Tafsir Imani Atas Realitas, Telaah Pemikiran Muhammad Qutb

Jahiliyah Modern
Muhammad Qutb menyebut peradaban Barat modern (beserta dunia modern yang dibentuknya) sebagai jahiliyah modern. Apakah yang dimaksud dengan jahiliyah ? Jahiliyah adalah jahl (ketidaktahuan atau kebodohan) terhadap uluhiyah Allah dan jahl (prilaku tidak disiplin) terhadap amal-amal yang digariskan oleh Allah (dalam syari’ah-Nya). Dengan ukuran ini, bagi Muhammad Qutb, fenomena peradaban modern layak disebut sebagai jahiliyah. Dalam standar pengertian ini, jahiliyah tidak terkait dengan kemajuan material atau ilmu dan teknologi. Adalah dimungkinkan sebuah sistem jahiliyah menggenggam kemajuan material, sebagaimana termanifestasi dalam sejarah dan dunia modern.

Melacak akar-akar darimana peradaban Barat modern (jahiliyah modern) tumbuh dan berkembang, M. Qutb menyebutkan beberapa akar peradaban yang memberi kontribusi. Peradaban Barat modern berakar pada peradaban Greeco-Raman (Yunani-Romawi), peradaban Eropa abad pertengahan dan Peradaban Islam. Dari peradaban Greeco-Roman mendapat atau mengambil semangat rasionalisme, sensualisme (paham keindahan inderawi manusia), paradigma mitologis untuk menafsirkan problem-problem metafisis tentang tuhan, alam dan manusia (Qutb menyebutkan mitologi Prometheus sebagai contoh), juga watak imperialisme peradaban. Dari Kristianitas sebagaimana terefleksi dalam sejarah Eropa abad pertengahan, jahiliyah modern mendapat warisan etika-kristiani. Peradaban Islam, walaupun banyak yang tidak mengakui, melalui perjumpaan intelektual ataupun perjumpaan politik menyumbangkan aspek metode ilmiah bagi peradaban Barat.

Ideologi Evolusi
Tampilan dan performance peradaban Barat modern selanjutnya (sebagaimana terefleksi pada sejarah abad kedua puluh dan abad sekarang) dalam pandangan M. Qutb mendapatkan ide penggeraknya dari ideologi evolusi. Ideologi evolusi ini membentuk kesadaran elite intelektual, dan kemudian masyarakat umum, tentang tidak adanya hal permanen dalam kehidupan, semuanya dalam kondisi bergerak (berevolusi). Ideologi ini mendapatkan basis materialnya pada teori evolusi Darwin. Teori evolusi Darwin memberi basis bagi penafsiran materialistik terhadap asal-usul manusia, substansi manusia dan kehidupan manusia baik sebagai pribadi atau masyarakat.

Teori-teori yang muncul selanjutnya menggunakan basis materialistik ini untuk menafsirkan sisi-sisi selanjutnya. Elaborasi selanjutnya dilakukan oleh trio Yahudi, sebagaimana M. Qutb menyebutnya; Marx, Durkheim dan Freud. Melalui interpretasi materialistik atas sejarah, Marx menggambarkan bahwa sejarah manusia (kehidupannya) ditentukan oleh perubahan alat produksinya. Sistem sosial ataupun pemikiran (termasuk agama) sangat bergantung dengan tipikal alat-alat produksi yang digunakan manusia. Infrastruktur menentukan suprakstruktur kehidupan manusia. Atau dalam bahasa M. Qutb, sejarah manusia dalam pandangan Marx adalah sejarah tentang perut manusia. Durkheim mengembangkan ide sosiologis tentang determinasi masyarakat (akal kolektif) atas diri individu. Freud menjadikan manusia, secara individu, tidak lebih dari tawanan naluri seks-nya. Semua perilaku seseorang bisa dikembalikan akarnya ke dalam keinginan seksualnya.

Betemu dengan kenyataan sosial ekonomi yang terbentuk melalui revolusi industri, Ide-ide ini kemudian membentuk iklim intelektual kemudian ditransmisikan melalui media informasi (cetak dan elektronik) ke dalam masyarakat. Penolakan terhadap agama atau minimal mengkarantina agama pada wilayah individu, ide kebebasan atau liberalisasi seks, dan ide emansipasi liberal perempuan yang muncul di zaman modern ini adalah manifestasi dari ideologi evolusi itu. Selanjutnya, M. Qutb menegaskan ideologi inilah yang kemudian menjadikan jahiliyah modern mengalami krisis dan kerusakan. Tergerusnya agama, berantakannya keluarga, kerusakan moral, alkolisme dan kriminalitas adalah manifestasi krisis itu.

Fitrah
Bagi Muhammad Qutb, parameter bagi ketepatan atau kerusakan sebuah peradaban atau sistem kehidupan haruslah diukur dari sisi fitrah kehidupan manusia. Fitrah inilah yang menjadi basis bagi penilaian. Fitrah ini juga yang menjadi basis bagi kritik terhadap jahiliyah modern. Fitrah bisa didefinisikan secara deskriptif sebagai kencenderungan-kecenderungan dan kebutuhan-kebutahan mendasar bagi manusia yang pemenuhannya menggariskan keutuhan eksistensinya sebagai manusia. Perubahan-perubahan yang diafirmasi oleh ideologi evolusi tidaklah mengubah fitrah manusia. Cara pemenuhan mungkin mengalami perkembangan tetapi kebutuhan fitrah adalah permanen. Bagi M. Qutb, kesalahan utama ideologi evolusi adalah tidak membedakan perkembangan sosial-material dengan perkembangan psiko-moral manusia. Alat produksi, teknologi dan bentuk masyarakat memang berkembang secara linear positif. Tetapi kondisi psikologis dan moral manusia tidak mesti berkembang secara linear, tetapi dia mengalami siklus (bisa naik dan bisa turun). Sejarah menjadi dalil bagi adanya hal-hal yang tetap dan berubah dalam kehidupan manusia. M. Qutb, mencontohkan ide liberalisme seks tidaklah muncul di zaman modern saja tetapi juga telah muncul di zaman Yunani-Romawi kuno dulu. Jadi tidak bisa dikatakan liberalisme seks ini adalah proses positif zaman ini, karena penilaian moral bisa baik dan buruk tidak terkait dengan zamannya.

Aspek-aspek permanen dalam kehidupan manusia selanjutnya dielaborasi oleh Muhammad Qutb melalui penafsirannya terhadap Al Qur’an surat An Nisa ayat pertama dan pengetahuan sejarah. Aspek pertama adalah kebutuhan terhadap agama (pengetahuan yang tepat tentang Allah dan ibadah kepada-Nya). Aspek kedua adalah kesamaan jiwa kemanusiaan (nafs wahidah). Ketiga adalah hubungan gender yang muncul dari kesamaan jiwa kemanusiaan itu. Dan keempat adalah relasi kemasyarakatan yang juga muncul dari kesatuan jiwa kemanusiaan itu. Peran Islam kemudian bagi fitrah ini adalah memberikan bimbingan dan arahan baginya tanpa menghancurkan atau melepaskannya bebas-bebas (anarkis), karena dalam jiwa manusia memiliki ambivalensi positif dan negatif. Inilah peran Islam sebagai dienul fitrah.

Tafsir Imani Atas Realitas
Bagaimana menjelaskan munculnya kemajuan peradaban Barat modern sedangkan mereka menganut jahiliyah ? Penilaian jahiliyah tidak terkait dengan kemajuan material. Kemajuan, berupa penguasaan atas dunia, merupakan hal yang diberikan kepada peradaban manapun tidak terkait dengan Islam atau bukan (jahiliyah). Kemajuan material memiliki sunnah-nya sendiri. Demikian pula keruntuhan sebuah peradaban, memiliki sunnah-nya sendiri. Tetapi sunnah-sunnah itu memiliki keterkaitan, yang dapat dipahami dari perspektif yang luas. Peradaban yang berakar pada kebatilan tetap akan mengalami keruntuhan. Mengenai waktu, tidak bisa dipastikan kapan, ini adalah rahasia Allah. Kemajuan dan kekuasaan peradaban bathil bisa bertahan bisa karena pemberian waktu tangguh, yang bisa beratus-ratus tahun, sebelum kehancurannya. Bisa pula karena belum munculnya kekuatan alternatif yang bisa memberikan perimbangan dan menggantikannya.

Terlepas dari kemajuan dan kekuasaan jahiliyah atau peradaban modern, ada dua hal yang tidak mungkin dicapainya, tersebab dari akar metafisisnya yang salah, yaitu ketenangan dan keberkahan. Hilangnya ketenangan adalah pajak yang mesti dibayar karena kesalahan ideologinya. Demikian pula dengan keberkahan; relasi yang menghubungkan banyak bagian bermanfaat dan memberi kebaikan.

Pada pandangan Muhammad Qutb, peta perimbangan kekuatan masa kini dan masa depan ada pada tiga aktor utama. Peradaban barat modern (dengan representasi Eropa dan Amerika, serta negeri-negeri timur berputar pada orbit peradabannya) yang berakar pada peradaban greeco-roman-kristen. Aktor kedua adalah yahudi internasional yang memanfaatkan momen-momen tertentu dalam sejarah untuk kepentingannya. Dan terakhir umat Islam, dimana geliat kebangkitan tengah muncul. Khusus mengenai yahudi internasional, dominasinya atas dunia tidaklah sedeterminatif yang banyak dibayangkan orang. Peran dan pengaruh mereka ada dan perlu diwaspadai, tetapi menjadikan mereka faktor determinatif adalah tidak tepat. Kemampuan mereka, dalam pandang M. Qutb, terletak pada kemampuan mereka memanfaatkan atau mengeksploitasipenemuan-penemuan intelektual atau momentum sejarah atau momentum politik bagi kepentingan mereka.

Wallahu A’lam

Catatan Rujukan
Buku-buku Muhammad Qutb termasuk yang banyak diterbitkan terjemahannya di Indonesia. Jahiliyah Modern diterbitkan oleh Pustakan Salman Bandung, juga buku Salah Paham Terhadap Islam. Mizan menerbitkan dengan judul Jahiliyah Abad Dua Puluh. Kritik Muhammad Qutb terhadap ideologi evolusi diterbitkan Al Ikhlas Surabaya dengan judul Evolusi Moral. Rekonstruksinya terhadap penulisan sejarah diterbitkan GIP dengan judul Perlukah Menulis Ulang Sejarah Islam ? Penafsirannya terhadap dunia kontemporer diterbitkan SIDIK, Tafsir Islam Atas Realitas.

Selain itu Muslimkah Kita ? diterbitkan Firdaus. Koreksi Atas Pemahaman La Ilaha Illallah dan Koreksi Atas Pemahaman Ibadah diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar. La Ilaha Illallah Sebagai Sistem Kehidupan diterbitkan Robbani Press. Sistem Pendidikan Islam diterbitkan oleh Al Ma’arif Bandung. Beberapa penerbit juga menerbitkan terjemahan Qabasun Min Ar Rasul (Tafsir Hadist).

One thought on “Tafsir Imani Atas Realitas, Telaah Pemikiran Muhammad Qutb

  1. Pingback: Dialektika Islam dan Jahiliyah, Tafsir Imani Atas Sejarah « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s