihad, bagaimana jihad dilakukan, diatur oleh fiqh.
  4. Jika kita menerapkan konsepsi Qutb (tanpa kehati-hatian) atas perjalanan sejarah Islam maka kita bisa jatuh pada penilaian yang keras atau tidak adil atas sejarah umat. Kita bisa jatuh pada penilaian bahwa Islam dalam sejarahnya hanya berlaku pada masa kenabian atau khulafa-ur rasyidin atau hanya sampai masa Umar saja, sebab setelah itu tidak ditemukan perjalanan sejarah umat Islam yang ideal hingga masa kontemporer. Ini tentu saja menjadi kontradiksi dengan substansi pemikiran Qutb mengenai Islam sebagai solusi bagi permasalahan kemanusiaan.
  5. Implikasi-implikasi sosial atas penerapan konsep Qutb juga mesti kita perhatikan. Tanpa hati-hati kita bisa jatuh kepada kemudahan untuk mengkafirkan (takfir). Pemikiran mudah takfir ini bisa menjadi basis bagi penggunaan kekerasan. Ini yang menjadi perhatian Hasan al Hudhaibi ketika mengeluarkan buku Kami Da’i Bukan Hakim (Nahnu Du’at La Qudhaat). Tentu saja implikasi sosial bukan kesengajaan yang direncanakan oleh pemikirnya. Implikasi sosial muncul karena banyak faktor yang tidak bisa kita kendalikan secara langsung.
  6. Bagi Ja’far Syaikh Idris, dalam The Process of Islamization, pernyataan bahwa Islam adalah sekaligus risalah (pesan) dan manhaj (metode perealisasian) adalah tepat. Tetapi menyatakan bahwa masyarakat kembali kepada jahiliyah model Makkah dahulu kala sehingga menjadi kewajiban bagi kita untuk memulai dari titik awal dan bergerak sesuai tahapan yang dilalui Rasulullah, adalah klaim yang tidak dapat dipertahankan. Karena kita tidak dapat memindahkan situasi sejarah dari satu periode ke lain. Ketika itu (zaman Makkah jahiliyah) kaum muslimin cuma itu saja di seluruh dunia, sekarang kaum muslimin tersebar di mana-mana. Ketika itu risalah Islam belum tuntas diturunkan, sekarang kita menerima Islam dalam bentuk yang sempurna. Aqidah, Akhlaq (ajaran moralitas), Ibadah, aturan Mu’amalat adalah bagian integral dari Islam yang kita terima. Dalam pengantar pembahasannya pengantar memahami surat Al Baqarah, Khurram Murad menegaskan itulah kenapa Al Qur’an diatur sedemikian rupa berdasarkan petunjuk Allah tidak berdasarkan urutan penurunannya. Justru surat-surat awal banyak sekali terkait dengan aturan sosial ekonomi dan politik.
  7. Karena Qutb banyak dipengaruhi oleh Al Maududi, kritik An Nadwi atas Al Maududi juga bisa disampaikan untuk Qutb.

Catatan Rujukan

Buku Sayyid Qutb sudah banyak diterjemahkan. Media Dakwah era delapan puluhan sudah menerbitkan Petunjuk Jalan, Islam Agama Masa Depan, Inilah Agama Islam (Hadza Addien), Studi Tentang Islam. Ma’alim Fi Thariq juga pernah diterbitkan Ramadhani Solo dari terjemahan edisi bahasa Inggris (Milestone). Terjemahan Ma’alim Fi Thariq terbaru diterbitkan GIP. GIP juga sudah menerbitkan terjemahan Fi Dzilalil Qur’an, penerbit lain Robbani Press juga menerbitkan terjemahannya tetapi belum tuntas.

Kritik Qaradawi atas Qutb bisa dilihat di bukunya yang membahas tentang Ijtihad. Buku Milestone Qutb, The Process of Islamization dari Ja’far Syaikh Idris, juga buku Qaradawi mengenai prioritas gerakan Islam bisa dibaca di perpustakaan virtual http://witness-pioneer.org/vil/Books/.

5 thoughts on “Teori Perubahan Sosial Sayyid Qutb

  1. Pingback: Dialektika Islam dan Jahiliyah, Tafsir Imani Atas Sejarah « Refleksi[Budi]

  2. akademisi kita masih kurang membahas pergulatan pemikiran ‘teori perubahan sosial / pergerakan’ dari pemikir-pemikir Islam. kenapa … ???

    • Mungkin karena mereka menilai para pemikir pergerakan Islam atau mereka yang dijadikan rujukan atau referensi bagi pergerakan Islam bisa diklasifikasikan dalam kotak fundamentalisme. Biasanya dalam pandangan mereka fundamentalisme itu anti-intelektual atau inti menurut mereka inti pemikirannya ya itu-itu saja (yang bisa diwakili dalam terminologi Islam Politik, misalnya).

      Padahal kita bisa melihat intelektualisme juga ada di tubuh gerakan Islam. Ada dialog intelektual yang seru juga di sana. Jadi pemikiran yang muncul tidak monolitik tetapi beragam.

  3. Secara singkat beda pemahaman antara malek bennabi dengan sayyid qutb bisa dilihat di https://refleksibudi.wordpress.com/2008/10/21/antara-peradaban-dan-kebudayaan/

    Pada intinya :
    1. Bagi Bennabi problem utama umat Islam sekarang ini adalah problem peradaban. Peradaban di sini diukur dari pencapaian-pencapaiannya; baik pencapaian material, intelektual maupun moralnya; sebagaimana terepresentasikan dalam sejarah. Masalah umat bukan pada ketidakpercayaannya pada nilai-nilai Islam, tetapi pada tidak efektifnya nilai-nilai islam itu secara sosial dalam sejarah kontemporer.
    2. Bagi Qutb, Islam itu adalah peradaban. Jadi menjadi muslim (dalam totalitasnya) adalah pilihan beradab satu-satunya. Ukuran peradaban di sini adalah nilai-nilai Islam.
    3. Titik perbedaan antara Qutb dan Bennabi ada pada persepsi yang berbeda mengenai peradaban. Bennabi mengacu pada entitas sosial yang berkemajuan (dinamis), Qutb mengacu pada nilai-nilai keyakinan Islam sebagai acuan untuk menilai beradab tidaknya sebuah masyarakat.

    Wallahu A’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s