Refleksi Terhadap Risalah Dakwah Kami Di Zaman Baru Hasan Al Banna

Krisis yang dialami negeri ini membuat kran kebebasan terbuka. Kemudian bermunculanlah diagnosis dan alternatif pemecahan bagi permasalahan yang diderita. Maka ramailah bursa pemikiran di negeri ini. Adalah sebuah kebutuhan bagi setiap orang untuk mempersepsi dakwah ini secara terang. Terangnya tujuan dan metodologi pemecahan masalah akan membuat masyarakat menjadi penuh harap, cinta dan siap untuk merealisasikan dakwah tersebut. Penerangan tidaklah cukup dengan membangun retorika, pidato-pidato maupun agitasi massa semata, tetapi penerangan yang bertolak dari basis ilmiah, argumen ilmiah. Penting bagi kita untuk memahami karakter utama dakwah ini, karakter rabbaniyah ‘alamiyah dakwah, agar kita memiliki persepsi yang jelas dan argumentatif atasnya.

Rabbaniyyah

Poros utama dakwah ini adalah bagaimana manusia mengenal Tuhannya, bagaimana membangun ikatan transendetal dengan Allah SWT. Di atas ikatan inilah tegaklah spiritualitas yang mensucikan dan memuliakan kehidupan manusia. Saat ini begitu banyak manusia yang mengingkari penciptanya entah karena ateismenya atau karena pilihan agnostiknya. Hilangnya relasi transendetal ini membuat manusia jatuh ke cara pandang materialistik dalam hidupnya. Bahwa semuanya bermula dan berporos pada materi sebagai sebab awalnya, manusia semata makhluk materi, kehidupan ini harus dibangun dari dasar dan motif material, entah ekonomi atau naluri seksual, kemudian kemajuan pun adalah kemajuan material.

Kemajuan materi tidaklah identik dengan kebahagiaan hidup manusia. Pada taraf tertentu materialisme itu berubah menjadi tirani terhadap jiwa manusia. Tirani materialisme membuat jiwa manusia terperangkap dalam kehampaan dan kegersangan nirmakna. Manusia tercerabut dari dasar, pusat jiwanya (ruh).

Dakwah ini adalah dakwah Rabbaniyah.  Substansi rabbaniyah dakwah ini pada dasarnya adalah cinta kepada Allah.

Antara Pemikiran Metafisis dan Logika Ilmiah

Jatuhnya seseorang kepada materialisme bermula dari pola pemikirannya. Pola pemikiran umat manusia selama tidak terbimbing oleh wahyu akan jatuh ke dalam dua kemungkinan ini :

  1. Pemikiran yang penuh dengan khayalan metafisis, khurafat terhadap yang ghaib yang padanya disandarkan urusan kehidupan dan menafsiri sebab-sebab kejadian dunia.
  2. Pemikiran rasional materialistis yang menolak keberadaan yang ghaib diluar jangkauan indera dan akal. Pemikiran jenis ini banyak dianut manusia modern. Banyak di antara mereka berdasarkan keyakinan dasar ini menolak eksistensi Tuhan, kenabian, hari akhir dan ruh.

Dua cara berpikir di atas adalah bentuk kesalahan dan mencerminkan kelemahan manusia. Islam menegaskan bahwa realitas terdiri dari realitas ghaib dan realitas empirik (syahadah). Wahyu/ Iman memberikan putusan yang tegas, jelas dan final mengenai pengetahuan dan problem metafisis, gaib. Akal diformat untuk memikirkan ayat-ayat Allah baik yang Qurani maupun Kauni. Iman dan Aqal berinteraksi secara harmonis.

Kebangkitan Ruh : Iman, Kemuliaan dan Harapan
Sebuah gerakan dakwah tidak semata dilihat dari sisi lahiriah dan formal. Gerakan dakwah memiliki motivasi dan inspirasi spiritual bagi usaha meraih tujuan mereka. Dinamika batin yang menggerakkan, mengontrol dan memberi kekuatan untuk mewujudkan cita-cita.

Oleh karenanya hal mendasar yang harus diperhatikan dalam kerja dakwah adalah kebangkitan spiritual ini [kebangunan ruh, hidupnya hati dan ketajaman intuisi]. Dakwah ini menekankan pembinaan ruhani di atas operasionalisasi. Dakwah ini menginginkan terbangunnya jiwa-jiwa yang hidup, kuat dan tangguh; hati yang segar; jiwa yang optimis.

Jalan yang dibentangkan untuk mencapai itu adalah
a. Iman dengan keagungan risalah Islam
b. Bangga dalam memeluk Islam
c. Yakin dengan dukungan dan pertolongan Allah

Kebangkitan ruh harus berpengaruh nyata dalam kehidupan. Untuk ke sana harus didahului dengan kebangkitan amal. Amal pembentukan pribadi, keluarga dan masyarakat.

‘Alamiyah

Dakwah ini adalah dakwah universal karena ditujukan kepada seluruh umat manusia. Manusia pada asalnya adalah bersaudara. Semua manusia memiliki martabat yang sama. Sehingga rasialisme dan chauvinisme haruslah ditolak. Karakter ‘alamiyah [insaniah/kemanusiaan] dakwah ini memberikan kita perspektif untuk concern terhadap isu-isu kemanusiaan yang terjadi. Kemiskinan, kebodohan [kebutahurufan], kekerasan dan penindasan hak-hak asasi manusia, kelaparan dan bencana; merupakan bagian dari concern dakwah ini.

Apakah nasionalisme dalam konteks ini memiliki relevansi dengan dakwah kita ? Jawaban mengenai hal ini bisa dirujuk ke dalam risalah yang sekarang dibahas dan risalah-risalah lainnya. Pokok yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah aspek metodologis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Metode Hasan Al Banna menegaskan terlebih dahulu makna-makna yang dimaksud dari isu-isu yang ada, apakah nasionalisme, arabisme, internasionalisme/humanisme. Menegaskan penolakan terhadap sesuatu sebelum memahami makna yang dimaksud merupakan sikap terburu-buru. Dengan pemahaman terhadap makna yang dimaksud kita dapat memahami mana substansi yang perlu ditolak, mana yang memang merupakan concern kita karena memang bagian dari kebutuhan kemanusiaan atau perjuangan dakwah kita, atau penegasan penolakan total karena makna yang memang tidak ada interpretasi lain yang memang mengharuskan untuk ditolak [karena menerima salah satu bagiannya merupakan kontradiksi terhadap bangunan keyakinan dan pemikiran kita].

Dengan metodologi di atas kita bisa memahami bagaimana seharusnya kita bisa berinteraksi dengan isu-isu kontemporer, yang juga menjadi tantangan ummat kita, sebagaimana diungkapkan oleh Yusuf Qaradhawi. Qaradhawi menyebutkan tantangan-tantangan utama ummat di abad 21 ini. Berikut diantaranya yang terkait dengan komitmen ‘alamiyah/ insaniyah dari dakwah kita : tantangan keterbelakangan, pembangunan, keadilan sosial, perempuan, pemerintahan diktator, iman dan akhlak, globalisasi. Selain juga beliau menegaskan adanya tantangan identitas, referensi, zionisme dan faksionalisai umat.

[Tulisan ini merupakan refleksi tematis atas risalah yang ditulis oleh Hasan Al Banna. Risalah Dakwah Kami Di Zama Baru termuat di Risalah Pergerakan Jilid 1 terbitan Era Intermedia. Pernah disampaikan pada acara Ma’had Bawariq, Ahad 26 November 2006]

2 thoughts on “Refleksi Terhadap Risalah Dakwah Kami Di Zaman Baru Hasan Al Banna

  1. Pingback: Refleksi Risalah Hasan Al Banna, Dakwah Kami Di Zaman Baru « Refleksi[Budi]

  2. Pingback: Refleksi Risalah Hasan Al Banna, Dakwah Kami Di Zaman Baru « aliffirmansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s