Filosofi Perubahan Sosial Jaudat Said

Innallaha la yughairu ma biqaumin hatta yughairu ma bi anfusihim
Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada satu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS Ar Ra’d : 11)

Ayat di atas telah menjadi semboyan bagi banyak gerakan kebangkitan kembali umat Islam. Dari penafsiran atas ayat di atas filosofi perubahan sosial yang dikemukakan Jaudat Said (Jawdat Said) diturunkan.

Filosofi Perubahan Sosial
Sunnah (Hukum, Pola) Sosial
Aksioma pertama dalam memahami perubahan sosial adalah perubahan sosial itu memiliki sunnah-sunnah atau kaidah, hukum dan pola yang universal. Sunnah-sunnah sosial ini berlaku secara universal, tidak bergantung dengan posisi keimanannya. Posisi keimanan ini membedakan pada bagaimana mereka mencari solusi bagi permasalahan yang ada. Kenyataan bahwa semesta ini telah ditundukkan (taskhir) bagi manusia oleh Allah membuat semesta ini bisa dikendalikan. Pengendalian atas semesta ini hanya bisa dilakukan jika kita memahami aturan, kaidah, hukum dan pola (sunnah) yang mengatur semesta ini. Sunnah-sunnah ini juga berlaku dalam kehidupan sosial umat manusia.

Sunnah –aturan, kaidah, pola – yang diacu oleh ayat di atas, menurut Jaudat Said adalah sunnah sosial (kemasyarakatan) bukan sunnah individual. Membedakan sunnah sosial dengan sunnah yang berlaku bagi individu ini Said mencatat sisi-sisi berikut; berlakunya sunnah sosial ini membutuhkan perimbangan kuantitatif dan kualitatif aktor sosialnya, pada level organisme keseimbangan internal mereka dikendalikan melalui mekanisme instingtif sedang pada level sosial keseimbangan mereka dikendalikan melalui mekanisme pemikiran (budaya), tanggung jawab sosial bersifat kolektif sedangkan tanggung jawab ukhrawi bersifat individual. Ayat perubahan di atas bagi Said berbicara pada level duniawi, maksudnya perubahan-perubahan yang dibicarakan terkait dengan perubahan yang berefek pada kehidupan duniawi, kehidupan sosial-masyarakat.

Mekanisme Perubahan
Jaudat Said menyatakan mekanisme perubahan dalam ayat di atas ada pada dua dimensi. Satu, pada apa yang berubah atas suatu kaum atau perubahan yang dilakukan oleh Allah. Dua, apa yang berubah pada diri (jiwa) kaum itu. Urutannya kemudian adalah perubahan yang menjadi tugas manusia (atas diri mereka) kemudian baru perubahan yang dilakukan Allah atas mereka. “Apa yang ada pada suatu kaum” yang menjadi poros perubahan yang dilakukan Allah SWT meliputi sehat dan sakit, kaya dan miskin, mulia dan hina-nya sebuah masyarakat. Mengacu pada surat Al Anfal (8) : 53, Said menyatakan “apa yang ada pada suatu kaum” ditafsirkan sebagai nikmat yang umum. Perubahan nikmat itu kemudian bisa bertambah atau berkurang / hilang.

Bidang perubahan yang menjadi bagian manusia, berdasarkan pada ayat di atas, adalah “perubahan pada jiwa (diri) mereka”. Apa yang ada pada “diri/jiwa” itu ? Merujuk pada ayat-ayat Al Qur’an yang lain, Said menegaskan jiwa atau diri manusia bisa dikotori juga bisa dibersihkan. Muatan utama jiwa atau diri itu adalah pemikiran. Perilaku seseorang dibentuk oleh pemikirannya.

Problematika Dunia Islam
Problem Pemikiran
Berdasarkan analisanya terhadap filosofi perubahan yang digambarkan dalam surat 13:11 itu, Jaudat Sa’id memberikan titik tekan problematika yang dihadapi oleh umat islam saat ini pada problem pemikiran. Sebab utama dari problem pemikiran itu terletak pada hilangnya visi atau pandangan terhadap berlakunya sunnah-sunnah yang mengatur kehidupan sosial sebuah umat. Hilangnya visi ini berakibat pada keangkuhan, kelalaian dan taqlid sosial yang menghentikan dinamika sosial umat.

Simptom dari problem ini, menurut Jaudat Said, bisa dirujukkan pada hilangnya iklim intelektual pada aktivis pergerakan. Banyak dari mereka yang memiliki kesiapan untuk mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah, tetapi sedikit sekali yang mau serius mengkaji dan mendalami isu-isu intelektual, studi dan mematangkan kajian. Sebab keengganan ini bisa muncul dari kurangnya apresiasi terhadap nilai pemikiran dan prioritasnya atas tindakan. Atau juga bisa karena tensi emosi yang kurang dibutuhkan bagi proses pendalaman dan kajian, juga perlunya kontinuitas yang konstan untuk melakukannya. Sehingga sebagiannya menganggap “yang penting amal” merupakan nilai yang lebih diutamakan.

Problem Amal
Problem pemikiran di atas memiliki imbas pula atas amal atau aktivitas tindakan umat. Untuk mendeskripsikan problem amal ini Jaudat Said mendefinisikan kualitas sebuah amal dari muatan yang membentuknya. Secara matematis kita bisa mendefinisikannya sebagai berikut, amal = iradah + qudrah. Aktivitas tindakan dibentuk dari kehendak dan kapasitas. Atau kita bisa mendekati dari penafsiran yang diberikan oleh Fudhail bin Iyadh ketika ditanya mengenai makna ahsanu ‘amala (amal yang ihsan) dalam surat Al Mulk ayat 2. Fudhail menjawab amal yang ihsan haruslah ikhlas dan shawab; ikhlas dan tepat. Ikhlas mengharapkan ridha Allah semata. Tepat menepati kesesuaian amalnya dengan sunnah Rasulullah. Jadi amal = ikhlas + shawab.

Karena rentang amal sangat panjang dan multidimensi, kita juga mendapati dua muatan yang paralel seperti diungkapkan di atas dalam bidang-bidang amal masing-masing. Lihat tabel berikut untuk memahami terminologi-terminologi yang paralel.

Iradah Qudrah Keterangan
Ikhlas Showab Penafsiran Fudhail Ibn Iyadh atas surat Al Mulk:2
Iyyakana’budu Iyyakanasta’in Ibadah dan Usaha
Adil Tsiqot Tidak cacat moral dan kuat hafalan (syarat rawi hadist)
Amanah Quwwah Karakter Nabi Musa sebagai pegawai 28:26
Hafidz Alim Karakter Nabi Yusuf sebagai Bendahara 12:55
Tujuan Sarana
Mengapa Bagaimana
Akhlak Ilmu
Motivasi Keahlian

Iradah, kehendak tumbuh dari adanya keteladanan dan berkembangnya potensi akal. Sedangkan kapasitas, qudrah tumbuh berkembang dengan berkembanya potesi akal. Semakin luas penguasaan ilmu seseorang semakin besar kapasitasnya untuk menyelesaikan permasalahan dengan ketepatan, akurasi, kecermatan.

Problem yang diderita umat Islam modern tidak pada hilangnya iradah, kehendak atau motivasi yang mendorongnya untuk beramal secara ikhlas mengharap ridha Allah semata-mata. Tetapi terletak pada hilangnya atau terlantarnya potensi akal (kapasitas, qudrah) mereka sehingga tidak mampu menyelesaikan permasalahan atau menyempurnakan amal mereka sehingga mencapai ketepatan dan kecermatan yang sesuai dengan standarnya. Jadi problemnya terletak pada sisi qudrah, kapasitas beserta terminologi-terminologi yang paralel sebagaimana dicantumkan dalam tabel di atas.

Simptom yang bisa kita rujuk untuk problem amal ini adalah pada ungkapan “yang penting kita sudah beramal, perkara berhasil atau tidak itu urusan Allah.” Pernyataan ini memiliki nilai kebenaran di satu sisi tetapi di sisi lain perlu dicermati. Pernyataan ini bisa menjadi alibi bagi tidak perlunya kita menentukan standar kesuksesan bagi sebuah amal atau tidak perlunya kita mempertimbangkan sisi-sisi keahlian, kecermatan, ilmu, ketepatan sarana atau kapasitas yang bisa menyempurnakan amal kita sehingga melahirkan kesuksesan, berhasil. Sehingga kualitas amal menjadi ala kadarnya atau serabutan tanpa parameter yang jelas tentang kualitasnya.

Catatan Rujukan
Meraih Masa Depan (terj. Hatta Yughairu Ma Bi Anfusihim) dan Bertindak Menurut Kehendak Ilahi (terj. Amal, Iradah wa Qudrah) diterbitkan oleh Pustaka Hidayah, Jakarta, 2002.

One thought on “Filosofi Perubahan Sosial Jaudat Said

  1. Pingback: Rekonstruksi Sejarah Kembalinya Al Quds Kepada Umat Islam, Studi Kasus Perubahan Sosial « Refleksi[Budi]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s