Belajar Dari Ibrahim

Bulan syawal lalu kami mengadakan buka puasa bersama. Salah seorang akh menyampaikan taushiah mengenai Ibrahim. Dia membuka pembicaraan dengan bertanya mengapa Ibrahim begitu istimewa ? Sampai-sampai ia dijuluki sebagai kekasih Allah (KhalilulLah). Sampai-sampai dalam Al Quran disebutkan ia layak dijadikan sebagai uswatun hasanah (tokoh panutan) selain Rasulullah SAW. Dalam Al Qur’an kata-kata uswatun hasanah disebutkan dua kali, satu terkait dengan Rasulullah Muhammad SAW dan satu lagi terkait dengan Ibrahim AS. Apa yang menjadikan Ibrahim disebut sebagai umat ? Walaupun ia seorang diri. Bagaimana ia menjadi induk pemikiran bagi generasi-generasi selanjutnya ?

Al Akh itu menyampaikan kata kunci yang diberikan dalam Al Qur’an untuk mensifati karakter Ibrahim itu adalah al bara’. Kemampuan untuk melepaskan diri dari dominasi selain Allah. Cinta Ibrahim kepada Allah mengatasi semua hal. Itulah yang menjadikan Ibrahim besar. Dan Allah menyebut dia sebagai kekasih (khalil).

Lingkungan keluarga dan masyarakat Ibrahim penuh dengan praktek paganisme (keberhalaan). Tetapi sedari muda Ibrahim sudah memperlihatkan karakter tauhid. Tauhid kepada Allah membuatnya bertanya-tanya kepada masyarakatnya, “kenapa mereka menyembah berhala yang tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia ?” Masyarakat dan keluaganya tidak mempengaruhi keyakinannya. Bahkan karena tauhid itu ia kemudian dibakar dan terusir dari negerinya. Keluarga, masyarakat, tanah-air tidak mampu mendominasi dirinya. Karena ia menyerahkan diri kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Ketika usia sudah semakin menua. Wajarlah jika ia berharap keturunan, sementara istrinya (Sarah )mandul. Kemudian dia menikah lagi dengan Hajar. Hajar kemudian melahirkan Ismail. Di tengah kegembiraan itu turunlah ujian dari Allah agar menempatkan anak dan istrinya itu di satu tempat yang sangat jauh, gersang dan tanpa penghuni. Hajar bertanya kenapa dia ditinggalkan di sini. Bertanya ia sampai tiga kali. Ibrahim diam. Baru kemudian Hajar menanyakan apakah ini perintah Allah ? Ibrahim menjawab ya. Bahkan istri-nya tidak dapat mendomininasi diri Ibrahim. Karena hanya kepada Allah ia telah mengarahkan wajah-nya dengan lurus sebagai seorang muslim.

Ismail kemudian tumbuh dewasa. Hati seorang ayah tentu amat gembira. Dalam kegembiraan seperti itu datanglah ujian dari Allah. Ibrahim mesti menyembelih anaknya, Ismail. Ibrahim mengatakan kepada Ismail perintah Allah ini. Sang anak mempersilahkannya. Kemudian ketika penyembelihan itu akan segera dilangsungkan, Allah mengganti kurban itu dengan seekor domba. Ya, bahkan anak-pun tidak mampu mendominasi kesadaran Ibrahim. Karena sesungguhnya solatnya, ibadahnya, hidup dan matinya hanya untuk Allah semata-mata.

Begitulah Ibrahim menjadi besar dengan kemampuannya berlepas diri dari dominasi hiasan-hiasan kehidupan dunia. Cintanya kepada Allah melampaui kecintaannya kepada semuanya. Dan Allah-pun membalas cinta Ibrahim itu. Dijadikan-Nya Ibrahim sebagai khalil-Nya. Dijadikan-Nya Ibrahim sebagai imam. Dijadikan-Nya pula praktek-praktek keislaman Ibrahim, kejadian-kejadian terkait dengan dirinya sebagai syi’ar-syi’ar ibadah bagai generasi selanjutnya. Demikianlah kita mendapati haji, tawaf, sa’i, qurban, tahalul dsb.

Bulan ini adalah bulan haji. Menyebut haji pasti mengingat nama Ibrahim. Ibrahim bapak para nabi (abul anbiya). Ibrahim prototipe manusia muslim yang menjadi panutan bagi semua muslim sedunia.

Dengarlah dendang syair Snada ini. “Belajar dari Ibrahim, belajar taqwa kepada Allah.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s