Hijrah dan Kesadaran Sejarah

Islam bukan sekedar ajaran semata, baik dalam bentuk keyakinan maupun patokan moral. Islam mesti memantapkan dirinya dalam wujud yang nyata; dalam bentuk manusia (insan), negara (daulah) dan peradaban (hadharah). Dalam skema perubahan dari satu wujud ke wujud berikutnya, dari manusia menuju negara kemudian memulai sebuah peradaban, hijrah mendapatkan signifikansinya. Di Makkah ketika itu Islam telah menang dalam domain manusia. Tetapi manusia-manusia muslim ketika itu ibarat benih yang tidak memiliki pagar yang melindunginya. Daulah sebagai pagar kemudian perlu direncanakan kewujudannya. Hijrah adalah puncak perencanaan dan perjuangan untuk menegakkan kedaulatan muslim. Tertegaknya daulah itu kemudian menandai babak selanjutnya untuk membangun peradaban Islam.

Hijrah juga memberikan pemahaman kepada kita perspektif akan kesadaran historis. Sadar terhadap peran kepelakuan manusia dalam proses (perubahan) sejarah. Itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah dalam perencanaan hijrahnya. Ada pencarian jalur-jalur kausalitas manusiawi di sana. Ada jalur-jalur pencarian pertolongan ilahiyah di sana. Usaha dan doa berkombinasi dalam proses mensukseskan kerja sejarah itu (hijrah).

Tafsir kesejarahan, yang diilhami oleh sejarah hijrah, menafsirkan proses sejarah dari interaksi kepelakuan manusia, Allah dan sunnah kauniyah (kaidah-kaidah alamiah-sosial). Ada perencanaan dan pencarian sebab oleh manusia. Ada intervensi dan jawaban do’a dari Allah. Ada batasan-batasan alamiah dan sosial yang perlu ditaati (sebagaimana telah menjadi ketetapan Allah atas semesta dan kehidupan) yang perlu dipatuhi. Peristiwa hijrah menolak tafsir sejarah yang terlalu metafisis yang menghilangkan efektifitas kepelakuan manusia. Peristiwa hijrah juga menolak tafsir sejarah yang terlalu materialistis atasnya, bahwa sebab sejarah berpulang pada sebab material (ekonomis, tanah) semata.

Tanah tidak menjadi batasan yang deterministik terhadap manusia. Ada keyakinan yang lebih penting untuk diperjuangkan. Dalam skema sosiologis sebuah masyarakat yang terikat erat dengan tanah yang menjadi latar kehidupannya akan menjadi masyarakat yang statis. Sedangkan masyarakat yang dinamis memiliki keterikatan relatif terhadap tanah mereka. Migrasi-migrasi yang pernah dilakukan umat manusia sepanjang sejarah, justru banyak yang menghasilkan peradaban-peradaban baru. Itulah yang terjadi dengan migrasi orang-orang Eropa yang tertindas keyakinan agama mereka ketika mereka pindah Amerika. Amerika modern adalah bentukan mereka. Itulah yang terjadi dengan migrasi yang dilakukan atas tahanan-tahanan (kriminal atau bukan ?) Inggris ketika memindahkan mereka ke benua Australia, menjelmalah peradaban di Australia. Dari kenyataan sejarah ini kita bisa mengapresiasi kenapa Umar bin Khatab menjadikan peristiwa hijrah sebagai titik tolak menentukan penanggalan Islam.

Rujukan
Imadudin Khalil, Ismail Raji’ Al Faruqi, Ali Syariati

[Ditulis hari ini, saat awan duka menyelimuti Palestina, semoga Allah meneguhkan hati-hati muslim Palestina]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s